Ananda Safira Mirza Hasibuan | DETaK
Darussalam – Pada tanggal 05 Maret 2022 yang lalu, Universitas Syiah Kuala (USK) mengeluarkan Surat Edaran nomor 3 tahun 2022 tentang tindakan pencegahan penyebaran Covid-19 dalam lingkungan Universitas Syiah Kuala (USK). Salah satu poin dari surat tersebut berisi mengenai pemberlakuan kuliah tatap muka mulai tanggal 7 Maret 2022 hanya untuk angkatan 2021 dan tatap muka bersyarat untuk angkatan lainnya. Hal ini menuai banyak tanggapan dari mahasiswa maupun dosen, terutama di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) USK.
Nina Triana, mahasiswa FKIP Pendidikan Kesejahteraan Keluarga mengatakan bahwa mahasiswa sangat membutuhkan perkuliahan yang dilaksanakan secara tatap muka, ia merasa perkuliahan tatap muka lebih efektif.

“Perkuliahan luring ini perlu. Karena dengan kita belajar secara langsung, maka belajar bisa lebih efektif. Ada hal yang kurang dipahami pun bisa langsung tanya sama dosen yang bersangkutan. Tapi kita disuruh luring lagi pas udah ada isu tentang anak FKIP yang positif Covid jadi kan kita was-was kenapa bisa kita diwajibkan luring lagi padahal belum tentu semua yang terkena Covid kemarin sembuh total dalam waktu sesingkat ini,” ungkapnya.
Sependapat dengan Nina, Pelangi Olivia Wulandari, mahasiswa FKIP Bimbingan Konseling, juga mengatakan kurang setuju dengan kuliah daring karena kurang efektif dan materi perkuliah lebih susah untuk dipahami mahasiswa.
“Kurang efektif sih dan kurang setuju. Karena mahasiswa sekarang bosan sama daring. Kurang masuk aja materinya. Kalau luring kan bisa tanya langsung ke dosen jadi lebih masuk materinya. Setuju banget luring untuk semua angkatan sih karenakan kita udah vaksin semua. Asal memenuhi prokes yang ada, inshaAllah aman,” jelasnya.
Pelangi juga menjelaskan banyak manfaat yang bisa didapatkan oleh mahasiswa jika perkuliahan dilaksanakan secara luring.
“Karena satu sisi manfaat luring banyak ya. Yang pertama, relasi dan keakraban interaksi sosial lebih intens dan lebih terjaga. Mahasiswa juga lebih produktif kan karena UKM pada dibuka. Jadi bakat dan minat mahasiswa itu bisa dieksplorasi,” lanjutnya
Tidak hanya mahasiswa, beberapa dosen juga memberikan tanggapan terkait hal ini, salah satunya Martunis, Dosen FKIP Bimbingan dan Konseling. Martunis menjelaskan tidak ada perasaan takut ketika mengajar secara luring, karena mahasiswa sudah memiliki kesadaran diri yang cukup baik.
“Kalau kondisi sekarang, saya liat orang banyak sehat. Jadi ga ada perasaan was-was kalau luring, kecuali ada yang batuk, pilek, demam. Tapi biasanya ada kesadaran diri dari mahasiswanya. Saya kira bagus sikap dari mahasiswa, ketika dia merasa sakit, kebetulan metode belajar ada diskusi dan dia ketua kelompok, disampaikan ke kawan-kawan biar didaringkan,” jelasnya.
Akan tetapi, Martunis juga memberikan penjelasan bahwa perkuliahan secara daring juga memberikan beberapa manfaat bagi dosen, salah satunya inovasi penggunaan media belajar.
“Jadi dengan daring ini memberikan juga tambahan pengetahuan kita dalam penggunaan media pembelajaran. Mungkin dulu, dosen seperti saya, dosen yang sudah tua ni, perkuliahan dengan Zoom atau Google Meet jarang ya. Kalau sekarang sudah bisa. Jadi ada inovasi, ada kemampuan baru juga,” tambah Martunis.
Selain Martunis, Dosen Bahasa inggris FKIP USK, Zulvita juga mangatakan bahwa mengajar saat luring lebih efektif karena bisa langsung mengetahui kendala dari mahasiswanya.
”Kalau miss mensyukuri ini sebagai langkah awal. Mudah-mudahan, perlahan tapi pasti, keadaan mulai membaik dan perkuliahan bisa dilaksanakan luring secara penuh. Kalau pendapat pribadi sebagai pengajar bahasa, tentu saja mengajar secara luring itu lebih miss sukai dan lebih efektif. Karena sebagai pengajar, saya bisa mengetahui langsung di mana kendala student-nya,” ungkap Zulvita.
Meskipun begitu, Zulvita menganggap bahwa kuliah daring merupakan salah satu alternatif untuk saat ini. Namun, banyak kendala yang dihadapi dosen sehingga hal tersebut menjadi tantangan sendiri untuk tenaga pendidik khususnya dosen.
“Tapi terkait kondisi yang memang tidak bisa diprediksi, daring menjadi salah satu alternatif. Intinya, kalaupun kuliah secara daring, berarti dosen harus lebih survive dengan 1001 macam cara mengajar. Semua pihak lah. Ke depan kita tidak tau bagaimana kondisi yang akan kita hadapi, jadikan ini sebagai challenge dan terus berdo’a pada Allah supaya keadaan bisa membaik, jadi bisa kembali kuliah luring. Untuk saya pribadi sebagai pengajar bidang bahasa, memang lebih baik kuliah secara luring karena ada faktor nonverbal yang harus diperhatikan saat mengajar. Namun, saya tidak bisa memaksakan kehendak saya pribadi. Saya harus menyesuaikan dengan kondisi dan keputusan tim tempat saya mengabdi.”
“Saya pribadi ber-husnudzhon bahwa inilah yang terbaik untuk semua pihak,” tutupnya.[]
Editor: Sahida Purnama






![[DETaR] Tips Olahraga di Bulan Puasa Agar Tubuh Tetap Sehat dan Bugar](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/03/WhatsApp-Image-2026-03-15-at-15.23.21-100x75.jpeg)
![[DETaR] Ramadan dan Tantangan Menjaga Hidrasi Tubuh](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/03/Ilustrasi_Ramadhan-dan-Tantangan-Menjaga-Hidrasi-Tubuh-100x75.png)


