Beranda Pemira USK Begini Langkah Mahasiswa Pertanian Meminimalisir Golput dalam Pemira USK 2022

Begini Langkah Mahasiswa Pertanian Meminimalisir Golput dalam Pemira USK 2022

BERBAGI
Ilustrasi. (Wendi Amiria/DETaK)

Rifdah Afifah Bardan | DETaK

Darussalam – Fakultas Pertanian menetapkan beberapa mekanisme guna untuk meminimalisir Golongan Putih (Golput) pada Pemira 2022. Dengan bantuan Korlet (Koordinator Leting) yang memandu rekannya untuk ikut memilih dan memantau yang sudah ikut. Hal itu dilakukan dengan cara mengadakan list nama mahasiswa yang telah ikut memilih di grup angkatan dan jurusan masing-masing. Adapun sistem list nama dilakukan dalam jangka waktu tiap 2 jam sekali.

Alfi Syahri Nurazis, Koordinator Letting Jurusan Teknologi Hasil Pertanian 2019 mengatakan bahwa mekanisme seperti ini telah dilakukan sejak beberapa kali Pemira. Ia berpendapat bahwa mekanisme list nama lebih efektif karena dapat mengetahui secara langsung siapa saja yang telah melakukan voting.

Iklan Souvenir DETaK

“Awal mula munculnya mekanisme seperti ini setau saya sudah ada dari beberapa kali pemilu, apalagi semenjak kuliah diadakan secara onlline. Mekanisme seperti ini terbilang lebih efektif, karena kita dapat mengetahui secara langsung apa yang dipilih atau divoting oleh masing-masing peserta calon karena adanya bukti screenshot sudah memilih dan kita bisa mengetahui siapa saja yang voting dan tidak voting. Setahu saya mekanisme seperti ini berlaku untuk satu Fakultas Pertanian dan sudah disepakati oleh seluruh ormawa di setiap jurusan yang ada di Fakultas Pertanian,” ujarnya.

Alfy menyebutkan bahwa kendala yang dialami adalah mahasiswa lupa men-screeshot hasil votingnya, salah mengisi nomor pilihan, serta lupa atau belum melakukan voting.

“Kendalanya sampai saat ini mungkin belum terlalu nampak, dikarenakan juga untuk mengumpulkan data mahasiswa yang sudah atau belum voting ini cukup dengan peserta mengirimkan bukti screenshot kalau sudah ataupun belum mengisi voting dan akan diabsen ataupun di-list di grup letting siapa saja yang sudah dan belum memvoting. Paling hal-hal yang terjadi seperti peserta lupa men-screenshot hasil votingnya, terus mungkin ada yang salah isi nomor pilihan yang sudah disepakati ataupun mungkin ada juga yang memang lupa ataupun belum sempat mengisi voting,” imbuh Alfy.

Alfy mengaku tak merasa begitu kesulitan dalam mengkoordinir mahasiswa, namun perlu usaha lebih untuk mengajak anggota lettingnya untuk melakukan voting.

“Kesulitan dalam mengkoordinir mahasiswa untuk melakukan e-voting menurut saya juga tidak begitu sulit, dikarenakan memang mahasiswa juga umumnya sudah mengerti dan paham bagaimana caranya melakukan e-voting. Hanya saja mungkin usaha lebih sebagai koordinator letting untuk bisa terus mengajak dan mengayomi massa anggota lettingnya masing-masing untuk sepakat memilih nomor urut calon yang sesuai dengan hasil yang sudah disepakati bersama,” pungkas Alfy.[]

Editor: Indah Latifa