Beranda Opini Ke Manakah Moral “Maha” Siswa?

Ke Manakah Moral “Maha” Siswa?

BERBAGI
Ilustrasi. (Yaumil Farah Alyssa/DETaK)

Opini | DETaK

Menjadi seorang mahasiswa merupakan sebuah anugerah sekaligus pilihan yang tidak semua orang dapat miliki dan rasakan. Kalau kita artikan secara administrasi, kata mahasiswa berasal dari kata maha dan siswa. Kata maha ini merupakan sebutan yang cukup rumit sekaligus berat. Tentu saja, kata yang biasanya kita dengar melekat  pada Sang Pencipta, digunakan utuk seorang pelajar. Hal ini membuktikan bahwa kita mahasiswa memiliki  tanggung jawab yang sangat besar. Mahasiswa adalah sosok yang beritektual, di mana dengan keilmuannya dapat membantu masyarakat dalam memecahkan persoalan yang selama ini sulit dipecahkan. Namun coba lihat di sekeliling kita! Tak perlu memandang jauh di kampus orang (coba lihat di lingkungan Universitas Syiah Kuala saat ini). Sudahkah arti kata ‘mahasiswa’ di sini sesuai dengan realitanya.

Mungkin tidak semua, namun zaman sekarang kita telah kehilangan nilai moral para mahasiswa. Kita ambil contoh sederhana mulai dari hal kecil, jika kita lihat dari tutur kata apakah kita dapat membedakan antara mahasiswa dengan “yang bukan seorang mahasiswa”? Tak jarang atau bahkan sering sekali kita dengar mahasiswa menggunakan kata-kata ‘sampah’ yang tidak menggambarkan sedikit pun bahwa kita berpendidikan.  Bahkan lebih parah lagi, hal ini sudah dianggap wajar bagi sebagian orang. Lalu untuk apa gelar moral force yan diberikan kepada mahasiswa?

Iklan Souvenir DETaK

Selain itu kurangnya rasa peduli terhadap lingkungan sosial dan alam di sekitarnya, seringkali menjadi masalah. Bagaimana tidak, dengan dalih family gathering  yang katanya “persatuan dan satu rasa”, mahasiswa seringkali mengotori lingkungan tanpa adanya sifat bertanggung jawab. Alam seperti pantai yang harusnnya dapat menjadi objek mewujudkan TRI DARMA perguruan tinggi justru menjadi penambah masalah terus menerus secara bergantian. Apakah lupa akan tri darma atau memang tidak tahu?

Inikah yang dinamakan “maha”? Inikah mahasiswa yang katanya memiliki tujuan untuk membangun masyarakat?

Hal tersebut sebenarnya hilang karena opini yang kita bangun terhadap mahasiswa sudah salah sejak awal. Coba kita ingat!  Ketika kita memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi apa yang orang-orang sering tanyakan? Mau kuliah di mana? Mau ambil jurusan apa? Nanti kalau  kuliah  jurusan ini kerjanya apa? Gajinya cukup gak ya? Pernahkan ditanya Nanti kalau kamu  sudah lulus jurusan itu, mau kasi peran apa ke masyarakat? Saya rasa sangat jarang atau bahkan tidak pernah. Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang sebenarnya sudah memunculkan mindset egois sejak awal. Kita diajak berpikir bahwa kuliah adalah untuk memajukan ‘aku’ bukan ‘kita.’ Lantas untuk apa  kita memperingati sumpah pemuda?

Menurut Agent of Change mahasiswa itu adalah penggerak. Kita mahasiswa adalah pengubah arah, mengubah sesuatu yang tertinggal menjadi maju, mengubah yang tak berilmu menjadi berilmu. Jadi kita bukan hanya manusia yang dituntut berintelektual. tetapi perlu juga mempunyai moral yang baik.

Jadi, mari mulai benahi diri kita masing-masing, apakah kita sudah menjadi seorang mahasiswa atau hanya seorang siswa. Nilai moral itu memang urusan individu masing-masing, tapi saya rasa tidak salah untuk mengingatkan orang lain. Nilai-nilai luhur mahasiswa yang mulai luntur mari kita bangun sama-sama. Saya tidak mengatakan bahwa kita harus menjadi mahasiswa yang berperan  seperti pada tanggal 28 Oktober 1928, melahirkan sumpah suci, sumpah suci para pemuda Indonesia.

Saya juga tidak mengatakan bahwa kita harus menjadi mahasiswa  yang langsung memberikan aksi nyata meruntuhkan orde baru menjadi masa reformasi seperti yang terjadi tahun 1998. Melainkan perubahan-perubahan kecil dari etika dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar baik sosial maupun alam. Hal-hal seperti inilah yang nantinya akan melahirkan mahasiswa sebagai penggerak perubahan, mahasiswa sebagai penguat moral, mahasiswa sebagai penjaga nilai luhur serta mahasiswa sebagai penerus bangsa yang berintelektual tinggi.[]

Referensi:

Penerbitbukudeepublish.com. (12 Agustus 2021). “Contoh Nyata Mahasiswa sebagai Agen Perubahan”. Diakses dari https://penerbitbukudeepublish.com/contoh-nyata-mahasiswa-sebagai-agen-perubahan/ pada 12 Januari 2022.

Penulis bernama Siti Maryam Purba, mahasiswi Jurusan Teknik Geofisika, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala. Ia jga merupakan salah satu anggota UKM Pers DETaK.

Editor: Indah Latifa