Opini | DETaK
Animasi “Merah Putih: One for All” yang di produksi oleh Perfiki Kreasindo telah menjadi perbincangan hangat di kalangan publik terutama karena kontroversi yang menyelimuti kualitas visualnya. Nama-nama seperti Toto Soegriwo sebagai produser dan Bintang Takari serta Endrianto sebagai sutradara, film ini di kabarkan menelan biaya produksi yang fantastis yaitu sekitar 6,7 sampai 15 miliar. Angka ini tentu saja menempatkan film ini dalam kategori produksi mahal di kancah animasi Indonesia. Namun, alih alih mendapatkan pujian, film ini justru dipenuhi kritik yang menyoroti ketidaksesuaian antara anggaran yang terbilang besar dengan hasil yang kurang memuaskan dan dinilai jauh di bawah standar.
Secara umum, film ini memiliki kelebihan yang patut di apresiasi yaitu mereka mengangkat tema nasionalisme dan persatuan. Animasi in berfokus pada cerita kebangsaan yang sangat penting. Cerita ini mengisahkan tentang sekelompok anak dari berbagai daerah di Indonesia mulai dari Betawi hingga Papua yang bekerja sama untuk sebuah misi besar yaitu mengibarkan bendera merah putih. Pesan moral tentang persahabatan, kerja sama, dan persatuan dalam keberagaman sangatlah relevan dan penting untuk ditanamkan, terutama kepada generasi muda. Tema seperti ini memiliki potensi untuk menginspirasi dan menumbuhkan rasa cinta tanah air. Namun sayangnya, niat baik tersebut tidak didukung oleh eksek usi yang sepadan.

Fokus utama kritik publik terletak pada kekurangan yang sangat mendasar, yaitu kualitas animasi gambar yang kurang baik. Banyak penonton merasa tertipu oleh klaim anggaran yang besar. Dengan dana sebesar itu, publik berharap animasi yang halus,detail, dan setara dengan film film animasi internasional,atau setidaknya sebanding dengan film film animasi lokal lainyang di buat dengan biaya lebih rendah naun memiliki kualitas yang sangat bagus.
Namun, kenyataannya jauh dari ekspektasi. Gerakan karakter yang kaku, desain karakter yang terlihat tidak konsisten dan tidak detail, penggunaan bahasa asing pada judul, serta rendering yang terkesan buram dan kasar membuat film ini terlihat seperti proyek tugas mahasiswa atau film animasi amatir. Ada adegan adegan yang bahkan terlihat seperti cutscane dari vidio game era 2000-an. Ketidakcocokan antara kualitas dan besarnya biaya produksi ini adalah inti dari kekecewaan publik.
Kekurangan ini semakin di perparah dengan dugaan penggunaan aset 3D siap pakai dari platform daring. Beberapa warganet berhasil menemukan model karakter dan latar belakang yang sangat mirip dengan yang dijual di toko toko aset digital, seperti Reallusion. Penggunaan aset siap pakai dalam proyek animasi bukanlah hal yang terlarang. Banyak studio animasi besar pun menggunakannya untuk efisiensi waktu dan biaya. Kemudian muncul ketik aset tersebut digunakan tanpa modifikasi yang memadai dan dengan kualitas yang tidak konsisten sementara anggaran yang diklaim sangat besar. Jika sebagian besar aset visual berasal dari sumber siap pakai, publik berhak mempertanyakan kemana sisa miliaran rupiah lainnya dialokasikan. Hal ini menimbulkan dugaan mengenai manajemen dana yang tidak transparan atau bahkan salah alokasi.
Selain isu teknis, respon dari pihak produser juga menjadi sorotan. Alih alih memberikan klarifikasi yang profesional dan meyakinkan, produser Toto Soegriwo justru memberikan tanggapan yang terkesan santai dan defensif, bahkan menyindir balik para kritikus. Sikap in di nilai tidak profesional dan justru memperburuk citra film serta tim di mata publik. Tanggapan seperti itu seolah olah menganggap remeh kritik yang datang dari penonton dan para profesional industri yang peduli dengan perkembangan animasi Indonesia.
Secara keseluruhan, “Merah Putih: One For All” adalah kasus yang unik dan penting untuk dipelajari dalam industri kreatif Indonesia. Film ini memiliki kelebihan yang kuat dalam hal tema dan pesan moral yang di angkat. Tetapi niat baik tersebut tertutup oleh eksekusi yang buruk terutama dalam kualitas animasi yang ironisnya tidak sesuai dengan anggaran yang fantastis.
Kesenjangan ini menimbulkan pertanyaan etika, profesionalisme, dan tranparansi dalam sebuah proyek kreatif, Film ini menjadi bentuk kecewaan kebanyakan publik bahwa modal besar saja tidak cukup. Namun, Dibutuhkan juga keahlian, dedikasi, dan akuntabilitas yang tinggi untuk menghasilkan sebuah karya yang tidak hanya memiliki pesan yang baik, tetapi juga kualitas yang dapat dibanggakan. Kasus ini berpotensi memberikan dampak negatif pada kepercayaan publik terhadap film animasi lokal, dan semoga dengan banyaknya kekecewaan publik terhadap animasi ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi para pembuat film di masa depan.
Penulis bernama Selvi Dianingsih, Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Amirah Nurlija Zabrina










