Resensi | DETaK
Judul Film: Not Friends
Genre : Coming-of-Age, Komedi dan Drama

Sutradara & Penulis: Atta Hemwadee (debut penyutradaraan)
Produser : Vanridee Pongsittisak Baz Poonpiriya
Penulis : Atta Hemwadee
Pemeran : Thitiya Jirapornsilp, Pisitphon Ekphongpisit, Anthony Buizeret, Tanakorn Tiyanont Natticha Chantaravareelekha
Sinematografer : Pasit Tandaechanurat
Perusahaan produksi: Houseton Films
Distributor : GDH 559
Tanggal rilis : 26 Oktober 2023 (Thailand), 24 Januari 2024 (Indonesia)
Durasi : 2 Jam 10 Menit
Rating IMDb: 7.4/10
Negara : Thailand.
Sumber: Wikipedia artikel “Not Friends (film)” bahasa Inggris, diperbarui 9 Oktober 2023
Film Not Friends menceritakan tentang Pae, seorang anak SMA yang pindah sekolah di tengah semester kelas 12. Beliau bersikap sinis dan bertemu dengan teman sebangkunya yang bernama Joe yang di kenal ramah pada siapa saja. Pertemuan dengan Joe ternyata membawa banyak perubahan pada hidup Pae. Setelah Joe meninggal secara tiba tiba, Pae mencoba membuat film untuk mengenang temannya yang awalnya sebagai peluangnya untuk masuk universitas namun perjalanan pembuatan film yang dia buat malah membawanya menemukan beragam fakta yang kemudian mengubah pandangan Pae terhadap mimpi hidup serta persahabatan.
Film ini tidak hanya menyajikan bagaimana kehidupan sosialisasi yang di rasakan oleh anak remaja, namun juga mengajarkan arti dari menghargai dan kenangan. Film ini telah menjadi salah satu nominasi yang Thailand kirimkan ke Oscar pada tahun 2024. Film ini dibungkus menarik dengan alur cerita yang ringan, di bumbui humor namun mampu menyentuh emosi dan sentimental. Alur film ini juga seru karena dia terasa mengikuti flow yang ternyata menyajikan dan membongkar hal- hal baru dalam scenenya.
Masing-masing karakter yang ada dalam film ini terasa realistis, dari Pae yang awalnya cuek akhirnya menjadi teman dekat Joe. Ditambah juga scene yang menunjukkan kompleksitas Perasaan dalam kehidupan dan persahabatan. Seperti setelah Joe meninggal, bagaimana yang awalnya Pae hanya ingin memanfaatkan hal tersebut untuk membuat film kepentingan pribadi malah berubah menjadi membuat sebuah karya yang ia ingin dedikasikan kepada temannya. Interaksi yang terjadi di antara masing-masing karakter juga menunjukkan terang dan gelapnya kisah sebuah persahabatan, dari Joe yang bawa perubahan bagi diri Pae. Persahabatan Joe dan Bokeh yang selesai karena Bokeh membongkar rahasia Joe.
Bagian menarik dalam film ini adalah saat bagian Pae membayangkan semesta lain dimana Joe masih hidup dan melakukan aktivitas seperti biasa terus bersamanya. Ketulusan yang ada dalam hati kita pada seseorang akan tetap terasa walaupun mereka sudah tidak Bersama kita. Pae yang akhirnya sadar bahwa dia menyayangi sahabatnya, dan menyadari betapa besar perubahan yang Joe bawa dalam hidupnya.
Film ini di tutup dengan Pae yang tidak di terima di universitas dan membantu ayahnya di pabrik, Tapi akhirnya mendapatkan kesempatan untuk magang di dunia perfilman. Bagian ini menunjukkan bahwa setiap hal itu pasti ada prosesnya, dan tidak selamanya instan.
