Cerbung | DETaK
-Kisah seorang gadis yang berusaha untuk meraih impiannya di tengah carut marut dunia-
Luna memang menjadi nomor satu di kelas kuil, namun tidak di bidang olahraga. Kaum Lafitters yang belum menghilangkan rasa lelah setelah bekerja harus kembali melihat pemandangan mengerikan; seorang gadis diarak oleh bocah laki-laki berambut mangkok.

“Lihatlah para Lafitters! Gadis berengsek ini telah mencuri coklat milik keluargaku. Maka dia akan dihukum cambuk!” suara cempreng Tormund tetap berhasil membuat wajah para Lafitters berkerut, mata melebar, sambil menggengam pakaian sendiri menatap bocah berambut mangkok yang sedang berjalan sambil membusung dada bangga.
Para Laffiters mulai berkumpul di tengah pemukiman, melihat tangan Luna yang dilentangkan dan diikat di sebuah cabang pohon samping jalan. Seorang prajurit menendang bagian belakang tubuh Luna hingga dia terjatuh dan hanya bisa tertumpu pada lututnya.
“Itu Luna!”, “itu Luna!”, “ohh dewa, itu Luna!”, sebut mulut-mulut yang baru sampai di kerumunan. Siapa yang tidak kenal Luna, gadis Lafitters yang terkenal baik di kota. Dia selalu tersenyum, sering menyapa dan membantu mereka ketika lelah membawa pulang hasil panen.
Bu Lobem dengan pakaian hitam dan kerudung putih ikut berkumpul di kerumunan para Lafitters yang berbau apek dan penuh dengan keringat. Matanya terbelalak dan tangannya menutup mulut ketika melihat siswi favoritnya sedang terikat.
Tormund menyadari ekspresi takut dan iba yang ditunjukan kerumunan Lafitters ke arah Luna. Harga dirinya meningkat dan dia menjadi semakin mirip dengan ayahnya. Hampir kakinya melompat-lompat karena kegirangan. “Prajurit, siap-siap!” serunya.
Si prajurit mendekati Luna sambil menampar-nampar pelan kakinya sendiri menggunakan rotan.
Tiba-tiba seorang wanita paruh baya muncul dari kerumunan dan berlutut tepat dibawah kaki Tormund.
“Mohon maafkan anak saya, tuan. Dia masih kecil. Dia belum mengerti apa-apa,” ucap seorang wanita paruh baya.
“Egg,” Tormund menendang debu ke arah wajah wanita itu. “Dasar menjijikan! Tak ada ampunan bagi seorang pencuri.” Tormund melihat ke arah prajurit tadi dan berteriak, “Cambuk dia sekarang!”
Lutut Luna masih nyeri karena lututnya tergores. Sekarang telinganya mendengar suara tajam gesekan rotan di udara, lalu “CETAR!” tiba-tiba segaris bahunya merasa sangat panas. Rasa itu kemudian berubah menjadi perih yang sangat menggigit. Dia hendak menggerakkan tangannya untuk memeluk bagian yang pedih itu, namun pergelangan tangannya justru sakit karena ditarik oleh tali. Kakinya digeser-geser di tanah, dia ingin berdiri dan hendak berlari dari sana, tidak ingin mendapatkan rasa perih yang sama untuk kedua kali.
Suara gesekan tajam di udara tedengar lagi dan, “cetar!” kali ini rotan sedikit menyasar ke lehernya, memberikan rasa kejut yang membuat tubuhnya bergetar. “Cetar!” kaki Luna benar-benar terjatuh, dia tidak diberi waktu untuk menarik nafas atau bersiap-siap, cetar! cetar! cetar!
Beberapa teman sekolah kuil Luna yang hadir mulai menangis sambil menutup muka pada baju ibu mereka.
Pipi Luna mulai membasah, punggungnya sangat panas dan sakit. Terasa badan bagian belakangnya seperti digigit puluhan semut merah. Giginya mengigit bibir bawah, nafas Luna ditahan, matanya tertutup, saat ini dia hanya bisa menahan cambukan itu dengan mengeram.
“Berapa kali lagi, tuan?” tanya si prajurit.
“Pokoknya sampai empat puluh kali!”
Prajurit mengayunkan rotan lagi dan menghujami tubuh Luna hingga membuat cabang pohon ikut bergetar, tak sanggup menahan Luna yang meronta-ronta.
Ibu Luna berteriak histeri di barisan depan kerumunan, hendak meraih anaknya, namun dipegang oleh wanita lain. Para lelaki Lafitters yang hadir disitu benar-benar merasa hancur, harga diri mereka telah hilang. Bagaimana mungkin seorang lelaki sanggup melihat gadis kecil disiksa di depan mata mereka dan tidak berbuat apapun? Tetapi memang tak ada yang bisa mereka lakukan.
Prajurit mengayunkan lagi rotan dan, “BERHENTI!,” terdengar sebuah teriakan dari balik kerumunan. Prajurit, Tormund, dan seluruh orang yang hadir terkejut. Orang-orang membuka jalan agar sang pemilik suara bisa berjalan ke arah Luna yang sedang terikat. Maka muncul seorang gadis berambut merah gelap dikepang satu ke belakang, memiliki mata sayu bewarna hitam kebiru-biruan, bagian philturm (lengkungan tengah di bibir) tajam disertai bagian bibir bawah yang lebih tebal. Kulitnya putih kekuning-kuningan. Dia berjalan tegap dan cepat ke arah Tormund, diikuti oleh dua wanita pelayan bersama dua orang prajurit kota Gazastan lain.
Tanpa berbicara pada sepatah katapun, dia menyuruh kedua pelayan untuk melepaskan ikatan Luna dan menggendongnya meninggalkan kerumunan itu.
“Hei, dia itu pencuri!,” kecam Tormund.
“Apa kamu tidak melihat berapa umurnya!” balas gadis itu membentak Tormund. “ibu menyuruhku memanggilmu. Ini sudah sore, mainmu begitu lama. Cepat pulang ke kastil!” perintahnya.
Tormund pergi dengan kesal bersama satu teman prajuritnya. Para Lafitters merasa lega atas kedatangan Putri Sarah Alaska, anak tertua adipati Sedler dan nyonya Sophie. Ibu Luna menghampiri Sarah, “Terima kasih telah menolong anakku, nona. Terima kasih!” Ucapnya sambil menunduk.
Tangan dingin dan gemetar milik ibu Luna itu dipegang lembut oleh Sarah. Dengan menunjukan sebuah senyuman yang menenangkan hati, dia membalas, “Tidak apa-apa, jangan menangis lagi. Anakmu akan kami obati.”
-Bersambung-
Note: Cerita ini adalah bagian dari project novel yang sedang digarap oleh penulis. Bagi teman-teman yang tertarik ingin berdiskusi mengenai cerita lebih lanjut, bisa hubungi penulis lewat email: heavenkingdom.@gmail.com










