Febby Andriyani | DETaK
Banda Aceh- Dari pagi hingga menuju pagi lagi, aktivitas kita tidak bisa terlepas dari penggunan gadget. Entah itu untuk sekedar mendengarkan musik, belajar, mengakses informasi, bertukar pesan, dan masih banyak lagi kegiatan yang dilakukan melalui gadget yang kita punya. Terlebih pada saat masa pandemi saat ini, semua orang dituntut untuk memaksimalkan penggunaan media digital untuk saling terhubung dengan dunia luar. Dengan kondisi seperti ini sulit rasanya kita melawan arus untuk melepaskan diri dari intensitas penggunaan gadget.
Dilansir dari Data Reportal (27/08), per Januari 2021 Indonesia memiliki pengguna internet sebanyak 202,6 juta jiwa dari total penduduk sebanyak 274,9 juta jiwa. Sedangkan jumlah pengguna media sosial sebanyak 170 juta pengguna. Jumlah ini meningkat 10 juta atau 6,3 persen dari tahun sebelumnya.
Pentingnya Melakukan Detoks Media Sosial
Penggunaan media sosial yang dilakukan secara terus-menerus dan dalam jangka waktu yang lama bisa memunculkan banyak efek negatif.
Siti Hajar Sri Hidayati, Dosen Psikologi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry mengatakan bahwa media sosial akan menjadi sebuah racun untuk diakses ketika orang tersebut dalam kondisi mental yang tidak stabil, kemudian melarikan diri ke media sebagai pelampiasan dengan dunia nyata, dan ketika tidak bisa memilah fungsi dari media sosial tersebut.
“Ketika kita terlalu lama mengakses media sosial dan tidak bisa memilih informasi yang ada, maka itu dapat menjadi toksik. Sehingga, pada saat media sosial tersebut meracuni pikiran serta kesehatan mental kita, maka dibutuhkan yang namanya detoks media sosial,” ucap Siti saat dihubungi via WhatsApp pada Kamis, 26 Agustus 2021.
Istilah detoks media sosial bukanlah hal baru di era sekarang. Umumnya, detoks media sosial ini bisa dilakukan dengan dua cara yaitu dengan mengganti medianya dan mengurangi intensitas penggunaanya dalam kurun waktu tertentu. Siti menjelaskan bahwa kunci utama melakukan detoks media sosial adalah motif dan tujuan melakukan detoks.
“Misalnya terlalu banyak scrolling media sosial membuat kita tidak produktif dan banyak waktu terbuang sia-sia, jadi dengan adanya alasan-alasan yang sangat kuat itulah yang membatasi untuk mengakses media sosial. Niatnya dulu yang harus kuat,” jelas Siti.
Menjadi Lebih Produktif
Nada (20) seorang mahasiswa asal Banda Aceh, mengungkapkan bahwa dirinya pernah melakukan detoks media sosial. Hal ini bermula karena ia ingin fokus untuk lebih produktif menjalani kehidupan di dunia nyata.
“Bukan hanya sekedar uninstall Instagram-nya, tapi saya juga menonaktifkan akun yang saya miliki. Sehingga jika ingin login kembali harus melalui beberapa tahapan untuk bisa kembali mengaktifkan akun Instagram,” ucap Nada via WhatsApp pada Rabu, 26 Agustus 2021.
Menurutnya hal ini cukup efektif untuk mengurangi penggunaan media sosial yang dimilikinya. Sebelum ia melakukan detoks sosial media, intensitas penggunaan hariannya mencapai 2-3 jam perhari dan berhasil berkurang setelah melakukan detoks media sosial. Ia bersama seorang temannya melakukan detoks media sosial Instagram selama kurang lebih satu bulan. Hal tersebut pula yang menjadi poin keberhasilan detoks yang ia terapkan.
“Sebulan itu saya dengan seorang teman saya melakukan detoks media sosial bersama. Jadi ketika ada hasrat untuk membuka media sosial kembali, kami saling termotivasi dan mengingatkan satu sama lain untuk tidak membuka akun media sosial,” ujarnya.
Untuk saat ini Nada juga mengkampanyekan di akun Instagram-nya mengenai penggunaan media sosial secara bijak dan tepat yang bekerja sama antara himpunan jurusannya dengan sebuah komunitas kesehatan mental Indonesia. Ia menyebutkan untuk sekarang rutinitas penggunaan Instagram-nya sudah kembali seperti di awal lagi dan dalam waktu dekat ia berkeinginan kembali menonaktifkan akun Instagram-nya.
Membuat Pikiran Menjadi Rileks
Erpin (25) pemuda asal Lampung juga memutuskan untuk hiatus sementara dari penggunaan beberapa media sosial yang ia miliki. Hal ini disebabkan karena ia merasa penat dengan banyaknya informasi yang mau tidak mau menjadi konsumsi harian dirinya ketika membuka akun media sosial.
“Ada beberapa media sosial yang sedang tidak digunakan, untuk sekarang hanya aktif di Facebook saja karena ada forum jual beli dan diskusinya,” ucap Erpin melalui pesan singkat via Telegram pada 26 Agustus 2021.
Ia menyebutkan dampak yang ia rasakan setelah hiatus dari beberapa media sosial adalah ia merasa pikirannya menjadi lebih santai. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa dirinya sewaktu-waktu akan kembali mengaktifkan kembali akun-akun media sosialnya. []
Editor: Indah Latifa