Alur ceritanya yang simpel dan mengalir memungkinkan penonton untuk mengikuti tanpa merasa terbebani oleh kerumitan yang berlebihan. Karakter-karakternya dirancang dengan realisme dan kedalaman emosional, terutama perkembangan karakter Pae yang dari semula sinis berubah menjadi lebih terbuka, sehingga narasinya terasa hidup dan mudah terhubung dengan pengalaman nyata.
Film ini menyampaikan pesan moral yang penting tentang persahabatan, pentingnya menghargai orang-orang di sekeliling, serta usaha meraih impian dengan cara yang menggugah dan penuh inspirasi. Selain itu, elemen humor yang dihadirkan dalam film ini membantu menyeimbangkan antara adegan dramatis dan hiburan, membuat penonton tidak merasa terlalu terbebani saat menontonnya. Salah satu bagian yang menarik adalah adegan imajinasi yang menggambarkan dunia lain di mana Joe masih hidup yang menambah lapisan emosional pada film serta menekankan pentingnya orisinalitas karya dalam dunia kreatif.
Di sisi lain, film tersebut juga memiliki beberapa kekurangan. Dengan durasi 2 jam 10 menit, terkadang terasa cukup panjang untuk kategori coming-of-age, sehingga beberapa bagian bisa terasa lambat dan kurang dinamis. Beberapa subplot, seperti konflik antara Joe dan karakter Bokeh, tidak dieksplorasi secara mendalam sehingga meninggalkan tanda tanya mengenai motivasi karakter tersebut.
Penutupan cerita yang menunjukkan Pae tidak diterima di universitas dan hanya mendapatkan kesempatan magang di industri film mungkin akan terasa kurang memuaskan bagi beberapa penonton yang mengharapkan akhir yang lebih optimis dan jelas. Selain itu, alur film yang terlalu ringan juga membuat beberapa momen dramatis menjadi kurang menegangkan dan mengurangi tekanan emosional yang kuat bagi penonton yang ingin merasakan ketegangan lebih dalam sebuah cerita.
Film ini mengajarkan bagaimana kita harus menghargai orang di sekitar kita sekagi mereka masih bersama dengan kita, juga melihat bahwa kedekatan yang terjadi dalam persahabatan adalah bagaimana saling terbuka dan memahami satu sama lain. Bagian dimana Pae merelakan kerja kerasnya dalam membuat video untuk menghormati hak si pemilik asli cerita yang dia kerjakan juga menunjukkan pentingnya memperjuangkan orisinalitas karya dan menghormati pemilik ide, sebuah nilai penting dalam dunia kreatif.
Not Friends mengingatkan agar setiap orang belajar menjadi teman yang baik dengan saling menghargai, memberi semangat, serta berani meminta maaf jika berbuat salah, karena itulah inti persahabatan yang sehat. Terakhir, pesan moral film ini memberi inspirasi bahwa tidak apa-apa menjadi orang biasa-biasa saja, selama terus berusaha dan mengejar mimpi dengan bahagia, sekecil apapun mimpi itu. Pesan-pesan ini disampaikan dengan ringan namun penuh makna, sehingga membuat “Not Friends” menjadi film yang bukan sekadar hiburan, tetapi juga refleksi mendalam tentang makna persahabatan dan kehidupan.
Pesan yang di berikan oleh film ini relate dengan kehidupan sosial yang kita rasakan sehari-hari. Dimana film ini menunjukkan realitas dalam hubungan dan persahabatan dari konflik komunikasi, kurangnya rasa menghargai dan kurangnya komunikasi yang sering menjadi penyebab konflik dalam hubungan yang kita jalani.
Melalui film ini juga mengajarkan tidak apa apa menjadi orang biasa yang terus meraih mimpi daripada melakukan cara yang tidak baik hanya untuk mendapatkan sesuatu, relate dengan sekitar kita dimana banyak individu yang melakukan segala cara demi menang dan tidak ingin ketinggalan dengan orang lain, padahal tidak ada salahnya jika masih berproses dan tidak terburu-buru.
Penulis bernama Wanda Amelia Hutasuhut, Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala
Editor: Amirah Nurlija Zabrina










