Putri Balqis (AM) & Mauliza Araska (AM) | DETak
Darussalam-Harga emas di Aceh kembali melonjak tajam dalam beberapa hari terakhir. Pada Selasa, 14 Oktober 2025, harga emas murni di Banda Aceh tercatat mencapai Rp7.150.000 per mayam, satuan lokal setara dengan sekitar 3,3 gram. Kenaikan ini membuat harga emas di daerah tersebut tercatat sebagai salah satu rekor tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Lonjakan ini memicu meningkatnya aktivitas jual-beli emas di sejumlah toko perhiasan yang berada di pusat kota, seiring warga memanfaatkan momen tingginya harga untuk melepas simpanan emas mereka dari tahun-tahun sebelumnya.
Salah satu pedagang emas di kawasan Banda Aceh yang tidak mau disebutkan namanya menyatakan bahwa sulit untuk memprediksi arah harga emas dalam waktu dekat. Hal ini menjadi pertimbangan bagi sebagian warga untuk menentukan pilihan antara menjual emas atau justru membeli saat ini.

“Perkiraan harga emas itu sulit ditebak. Bisa saja sekarang kita jual, tapi tahun depan harganya naik lagi. Jadi kebanyakan orang ambil aman, tetap beli atau simpan,” ujarnya.
Muhammad Rio Rinaldi, salah seorang penjual emas lainnya di daerah Meulaboh, Aceh Barat menilai bahwa investasi emas juga mulai diminati oleh kalangan anak muda, termaksud di Aceh. Tidak sedikit dari mereka yang mulai membeli emas sebagai bentuk simpanan jangka panjang. Namun, yang sangat mencolok adalah banyak dari kalangan anak muda yang memilih membeli emas secara kredit, bukan tunai.
“Sekarang banyak anak muda beli emas, tapi kebanyakan nyicil. Mereka lihat cicilannya kecil, padahal kalau dihitung-hitung malah rugi,” ucapnya.
Dengan kondisi tersebut, penjualan emas saat ini cenderung menguntungkan bagi masyarakat yang telah membeli emas sejak tahun lalu. Namun, bagi mereka yang membeli dalam waktu dekat dan langsung menjualnya, justru berpotensi mengalami kerugian. Karena itu, emas tetap dianggap sebagai investasi jangka menengah hingga panjang yang memerlukan waktu minimal satu tahun memberikan keuntungan.
Tiara Natasya, salah satu mahasiswi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Syiah Kuala (USK), mengatakan dampak kenaikan harga emas tetap terasa meskipun ia tidak terlibat secara langsung dalam jual beli logam mulia tersebut.
“Iya, saya ngerasa juga, walaupun gak langsung. Soalnya waktu harga emas naik, itu biasanya jadi tanda kalau ekonomi lagi gak stabil atau inflasi naik. Nah, kalau inflasi naik, otomatis harga barang-barang sehari-hari juga ikut naik. Misalnya harga makanan, bensin, atau ongkos transportasi jadi lebih mahal. Akhirnya, biaya hidup kita juga makin besar,” ungkapnya. []
Editor: Sara Salsabila










