Beranda Artikel Bisakah Berdamai dengan Trauma Masa Lalu?

Bisakah Berdamai dengan Trauma Masa Lalu?

BERBAGI
(Iustrator: Aisya Syahira [AM]/DETaK)

Artikel | DETaK

Sebenarnya apakah bisa berdamai dengan trauma? Trauma dapat dikatakan sebagai pengalaman berat bagi seseorang yang sulit untuk dilupakan. Secara psikologi, trauma adalah jenis kerusakan jiwa yang terjadi sebagai akibat dari peristiwa traumatis atau benturan psikologis di masa lalu yang meninggalkan luka jiwa pada sesorang yang tak kunjung sembuh.

Ada banyak sumber yang dapat menyebabkan seseorang trauma, dapat berupa kecelakaan, kekerasan, pelecehan seksual atau bahkan omongan sepele dari teman. Meski perlahan dapat sembuh dengan sendirinya, trauma akan tetap membekas. Oleh karena itu, jika seseorang belum bisa sembuh tuntas dari trauma, ketika nanti ia dihadapkan lagi dengan situasi yang sama, trauma akan kembali datang dan mengurungnya.

Iklan Souvenir DETaK

Lalu adakah cara untuk pulih dari trauma? Padahal kita tau trauma tidak akan bisa benar-benar hilang, namun adakah cara lain untuk pulih dan hidup berdampingan dengan trauma?

Dalam buku yang berjudul Death and Dying, Elizabeth Hubler Ross mengatakan, Ada lima tahapan sebagai proses mengatasi trauma :
1. Penyangkalan atau penginkaran (denial)
2. Marah (anger)
3. Mengasihani diri sendiri
4. Tawar-menawar dan tarik ulur (bargaining)
5. Depresi (depression)
6. Menerima (acceptance)

Untuk bisa pada tahapan menerima, memang tidak akan mudah. Setiap orang memiliki reaksi atau tahapan pemulihan yang berbeda, bahkan ada orang yang masih terjebak dalam tahap depresi padahal jika ia berhasil keluar dari lingkaran itu, dia akan bisa menerima dan hidup damai dengan traumanya.

Tahap menerima adalah tahapan dimana seseorang belajar memaafkan. Tahapan yang mengajarkan bahwa tidak perlu terlalu lama meneratapi nasib, karena masa lalu tidak akan pernah berubah. Coba menerima dan fokus pada diri sendiri, ciptakan masa depan yang lebih cerah dan jadikan masa lalu sebagai pembelajaran.

Bukan hanya diri sendiri, namun dukungan dari keluarga, sahabat dan orang-orang terdekat juga mampu mendorong seseorang untuk mulai berdamai dengan traumanya. Oleh karena itu, cobalah untuk menjalin hubungan dengan orang-orang yang membawa energi positif dan persibukkan diri agar trauma itu tidak lagi menjadi penghalang, fokus pada diri sendiri hingga trauma perlahan-lahan mulai terlupakan.

Penulis bernama Aisya Syahira, Mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Syiah Kuala (USK) angkatan 2021. Ia juga merupakan salah satu anggota magang di UKM Pers DETaK USK.

Editor: Della Novia Sandra