Opini | DETaK
Beberapa waktu terakhir, dunia dibuat terkejut dengan kabar yang terdengar tak lazim, pemilihan perdana menteri Nepal dikabarkan melalui aplikasi Discord. Tentunya bagi banyak orang hal ini terdengar aneh. Discord hanyalah aplikasi obrolan daring tempat anak muda terutama Gen Z berkomunikasi mengenai game, membentuk komunitas, dan sekedar nongkrong virtual. Namun, platform ini dipakai oleh Gen Z untuk urusan politik tertinggi sebuah negara.
Apa itu Discord?

Discord merupakan aplikasi komunikasi berbasis komunitas yang awalnya populer di kalangan gamers. Kemudian, platform ini berkembang menjadi ruang virtual tempat anak muda berkumpul, berdiskusi, hingga membentuk komunitas dengan berbagai minat. Fitur-fitur seperti obrolan teks, suara, hingga video call membuat Discord terasa seperti gabungan WhatsApp, Zoom, dan forum diskusi dalam satu aplikasi. Karena sifatnya yang fleksibel dan dekat dengan keseharian Gen Z, tidak heran jika Discord dipilih sebagai alat pemilihan perdana menteri di Nepal.
Awal mula Gen Z menggunakan Discord untuk Memilih PM Baru Nepal
Sebelum terjadinya demo, pemerintah Nepal telah membuat beberapa kebijakan yang dianggap merugikan banyak pihak termasuk Gen Z seperti pemblokiran media sosial. Sekitar 26 aplikasi media sosial diblokir. Dengan adanya pemblokiran tersebut, mereka menjadi kesulitan untuk menyampaikan pendapatnya sehingga mereka mengelar demonstrasi menuntut perdana menteri Nepal K.P Sharma Oli untuk turun dari jabatannya. Tidak lama setelah itu, K.P Sharma Oli resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai perdana menteri Nepal.
Setelah mundurnya K.P Sharma Oli, aturan mengenai pemblokiran media sosial resmi dicabut dan kekosongan kursi jabatan pemerintahan juga terjadi. Gen Z menginginkan adanya perdana menteri sementara untuk mengisi kekosongan tersebut. Discord digunakan sebagai media alternatif untuk berdiskusi tentang siapa yang pantas memimpin negara. Kemudian, mereka mengambil langkah untuk membangun saluran Discord “Youth Against Corruption” berisi ribuan anggota. Setelah melalui diskusi dan polling, mereka menentukan nama Sushila Karki sebagai perdana menteri sementara pertama melalui Discord
Menurut saya, Gen Z menjadikan Discord sebagai alternatif yang lebih aman dan fleksibel walaupun Discord bukanlah ruang politik, melainkan hanya aplikasi nongkrong virtual untuk para gamer. Discord juga memiliki ruang diskusi lebih serius dan fokus sehingga Gen Z dapat berdiskusi mengenai politik di negaranya.
Pro dan Kontra Pemilihan Perdana Menteri via Discord
Inovasi politik Gen Z menimbulkan pro dan kontra. Sebagian masyarakat menilai langkah ini kreatif, sementara sebagian lain menganggapnya sebagai bentuk ketidakseriusan. Ironinya, penggunaan Discord justru memunculkan pertanyaan: apakah proses politik ini benar-benar dijalankan dengan transparan, atau sekadar gimmick untuk menarik perhatian?
Dalam pandangan saya, langkah ini memang tidak sah secara hukum. Konstitusi, prosedur, serta aspek legitimasi politik tidak bisa diabaikan begitu saja. Jika prosedur hukum diabaikan, demokrasi bisa kehilangan makna dan kepercayaan publik bisa runtuh. Namun, di sisi lain, justru inilah kekuatan gerakan Gen Z. Mereka ingin membuktikan bahwa politik tidak harus selalu berlangsung di gedung parlemen. Politik bisa lahir dari ruang virtual, forum digital, bahkan polling Discord.
Pemilihan perdana menteri via Discord memiliki banyak risiko. Legitimasi hasil voting bisa dipertanyakan, manipulasi suara tetap mungkin terjadi, dan keamanan data tidak selalu terjamin. Namun, saya melihat apa yang dilakukan Gen Z Nepal adalah bentuk protes terhadap sistem lama yang gagal mewakili aspirasi mereka.
Meski penuh kritik, fenomena ini menyimpan pesan penting. Menurut saya, anak muda Nepal sedang menunjukkan bahwa mereka ingin terlibat dalam politik, hanya saja dengan cara yang lebih sesuai dengan zaman mereka. Ketika demokrasi tidak memberi ruang bagi generasi ini, Discord dan platform serupa akan semakin menarik sebagai wadah partisipasi politik.
Dalam pandangan saya, kita perlu melihat fenomena ini bukan semata-mata sebagai “lelucon politik,” tetapi sebagai tanda perubahan arah. Gen Z sedang mendobrak tembok yang membatasi mereka. Bagi saya, politik tidak lagi dilakukan oleh elit atau terbatas pada institusi formal, melainkan bisa lahir dari media digital.
Tentu saja, bukan berarti pemilihan via Discord bisa dijadikan cara permanen bagi negara. Akan berbahaya jika praktik ini dilembagakan tanpa regulasi dan mekanisme verifikasi yang kuat. Tetapi dalam konteks Nepal, fenomena ini lebih tepat dilihat sebagai wake-up call bagi pemerintah sehingga Gen Z tidak bisa lagi diabaikan.
Pemilihan perdana menteri Nepal via Discord mungkin terdengar aneh, bahkan ironis. Namun, justru di situlah letak pelajarannya. Demokrasi tidak boleh berhenti beradaptasi akan tetapi harus mengikuti perkembangan zaman. Dalam pandangan saya, Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa situasi politik dapat berubah-ubah. Seperti yang dilakukan Gen Z di Nepal. Politik tidak lagi melalui rapat di ruang parlemen tapi bisa dilakukan di mana saja secara virtual. Gen Z sedang menunjukkan arah baru, meski jalan yang ditempuh masih berliku.
Penulis bernama M. Azkal Azkiya, Mahasiswa Fakultas Hukum, Prodi Ilmu Hukum, Universitas Syiah Kuala
Editor: Khalisha Munabirah










