Beranda Terkini Mengkaji Isu LGBT Secara Ilmiah dan Religius, BEM USK Gelar Indonesian Gender...

Mengkaji Isu LGBT Secara Ilmiah dan Religius, BEM USK Gelar Indonesian Gender & Inclusion Forum

BERBAGI
Pemateri Dr. Dewi Inong Irana menyampaikan materi pada Indonesian Gender & Inclusion Forum. 02/11/2025 (Saskia Nurul Aini [AM]/DETaK)

Saskia Nurul Aini [AM] | DETaK

Darussalam-Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Syiah Kuala (USK) menyelenggarakan Indonesian Gender & Inclusion Forum (IGIF) di Gedung AAC Dayan Dawood, Minggu, 2 November 2025. Kegiatan ini mengusung tema Membangun Kesadaran dan Pemahaman tentang LGBT dalam Perspektif Kesehatan dan Agama”.

Forum nasional ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Dr. Dewi Inong Irana, seorang dokter yang dikenal membuka ruang terapi bagi individu dengan orientasi LGBT, dan Ust. Bendri Jaisyurrahman, praktisi parenting sekaligus penulis buku Fatherman.

Iklan Souvenir DETaK

Dalam forum tersebut, Dr. Dewi menekankan pentingnya menjaga diri dari perilaku menyimpang yang berdampak buruk bagi kesehatan.

“Jauhi zina dan LGBT, semuanya hidup sehat. Naksir dengan lawan jenis boleh, pacaran jangan,” ujarnya di hadapan ribuan peserta.

Sementara itu, Ust. Bendri menyoroti faktor keluarga yang menjadi akar dari berbagai penyimpangan moral.

“Riset menunjukkan tidak adanya figur ayah menjadi penyebab. Jadi memang isu fatherless ini menjadi salah satu penyebab rusaknya karakter laki-laki dan perempuan,” ungkapnya.

Salah satu panitia, Suci Reisma Mentari, menyampaikan bahwa kegiatan ini diikuti oleh sekitar 1.700 peserta luring dan 8.700 peserta daring. Menurutnya, panitia berupaya menyeimbangkan antara sudut pandang medis dan keagamaan agar diskusi berjalan proporsional dan edukatif.

“Kami ingin kedua perspektif mendapat ruang yang sama sehingga peserta memahami isu ini secara utuh,” jelasnya.

Kegiatan ini terbuka untuk umum, dengan prioritas bagi mahasiswa penerima KIP-K yang hadir secara luring dan mahasiswa baru peserta UP3AI yang mengikuti secara daring. Panitia juga menyediakan e-sertifikat nasional bagi seluruh peserta serta membuka ruang diskusi dan petisi tentang kesetaraan gender dan penolakan terhadap perilaku LGBT.

Beberapa peserta mengaku mendapatkan banyak wawasan baru. Rehadatul Asyifa, salah satu peserta, mengatakan bahwa seminar ini membuatnya semakin berhati-hati dalam pergaulan.

“Saya sangat terpukau dan bersemangat karena banyak hal baru yang saya ketahui. Ternyata LGBT itu sangat berbahaya dan sudah sepatutnya ada aturan tegas di Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Dewi Lasmi, seorang peserta lainnya menilai forum ini membantu peserta memahami isu gender secara lebih objektif. “Materinya menarik dan membuka sudut pandang baru. Saya berharap lebih banyak kegiatan edukatif seperti ini diadakan,” ungkapnya. []

Editor : Zarifah Amalia