Beranda Headline Mahasiswa USK Keluhkan Kerusakan Jalan Sekitar FISIP dan FT

Mahasiswa USK Keluhkan Kerusakan Jalan Sekitar FISIP dan FT

BERBAGI
Potret mahasiswa USK sedang melintasi jalan yang rusak di depan Fakultas Teknik. (Nabiela Humaira [AM] | DETaK)

Nabiela Humaira [AM] | DETaK

Darussalam -Universitas Syiah Kuala (USK) memiliki jalan lintas untuk  mempermudah mahasiswa yang berkendara menuju fakultas mereka masing-masing. Namun beberapa jalan mulai terlihat tanda-tanda berlubang dan sebagiannya lagi terlihat ditimbun dengan pasir atau tanah dengan lubang yang dalam dan besar.

Padahal jika kita berpikir panjang dari menimbun lubang-lubang sebanyak itu tidak menimbulkan manfaat yang lama bagi jalan tersebut. Jika musim penghujan datang maka pasir tersebut akan mengalir bersama air hujan sehingga lubang bisa terbentuk kembali. Secara tidak langsung sebenarnya itu adalah pekerjaan yang sia-sia dan berulang-ulang.

Iklan Souvenir DETaK

Setidaknya sudah banyak keluhan yang muncul dari para mahasiswa terhadap jalan yang rusak parah di depan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Fakultas Teknik (FT). Bukan hanya jalan rusak yang membuat sebagian mahasiswa mengeluh tapi juga terhadap debu dari kerikil-kerikil yang keluar dari jalan rusak yang dilalui oleh banyaknya kendaraan.

Mahasiswa  juga  mengeluh  ketika  jalan  yang  sudah  berlubang tergenang dengan air sehingga lubang tersebut tertutup dan bisa saja menimbulkan  kecelakaan ketika lubang itu dilintasi oleh kendaraan baik itu motor atau mobil.

Banyaknya kendaraan yang melintas di depan Fakultas Teknik dan FISIP di pagi hari juga mengakibatkan kemacetan dan berdampak kepada keterlambatan. Tidak hanya pada mahasiswa, tapi juga para dosen untuk sampai ke fakultas masing-masing dengan tepat waktu.

Salah satu mahasiswa Kedokteran, Naira Afifah Bakhtiar memberi tanggapannya mengenai jalan yang rusak di depan sekitaran FT dan FISIP tersebut. Dalam wawancaranya, Naira mengatakan bahwa jalan yang rusak adalah faktor yang paling menganggu di mana akses jalan yang hampir setiap hari  digunakan  malah menghambat, apalagi dengan adanya lubang-lubang besar dan genangan air di musim hujan.

“Saya sangat merasa terganggu dengan saya yang selalu lewat jalan itu dan  jadwal saya penuh jadi jalan itu adalah alternatif agar terhindar macet dari jalan Kopelma yang kalau pagi itu sungguh macet ya. Pernah  saya lewat situ karna bolongnya udah kebanyakan jadi mungkin jalannya dah gak rata jadi ban motor saya rada-rada kempeslah,” ungkapnya.

Tak hanya memberi tanggapan, Naira juga menyarankan jalan itu segera di perbaiki sebelum adanya korban.

“Harapan terbesar saya adalah jalan tersebut segera diperbaiki karna jalan ini  bukan hanya mahasiswa saja yang melintasi tapi para dosen dan karyawan USK juga pakek kan,” harapnya tegas.

Keluhan juga datang dari salah satu mahasiswa FISIP Jurusan Sosiologi, Vini Aora Erfazarana.  Menurutnya jalan yang rusak sangat berpotensi menimbulkan  kecelakaan dan itu butuh kepedulian penuh sebelum menelan korban.

“Jalan yang rusak di depan FISIP dan Teknik itu sangat berbahaya karena rusaknya itu udah banyak, tros kita gak tau mau hindar ke mana soalnya kiri kanan udah pada rusak. Jadi semoga diperhatikan kondisi jalan untuk kesejahteraan dan kenyamanan bersama,” tuturnya.

Mahasiswa lainnya, Almira  Luthfiya yang biasa melintasi jalan tersebut mengeluhkan bahwa ia merasa terganggu dengan jalan yang berlubang dan bisa mengurangi semangatnya di pagi hari.

“Saya merasa sangat terganggu terhadap kerusakan jalan di depan FISIP. Karena kerusakan jalan tersebut bisa membuat ban kendaraan orang lain bocor padahal mahasiswa ingin segera memulai perkuliahan akhirnya menjadi telat dengan itu maka proses perkuliahan para mahasiswa sedikit terkendala,” keluhnya.

“Dan saran saya, jalan yang rusak itu agar dibenahi lagi agar pengendara merasa aman dan tidak terganggu,” tegasnya.

Tak hanya mereka yang merasa terganggu, di lingkungan USK masih banyak para mahasiswa yang mengeluh terhadap jalan yang rusak dan ingin segera diperbaiki dengan benar tanpa harus menimbun pasir atau tanah berulang-ulang kali.[]

Editor: Indah Latifa