Beranda Opini Why Should be Me?

Why Should be Me?

BERBAGI
Ilustrasi opini "Why Should be Me?". (M. Talal/DETaK)

Opini | DETaK

Pernah ga sih kita ngucapin kalimat “why should be me?” atau yang sejenisnya gitu?  Ya pasti sering dong.  Ya kali ga sering. Sadar ga sih, secara ga langsung kalimat itu merupakan salah satu bentuk penolakan terhadap sesuatu yang udah atau yang sedang kita jalani sekarang ini. Semua kehidupan kita kan udah diatur, berarti kita tidak menerima dengan ikhlas setiap pemberian dari Allah dong.

Bukan ga nerima sih, tapi kenapa harus aku yang menerimanya? Kenapa harus aku yang merasakan di posisi seperti ini? Ah aku emang ditakdirkan tidak bisa merasakan bahagia. Bla … Bla … Bla ….

Iklan Souvenir DETaK

Udah ngocehnya? Mau aku kasih tau jawabannya? Iya, cuma kamu yang merasakan situasi seperti ini, karena memang cuma kamu yang mampu bertahan dan menyelesaikannya. Kamu sadar ga sih, mengapa Allah memberikan kamu ujian seperti ini? Sesuatu yang berlainan dengan inginmu.  Hal ini tidak lain dan tidak bukan, Allah sayang kepadamu, Allah ingin supaya kamu bisa lebih dekat lagi dengan-Nya, menangis dan selalu mengingat-Nya.

Kurang apa coba? Baik banget kan Allah. Allah itu pasti memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Boleh jadi kamu menyukai sesuatu, tapi itu tidaklah baik bagimu. Sementara kamu membenci sesuatu, dan boleh jadi itu yang terbaik bagimu. Sungguh Allah Maha Mengetahui dan kamu tidak.

Oke, paham, terus kenapa cuma aku? Kenapa mereka atau yang lainnya engga? Ya, jawabannya cuma kamu yang mampu. Ketika kita dihadapkan pada suatu permasalahan, keseringan kita hanya melihat hal tersebut hanya dari perspektif kaca mata kita sendiri. Artinya kita merasa bahwa hanya kitalah yang  paling menderita di dunia. Kita melihat kehidupan orang lain penuh dengan kebahagian. Padahal setiap orang mempunyai permasalahan yang berbeda pula, dan bisa jadi lebih komplek dari yang sedang kita hadapi. Namun, karena mereka pandai menutupinya, dan tidak mengeluh berlebihan, apalagi sampai menggerutu kepada sang Pengatur Kehidupan, sehingga membuat mereka terlihat selalu bahagia tanpa masalah sedikit pun.

Setiap orang mempunyai masalah yang berbeda, tergantung seberapa besar tingkat keimananya. Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar kesanggupannya. Dan perlu diketahui juga, bahwa dunia ini memanglah tempat berkeluh kesah. Di sekolah atau di kampus aja kita diberikan ujian untuk mengetahui sejauh mana pemahaman kita terhadap suatu materi, dan kemudian akan penilaian setelahnya. Baik itu berupa naik kelas maupun pertambahan nilai. Hal ini bertujuan tidak lain tidak bukan untuk meng-upgrade kualitas diri kita yang ditandai dengan adanya peningkatan nilai ataupun naik ke kelas yang lebih tinggi.

Begitu juga dengan kehidupan, ketika kita diberikan suatu cobaan dalam hidup, baik itu berupa musibah, ujian perasaan, digagalkan dari mimpi kita, atau segala hal yang di luar ekspektasi kita. Sedih, marah, kecewa, itu wajar. Itu adalah  sikap manusiawi. Akan tetapi, dalam pelampiasan sikap manusiawi tersebut, kita juga harus bisa mengontrolnya. Jangan biarkan perasaan kecewa menjadi berlarut-larut, hingga berujung pada menyalahkan takdir.

Setiap kita mempunyai kapasitas dan ukuran masing-masing. Allah Maha Adil. Allah telah mengurus kehidupan kita bahkan jauh sebelum kita ada di dunia ini. Allah telah menyiapkan mana yang baik dan mana yang tidak untuk kehidupan seseorang.  

Katanya, kita beriman kepada Allah, lantas mengapa kita selalu saja mengeluh ketika diberikan ujian oleh Allah? Mengapa kita selalu menyalahkan Allah atas segala yang terjadi? Di mana rasa malu kita yang masih saja menyalahkan Allah, sementara Allah selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya sekalipun kita banyak dosa? Di mana letak iman kita ketika kita masih mengatakan “Allah mau-Nya apa sih? Kenapa ga pernah kasih kebahagian dalam hidupku?”

“Hei, siapa kita? Mengapa kita begitu lancing terhadap Allah yang Maha Baik? Lantas, adakah syukur yang terucap atas segala pemberian selama ini? Kurang baik apalagi coba, ketika kita dihadapkan pada suatu permasalahan, Allah senantiasa menawarkan pertolongan. Namun, apa yang kita lakukan? Senantiasa menggerutu dan berprasangka buruk terhadap Allah. Dasar!!! Manusia.”

Bahagia itu bukan berasal dari materi dan siapa kita. Bahagia itu ialah bagaimana kita mampu mengubah perspektif akan sesuatu, selalu bersyukur akan apapun yang diberikan. Dan yang terpenting, bahagia itu kita yang ciptakan, bukan bagaimana yang dilakukan orang lain terhadap kita. Tapi kita juga tidak bisa pungkiri bahwa kebahagian itu juga bisa diciptakan oleh orang lain. Tapi, tetap semua itu kembali pada sudut pandang apa yang kita gunakan. Jangan mengukur kebahagian orang lain pada diri kita, tentu berbeda. Setiap kita mempunyai ukurannya masing-masing. Tidak bisa dipukul samaratakan.

Oleh sebab itu, ketika kita dihadapkan dalam situasi yang rumit, cobalah untuk mengekspresikan sikap manusiawi sewajarnya. Luka dan masalah itu perlu dinikmati, diberi waktu. Tidak perlu buru-buru untuk menangkalnya, biarkan saja, rasakan kehadirannya.

Hal penting yang perlu ditegaskan ialah jangan merasa seolah-olah paling menderita. Ingat, dunia memang tempatnya masalah, tergantung bagaimana kita menerjemahkannya. Yakinlah bahwa Allah tidak akan meninggalkanmu, dan memberikan permasalahan di luar kemampuanmu. Banyak pelajaran yang bisa dipertik darinya. Mulai sekarang, coba ganti kalimat “Why shoul be me?” dengan kalimat “ Ya Allah, berilah aku kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi semua ini. Sungguh aku lemah Ya Allah, hanya Engkaulah yang Maha Kuat. Semoga kami termasuk hamba-Mu yang Engkau ridhoi”.

Your Life Is Depend On Your Perspective. “Hidup itu sederhana, kitalah yang membuatnya sulit” – Confusius.[]

Penulis adalah Siti Manzilla Amalia, mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala angkatan 2019.

Editor: Indah Latifa