Resensi | DETaK
Identitas Film
Judul: 3 Body Problem
Genre: Sci-Fi, Mystery, Drama
Sutradara / Kreator: David Benioff, D. B. Weiss, Alexander Woo
Pemeran utama: Jess Hong, Jovan Adepo, John Bradley, Rosalind Chao, Liam Cunningham, Eiza González, Alex Sharp, Benedict Wong, Jonathan Pryce
Negara: Amerika Serikat
Bahasa: Inggris dan Mandarin
Jumlah musim: 1 musim, 8 episode
Tanggal penayangan perdana: 21 Maret 2024
Sinopsis

Serial 3 Body Problem menghadirkan dunia sains fiksi yang menegangkan sekaligus penuh misteri, dengan karakter-karakter yang memiliki latar belakang berbeda namun terikat oleh satu masalah besar, yaitu ancaman dari luar bumi. Cerita dimulai dari masa Revolusi Kebudayaan di Tiongkok pada tahun 1960-an, ketika seorang ilmuwan bernama Ye Wenjie (Rosalind Chao), yang ayahnya adalah seorang profesor fisika, dibunuh di depan matanya karena dianggap pengkhianat. Trauma itu membuat Ye Wenjie kehilangan harapannya pada manusia. Ia akhirnya bergabung dengan sebuah proyek rahasia militer bernama Red Coast, yang meneliti komunikasi luar angkasa. Dari sinilah tragedi besar dimulai, karena Ye Wenjie diam-diam mengirim sinyal ke luar angkasa dan mendapatkan jawaban dari sebuah peradaban asing bernama San-Ti, atau juga bisa disebut Trisolaris.
Di masa kini, kita diperkenalkan dengan sekelompok ilmuwan muda. Mereka adalah karakter-karakter utama yang menjadi pusat cerita. Jin Cheng (Jess Hong) adalah seorang ilmuwan dan matematikawan muda yang pintar tapi skeptis. Lalu ada Jack Rooney (John Bradley), seorang astronom profesional yang cerdas dan cepat tanggap. Saul Durand (Jovan Adepo) digambarkan sebagai ilmuwan yang penuh keraguan, sering merasa tidak pantas namun justru menjadi sosok penting. Kemudian Will Downing (Alex Sharp), sosok yang pendiam dan penyayang, adalah seorang guru fisika di tingkat sekolah menengah atas di Inggris, namun diam-diam menyimpan rahasia besar. Ada juga Auggie Salazar (Eiza González), ilmuwan nanoteknologi yang kariernya terancam ketika ia menyadari ada kekuatan luar yang berusaha menghentikan penelitiannya.
Di sisi lain, ada karakter detektif unik bernama Da Shi (Benedict Wong), yang cerdas. Ia berperan penting sebagai penghubung antara para ilmuwan dengan dunia investigasi, karena kejanggalan yang mereka temukan ternyata berhubungan dengan kasus kematian misterius sejumlah ilmuwan dunia. Dari titik inilah benang merah cerita mulai terlihat jika ada sesuatu yang besar sedang mengawasi umat manusia.
Film dimulai dengan momen Vera Ye (Vedette Lim), teman dari kelompok ilmuwan muda, ditemukan meninggal dunia secara misterius. Kematian Vera Ye membuat seluruh kelompok terpukul. Mereka sangat dekat satu sama lain, dan Vera Ye adalah sosok yang cerdas sekaligus penuh semangat, selalu menjadi pengingat bagi teman-temannya untuk tidak menyerah menghadapi masalah. Kepergian Vera Ye meninggalkan banyak pertanyaan: mengapa dia melakukan itu? Apa yang membuatnya sampai mengambil keputusan tragis tersebut?
