Beranda Buku Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam: Ketika Tradisi Menjadi Luka

Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam: Ketika Tradisi Menjadi Luka

BERBAGI
Buku Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam. (Shafna/DETaK)

Resensi | DETaK

Identitas Buku

Judul: Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam

Iklan Souvenir DETaK

Penulis: Dian Purnomo

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: 2021

Tebal: 320 halaman

ISBN: 978-602-064-845-3

Tentang Penulis

Dian Purnomo adalah penulis asal Salatiga yang dikenal lewat karya-karyanya yang sarat isu sosial dan keberpihakan terhadap perempuan. Ia banyak menulis tentang ketidakadilan gender dan suara-suara perempuan yang selama ini terbungkam oleh budaya dan sistem patriarki. Latar belakangnya sebagai seorang yang dekat dengan isu sosial menjadikan tulisannya terasa jujur dan menyentuh. Melalui novel Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam, Dian tidak hanya bercerita, tapi juga bersaksi atas ketimpangan yang terjadi di tengah masyarakat, khususnya di wilayah Sumba, Nusa Tenggara Timur.

Sinopsis

Novel ini bercerita tentang Magi Diela, seorang perempuan sarjana pertanian yang pulang ke kampung halamannya di Sumba dengan semangat untuk membangun tanah kelahirannya. Namun idealisme dan mimpi besarnya tiba-tiba hancur ketika ia menjadi korban adat kawin tangkap, tradisi yang dikenal dengan nama Yappa Mawine. Ia diculik dan dipaksa menikah oleh seorang pria bernama Leba Ali, demi menjaga “kehormatan” keluarga atas nama adat.

Kisah Magi adalah kisah banyak perempuan di dunia nyata: mereka yang tidak bersuara karena takut, tidak melawan karena miskin, dan tidak mengadu karena merasa malu membawa aib keluarga. Magi mengalami pergulatan batin yang dalam antara menerima nasib sebagai perempuan dalam tradisi, atau menolak sistem yang menindas dirinya. Ia dihadapkan pada kenyataan bahwa ketidakadilan sering dibungkus rapi dengan kata “adat” dan “takdir”.

Dian Purnomo menulis dengan gaya yang sangat emosional, membuat pembaca ikut merasakan sakit, takut, dan putus asa yang dialami Magi. Namun di balik itu, ada kekuatan dan keberanian yang tumbuh perlahan. Novel ini bukan sekadar kisah fiksi, melainkan panggilan hati bagi pembaca untuk berani mempertanyakan: apakah semua adat pantas dilestarikan hanya karena diwariskan?

Kelebihan Buku

Kekuatan utama buku ini terletak pada pesan sosialnya yang kuat dan keberanian penulis mengangkat topik yang sering dianggap tabu. Latar budaya Sumba yang autentik membuat cerita terasa hidup dan nyata. Pembaca seperti diajak masuk ke dalam dunia yang jarang tersentuh media, tempat di mana perempuan masih dianggap sebagai milik, bukan manusia utuh.

Gaya bahasa Dian Purnomo juga mengalir lembut tapi tajam, mengajak pembaca merenung tanpa menggurui. Ia tidak hanya menulis tentang Magi, tapi juga tentang semua perempuan yang menangis diam-diam di bawah “bulan hitam” kehidupan mereka. Buku ini membuka mata bahwa tidak semua adat pantas dipertahankan. Ada adat yang harus diubah, bahkan dihapus, jika hanya melahirkan luka dan ketidakadilan.

Kekurangan Buku

Beberapa bagian dalam novel terasa berat dan emosional, membuat pembaca harus berhenti sejenak untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan. Penggunaan istilah dan bahasa lokal Sumba juga bisa sedikit menyulitkan bagi yang tidak terbiasa, meski penulis sudah memberi catatan kaki untuk membantu memahami konteks budaya tersebut. Namun justru di situlah letak kejujuran karya ini apa adanya, tanpa kompromi terhadap kenyataan pahit yang ingin diungkapkan.

Kesimpulan

Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam adalah karya yang menggugah nurani. Ia menyuarakan keheningan perempuan yang selama ini dianggap wajar untuk diam, dan menampar kesadaran bahwa ketidakadilan tidak bisa dibenarkan hanya karena dibungkus oleh adat.

Buku ini mengajarkan bahwa perempuan punya hak untuk bersuara, menolak, dan menentukan nasibnya sendiri. Dan  tidak semua adat harus dilestarikan karena ada adat yang lahir dari ketimpangan, bukan dari nilai kemanusiaan.

Penulis bernama Shafna, Mahasiswi Jurusan Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala.

Editor : Amirah Nurlija Zabrina