Beranda Artikel Meugang: Tradisi Lokal Jelang Ramadhan

[DETaR] Meugang: Tradisi Lokal Jelang Ramadhan

BERBAGI
Ilustrasi. (Nisa Makrufa/DETaK)

Artikel | DETaK

Dalam pertengahan dunia modern, tradisi lokal menjadi salah satu warisan paling berharga yang perlu diperhatikan dan dilestarikan. Salah satunya tradisi menyambut ramadhan yang ada di berbagai daerah, termasuk Aceh. Salah satu tradisi kearifan local Aceh jelang Ramadhan ialah “Makmeugang” atau “Meugang” yang sudah dikenal luas sebagai tradisi masyarakat Aceh yang dilaksanakan sehari atau dua hari jelang Ramadhan.

Meugang adalah tradisi yang memiliki makna erat dengan nilai-nilai persaudaraan hingga solidaritas. Meugang sendiri memiliki makna sebagai hari perayaan menyambut ramadhan dengan memasak dan menyantap daging bersama-sama.

Iklan Souvenir DETaK

Menjadi salah satu daerah dengan mayoritas muslim, ada berbagai budaya yang harus terus dilestarikan. Para ulama sejak dulu sudah mengembangkan nilai-nilai agama masuk dalam kebudayaan masyarakat, salah satunya ialah meugang. Meugang atau ma’meugang merupakan tradisi masyarakat Aceh yang hingga kini masih dilestarikan jelang hara raya maupun jelang Ramadhan.

Meugang merupakan tradisi menyantap daging dengan berbagai olahan bersama keluarga. Bahkan, anak atau saudara merantau akan kembali kerumah masing-masing untuk menghadiri moment meugang yang hanya datang beberapa kali dalam setahun.  Tradisi meugang ini tidak hanya dirayakan beberapa kalangan, namun seluruh masyarakat Aceh baik itu kaya, miskin hingga fakir akan melaksanakan meugang dengan caranya sendiri.

Sejarah Munculnya Tradisi Meugang di Aceh

Tidak ada sumber pasti yang meyakinkan darimana asal mula tradisi meugang. namun ada yang menyebutkan tradisi meugang berasal dari kerjaan Aceh Darussalam. Kala itu Sulthan Iskandar Muda memotong lembu dan kerbau sebagai wujud rasa syukur atas kedatangan bulan Ramadhan dan membagikannya kepada rakyat. Selanjutnya tradisi ini masih terus dilaksanakan hingga saat ini oleh berbagai kalangan masyarakat.

Dulunya pada masa hulubalang menguasai wilayah Aceh, meugang dilaksanakan selama tiga hari, namun setelah adanya kesepakatan ulama di Aceh dan Indonesia, meugang disepakati dilaksanakan hanya satu hari sebelum Ramadhan, namun ada beberapa kalangan tetap memilih merayakan meugang sejak dua hari sebelum Ramadhan.

Dalam tafsir agama, ada dua hal yang melatar belakang terjadinya meugang yakni penyambutan bulan Ramadhan dan hari raya sedangkan kedua ialah meugang adalah wadah dalam bersedekah. Latar belakang ini lah yang menjadikan meugang sangat erat dengan ajaran agama islam. Sehingga tradisi ini selalau dikaitkan dengan bagian dari ajaran agama yang diajlankan oleh masyarakat muslim yang telah menjadi budaya.

Dalam beberapa daerah di Aceh, daging pada hari meugang disajikan dengan menu yang bervariasi, sesuai dengan khas daerah. Misalkan di Aceh Besar, masyarakat menyajikan daging dengan menu asam keueng (daging asam pedang) dan sie reuboh (daging rebus dimasak dengan cuka) sedangkan Aceh Utara, Bireun hingga Pidie lebih suka menyajikan daging dengan kari atau sop daging. Jika daerah Aceh Barat, daging yang disajikan biasanya dalam bentuk gulai merah atau bumbu yang memiliki cita rasa pedas, meskipun semua menu diberbagai daerah ini juga ditambahkan dengan reundang (daging rendang)

Penulis bernama Aisya Syahira, mahasiswi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Syiah Kuala (USK)

Editor: Masya Pratiwi