Beranda Opini Ketika Jempol Lebih Lincah dari Pikiran

Ketika Jempol Lebih Lincah dari Pikiran

BERBAGI
Ist. Jamalidiana [AM]/DETaK

Opini | DETaK

Di tengah riuh notifikasi, denting pesan WhatsApp, dan sorotan layar yang tak pernah padam, buku kian kehilangan tempat di hati banyak orang. Di Aceh, yang dikenal sebagai Serambi Mekkah dan gudang ilmu pada masa lalu, kini tengah menghadapi krisis literasi yang serius. Anak-anak lebih hafal nama-nama influencer daripada tokoh pahlawan, dan remaja lebih betah menggulir layar TikTok berjam-jam dibanding membaca dua halaman buku. Sebuah ironi di tengah zaman yang katanya “serba pintar”.

Menurut data PISA (Programme for International Student Assessment) tahun 2023, tingkat literasi membaca siswa Indonesia masih berada di posisi bawah, yakni peringkat 69 dari 81 negara. Di Aceh, kondisi ini tampak lebih parah. Berdasarkan laporan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh tahun 2024, rata-rata minat baca masyarakat Aceh hanya 0,001 persen, artinya hanya satu dari seribu orang yang benar-benar punya kebiasaan membaca buku setiap hari. Di sisi lain, pengguna internet di Aceh mencapai lebih dari 80 persen, dan lebih dari separuhnya menghabiskan waktu lebih dari 5 jam per hari di depan gawai.

Iklan Souvenir DETaK

Gawai, yang sejatinya diciptakan untuk mempermudah akses informasi, justru berubah menjadi candu baru yang menggerogoti semangat belajar. Ia menggantikan peran buku, bukan karena lebih bermanfaat, tapi karena lebih memanjakan. Anak-anak kini belajar dari algoritma, bukan dari pengalaman. Mereka mengenal dunia melalui potongan video berdurasi 30 detik, bukan dari halaman buku yang menuntut kesabaran dan daya pikir.

Lebih ironis lagi, budaya membaca di rumah nyaris tak terbentuk. Banyak orang tua memberi anaknya ponsel di usia yang terlalu dini, tapi jarang mengajaknya membaca buku cerita sebelum tidur. Buku kalah dari game dan drama Korea; kalah dari kecepatan, warna, dan sensasi yang ditawarkan dunia digital. Padahal, literasi sejati bukan sekadar kemampuan membaca huruf, tapi kemampuan memahami makna, menalar, dan berpikir kritis.

Sebagai seorang pegiat literasi, saya sering melihat fenomena ini secara langsung. Di Taman Baca Masyarakat (TBM) Pondok Baca Al-Munawwarah, tempat saya berkegiatan, banyak anak yang datang bukan untuk membaca, melainkan untuk meminjam Wifi. Ketika saya tanya, “Kenapa tidak baca buku dulu?” mereka menjawab polos, “Baca capek, Kak.” Kalimat sederhana tapi menyayat hati karena dari sana kita tahu bahwa generasi kita bukan tak punya waktu, tapi kehilangan minat.

Namun menyalahkan anak-anak saja tentu tidak adil. Mereka hanyalah cermin dari dunia yang kita bangun. Kita, para orang dewasa, juga sering menjadi bagian dari masalah. Berapa banyak guru yang hanya memberi tugas membaca tanpa menumbuhkan rasa ingin tahu? Berapa banyak orang tua yang menuntut anak belajar, tapi tak pernah menunjukkan contoh membaca? Dan berapa banyak pejabat yang berbicara tentang pentingnya literasi, tapi tak pernah mengunjungi perpustakaan di daerahnya sendiri?

Krisis literasi di Aceh bukan sekadar soal malas membaca. Ia adalah krisis budaya, krisis kebiasaan, bahkan krisis keteladanan. Masyarakat yang gemar membaca akan tumbuh menjadi masyarakat yang kritis, mampu membedakan fakta dan hoaks, serta punya pandangan luas terhadap dunia. Tanpa literasi, kita mudah disetir, mudah terprovokasi, dan kehilangan arah dalam arus informasi yang kian deras.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan?
Pertama, mulailah dari rumah. Ciptakan lingkungan yang bersahabat dengan buku. Bacakan cerita pada anak sejak dini. Jadikan buku sebagai hadiah, bukan hukuman. Anak yang tumbuh di rumah yang penuh buku akan lebih mudah mencintai ilmu.

Kedua, reformasi cara belajar di sekolah. Guru perlu mengubah pendekatan dari sekadar “menyuruh membaca” menjadi “menghidupkan bacaan”. Biarkan anak mendiskusikan isi buku, menulis kembali dengan gaya mereka sendiri, atau membuat video pendek dari buku yang dibaca. Dunia digital bukan musuh, melainkan alat yang bisa kita manfaatkan untuk menumbuhkan literasi kreatif.

Ketiga, perkuat peran taman baca dan perpustakaan desa. TBM bukan sekadar tempat menyimpan buku, tapi pusat gerakan sosial yang bisa menumbuhkan semangat baca di masyarakat. Pemerintah daerah dan masyarakat perlu melihat mereka bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai garda depan perubahan.

Dan yang paling penting, jadilah teladan. Anak-anak belajar bukan dari kata-kata, tapi dari contoh. Jika kita ingin generasi yang cinta buku, maka kitalah yang harus mulai membuka halaman pertama.

Kita mungkin tak bisa menghentikan derasnya arus teknologi, tapi kita bisa menyeimbangkannya dengan membangun budaya literasi yang kuat. Gawai memang penting, tapi buku lebih berharga. Gawai memberi hiburan, buku memberi arah. Gawai menyalakan layar, buku menyalakan pikiran.

Kini, saatnya kita bertanya: apakah kita ingin generasi yang hanya pandai mengetik komentar di layar, atau generasi yang mampu menulis sejarahnya sendiri dengan pena dan gagasan? Pilihan itu ada di tangan kita, di antara jempol yang sibuk menggulir layar, dan pikiran yang seharusnya tetap tajam membaca dunia.

Penulis bernama Jamalidiana, Mahasiswi program studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala.

Editor : Rimaya Romaito Br Siagian