Beranda Terhangat Pendapat Mahasiswa PMM Selama Kuliah Luring

Pendapat Mahasiswa PMM Selama Kuliah Luring

BERBAGI
Ilustrasi. (Selma Alifah [AM]/DETaK)

Ahlul Aqdi [AM] | DETaK

Darussalam- Sudah hampir tiga minggu sistem perkuliahan yang diikuti mahasiswa program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) dilakukan secara luring. Setelah sebelumnya, akibat pandemi Covid-19, hampir satengah semester program tersebut dilakukan secara daring. Perubahan sistem perkuliahan ini disambut baik oleh sebagian besar mahasiswa yang mengikuti program PMM.

Salah satunya adalah Zahid Rasya Hidayat, mahasiswa Prodi Agrobisnis yang diterima di Universitas Muhammadiah Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan. Zahid mengatakan bahwa ia sangat senang karena ia dapat benar-benar merasakan seperti apa program pertukaran mahasiswa tersebut.

Iklan Souvenir DETaK

“Kalau daring tu ya gak kerasa (pertukaran mahasiswanya). Kaya cuma tau gitu doang, liat Google pun bisa. Senang tentunya ya karena kami bisa lihat langsung gimana sih kabupatennya, gimana sih budayanya langsung. Pengalaman itu yang sebenarnya buat seneng, ga bisa didapet di kampus asal kita, pengalaman-pengalaman gitu,” kata Zahid.

Zahid juga menjelaskan bahwa ia sangat bersyukur selain karena dapat mengikuti program PMM tersebut, juga karena ia dapat diterima dengan baik di lingkungan Universitas Muhammadiah Sidenreng Rappang.

“Bersyukur banget bisa keterima di sini akunya. Di sini orangnya itu baik-baik, ramah-ramah. Terus universitas penerima kami juga welcome banget sama kami, sering dianterin makanan gitu, sering dibawa jalan-jalan juga ke tempat-tempat wisata, ke tempat-tempat acara adatnya. Kami setiap minggu itu ada kegiatan gitu emang buat ke tempat-tempat wisata di sini. Pokoknya mereka kaya pengen kami tu betah lama-lama di sini,” jelas Zahid.

Selain menceritakan keseruan selama berkuliah di Universitas Muhammadiah Sidenreng Rappang, Zahid juga mengungkapkan kendala-kendala yang ia alami selama berkuliah di universitas tersebut.

“Iya si cuma emang ada kendala-kendala kaya uang kami yang masih ada beberapa yang belum cair gitu dari DIKTI. Terus ya yang namanya kabupaten, ya susah juga sarana prasarananya ga kaya di kota, bahan-bahan makanan juga termasuk tinggi di sini, cuacanya itu lumayan panas juga mirip-mirip di Aceh juga si,” ungkap Zahid.

Selain itu, Zahid juga menjelaskan bagaimana sistem perkuliahan di Universitas Muhammadiah Sidenreng Rappang.

“Ya di sini univ-nya baru 2 tahun berdiri, kalo dibandingin USK jauh banget, di sini juga kampus swasta kalo aku ga salah. Jadi untuk sistemnya juga belum sematang USK, tapi dilihat dari dosen-dosen di sini memang pada peduli ke mahasiswanya, beda kaya USK, mahasiswa kaya ada jarak dengan dosennya gitu. Mengenai sistemnya juga di sini kan masih baru, juga masih sering nyontoh-nyontoh kampus lain sih itu doang,” sambungnya.

Selain Zahid, Islahul Fuadi, mahasiswa Prodi Teknik Pertambangan, yang lolos di Universitas Atma Jaya, Yogyakarta, mengaku tidak senang selama PMM tersebut dilakukan secara daring. Karena baginya kuliah Modul Nusantara tidak mungkin dilakukan secara daring.

“Sebenarnya kami gak senang kalau daring. Karena mata kuliah Modul Nusantara kan mengenal daerah dan budaya. Masak kami mengenalinya dengan online. Gak efektif. Jadi reaksi Abang senang lah luring. Karena bisa langsung terjun ke lapangan kalau mau mengenal budaya orang ni,” jelas Islahul.

Selain itu, Islahul juga mengungkapkan kendala yang ia alami selama mengikuti program PMM tersebut.

Gak ada. Kendala satu cuman. Belum cair. Kami dah 3 bulan ni pake uang sendiri,” ungkap Islahul.

Islahul mengakui bahwa fasilitas di Universitas Atma Jaya lebih lengkap dari pada USK. Dan ia juga menjelaskan beberapa hal dari Universitas Atma Jaya yang bisa dicontoh oleh USK.

“Kalau keren ya harus keren kita. Tapi Abang akui, kalau fasilitas lengkap Atma Jaya. Mulai lift tiap fakultas, perpus, dan ruang kelas. Kalau dari sistem belajar lengkap sini. Kemaren kan abang luring. Trus ada yang gak bisa datang. Jadi dosennya live di teams gitu. Jadi kek nonton ruang guru sih pas dia ngajar. Mungkin yang bisa ditiru USK mungkin dari fasilitasnya. Jangan kek RKU. Di sini kamar mandinya pake sensor juga. Kalau masuk kita, lampu otomatis hidup. Kalau keluar, lampu mati otomatis. Tapi untuk perpus hampir sama sih. Cuman di sini lebih estetik gitu,” pungkas Islahul. []

Editor: Della Novia Sandra