Jin Cheng dan teman-temannya merasa bersalah sekaligus bingung, berusaha memahami pikiran Vera Ye, sambil menelusuri jejak yang ditinggalkannya. Di tengah kesedihan itu, Jin menemukan sebuah alat permainan misterius yang ditinggalkan oleh Vera Ye. Alat ini awalnya terlihat seperti mainan biasa, namun ada pesan penting yang disertakan. Saat Jin Cheng menggunakan alat itu, ia dibawa ke sebuah simulasi yang mengungkap lebih dalam tentang Three Body, dunia virtual yang terkait dengan peradaban Trisolaris.
Setelah Jin Cheng menceritakan tentang alat permainan misterius milik Vera kepada teman-temannya, Jack Rooney, yang penasaran, langsung tertarik untuk mempelajarinya lebih dalam. Tak disangka, alat itu secara tiba-tiba muncul di ruang tamu rumah Jack Rooney, seolah memanggil mereka untuk menggunakannya. Tanpa membuang waktu, Jin Cheng dan Jack Rooney memutuskan untuk bekerja sama, mencoba menyelesaikan game yang ada di dalam alat tersebut. Auggie Salazar, yang masih trauma akibat kehilangan Vera Ye, merasa cemas. Ia menyuruh Jin Cheng dan Jack Rooney untuk berhenti menggunakan alat itu, khawatir mereka bisa berakhir seperti Vera Ye.
Setelah Jin Cheng dan Jack Rooney berhasil memecahkan teka-teki yang ada di dalam game tersebut, mereka dikejutkan dengan munculnya sebuah pesan misterius yang mengundang mereka untuk bertemu dengan Tatiana Hass (Marlo Kelly), sosok yang ternyata bertanggung jawab atas game tersebut. Pertemuan dengan Tatiana ternyata bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan sebuah undangan untuk bergabung dengan perkumpulan rahasia para pemuja Trisolaris. Kelompok ini terdiri dari manusia yang percaya bahwa kedatangan Trisolaris ke bumi adalah hal yang tak terelakkan, bahkan ada yang menganggapnya sebagai jalan bagi umat manusia untuk “berevolusi” di bawah arahan peradaban alien tersebut.
Setelah menyadari bahaya besar yang akan datang dari Trisolaris dan melihat ekstremisme para pemuja alien, Jin Cheng memutuskan bahwa ia harus mengambil tindakan lebih nyata untuk mencegah kedatangan Trisolaris ke bumi. Kesadaran ini muncul ketika ia melihat konsekuensi langsung dari permainan virtual dan strategi yang digunakan perkumpulan pemuja Trisolaris. Untuk menghadapi ancaman yang semakin nyata, Jin mencari bantuan dari orang yang memiliki pengalaman investigasi dan sumber daya di dunia nyata, sehingga ia akhirnya bekerja sama dengan detektif Da Shi.
Melihat skala ancaman yang semakin nyata, Jin Cheng kemudian mengajak teman-temannya untuk bergabung dengannya dalam mengembangkan Proyek Staircase, sebuah inisiatif ambisius yang dirancang untuk menghentikan kedatangan Trisolaris ke bumi. Proyek ini bukan hanya soal sains dan teknologi, tetapi juga tentang kerja sama, kepercayaan, dan pengorbanan seluruh tim. Setiap anggota memberikan kontribusi uniknya, dari kemampuan analisis ilmiah hingga strategi pemecahan teka-teki kompleks. Dengan tekad untuk melindungi umat manusia, mereka bekerja tanpa henti, menyadari bahwa masa depan bumi tergantung pada keberhasilan mereka. Proyek Staircase menjadi simbol harapan, keberanian, dan kemampuan manusia untuk bersatu menghadapi ancaman yang tampaknya tak terbayangkan, sekaligus menutup perjalanan serial ini dengan pesan bahwa kerja sama dan kecerdikan manusia bisa menjadi senjata paling kuat melawan ketidakpastian alam semesta.
Penulis bernama Mauliza Araska, Mahasiswi program studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Khalisha Munabirah










