Opini | DETaK
Belakangan ini, media sosial ramai dengan berita tentang orang-orang yang menunaikan ibadah haji dengan cara yang tidak biasa. Beberapa memilih berjalan kaki, bersepeda, bahkan menggunakan perahu kecil atau rakit untuk menempuh perjalanan menuju Mekkah. Fenomena ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat, terutama dalam hal motivasi dan keamanan para pelaku perjalanan ini. Hal seperti ini tentu merupakan motivasi dibalik perjalanan ekstrem bagi sebagian orang, perjalanan haji yang panjang dan penuh tantangan ini dianggap sebagai bentuk pengorbanan dan pembuktian kesungguhan dalam menjalankan ibadah.
Mereka percaya bahwa dengan menempuh perjalanan darat atau laut, mereka bisa merasakan pengalaman spiritual yang lebih mendalam. Tidak sedikit yang terinspirasi oleh kisah para leluhur yang dahulu pergi haji dengan cara serupa sebelum adanya teknologi transportasi modern. Namun, di sisi lain, ada juga yang mempertanyakan keaslian niat para pelaku perjalanan ini. Di era media sosial, di mana eksistensi seseorang kerap diukur dari jumlah pengikut dan tayangan, tak sedikit yang menduga bahwa fenomena ini juga dipicu oleh keinginan untuk viral. Dokumentasi perjalanan ekstrem ini sering kali diunggah secara berkala, menarik perhatian publik dan menimbulkan spekulasi mengenai apakah tindakan tersebut dilakukan demi konten semata atau benar-benar sebagai bentuk ibadah.

Fenomena ini juga menjadi perbincangan di kalangan ulama dan ahli agama. Sebagian menilai bahwa naik haji dengan cara ekstrem ini tidak sesuai dengan prinsip Islam yang mengutamakan kemudahan dalam ibadah. Dalam ajaran Islam, umat dianjurkan untuk tidak menyulitkan diri sendiri dalam beribadah, terlebih jika berisiko membahayakan nyawa. Para ulama mengingatkan bahwa haji adalah ibadah yang harus dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan dan kesehatan, bukan hanya sekadar menunjukkan ketahanan fisik atau kesungguhan spiritual dengan cara yang berlebihan. Sebaliknya, ada pula yang mengapresiasi semangat para pelaku perjalanan ini. Mereka menilai bahwa jika seseorang benar-benar memiliki niat yang kuat dan telah mempertimbangkan segala risiko dengan matang, maka perjalanan tersebut bisa menjadi bentuk perjuangan dalam menunaikan rukun Islam kelima.
Tapi pernah kah terlintas dipikiran kita bahwa fenomena ini berkaitan Antara Ibadah, Sensasi, dan Tren Baru?
Tak bisa dipungkiri, fenomena ini juga menciptakan tren baru dalam dunia perjalanan ibadah. Beberapa orang mungkin terinspirasi untuk mencoba hal serupa setelah melihat keberhasilan mereka yang telah viral lebih dulu. Bagaimana beberapa orang yang naik haji menggunakan sepeda nyatanya berhasil memijakkan kakinya ke tanah arab tersebut. Belum lagi banyak orang diberbagai negara yang respect dan tidak segan-segan memberikan bantuan semacam tempat tinggal sementara, pakaian, bahkan sumbangsih berupa uang. Tentu hal ini membuat segelintir orang tertarik untuk mencoba perjalana yang sama. Namun, apakah ini benar-benar bentuk ibadah yang lebih utama, atau justru bagian dari fenomena FOMO (Fear of Missing Out) dalam ranah spiritual?
Pada akhirnya, niat di balik tindakan ini adalah sesuatu yang hanya diketahui oleh masing-masing individu dan Tuhan. Namun, masyarakat dan calon jemaah haji tetap harus mempertimbangkan aspek keselamatan, kesehatan, dan keabsahan perjalanan haji mereka agar tidak terjebak dalam euforia sesaat yang justru bisa berujung pada hal yang tidak diinginkan. Karena ketika kita menempuh jalur darat akan banyak waktu yang dihabiskan untuk menyeberangi pulau, negara, bahkan samudra dan negara-negara berkonflik, karena tidak semua tempat bisa kita lewati dengan aman, tentu banyak sekali pertimbangan jika kita nekat untuk berhaji tanpa pesawat. Bagaimana menurut Anda? Apakah naik haji dengan cara ekstrem ini masih dalam koridor ibadah yang sah, atau justru menjadi bagian dari tren digital yang berisiko?
Penulis bernama Amanda tasya, mahasiswi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.
Editor : Rimaya Romaito Br Siagian










