Beranda Headline Ayam Taliwang: Ikon Kuliner Khas Nusa Tenggara Barat

[DETOuR] Ayam Taliwang: Ikon Kuliner Khas Nusa Tenggara Barat

BERBAGI
Ilustrasi. (Jihan Salsabila Fadma/DETaK)

Artikel | DETaK

Nusa Tenggara Barat atau yang sering disebut NTB merupakan provinsi di Indonesia yang terletak di Kepulauan Nusa Tenggara, beribu kota di Kota Mataram. Wilayah yang dijuluki Bumi Gora ini terbagi menjadi dua pulau utama, yakni Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, beserta ratusan pulau kecil yang memiliki keindahan alam serta kekayaan budaya yang beragam. NTB sendiri sangat terkenal dengan destinasi wisata dengan pantai yang indah, gunung yang megah, dan tradisi masyarakat yang masih terjaga, NTB juga memiliki kekayaan kuliner yang menjadi bagian penting dari identitas daerahnya.

Setiap tahun NTB banyak dikunjungi oleh para wisatawan yang ingin berlibur menikmati pemandangan alam sekaligus menjelajahi kulineran. Tidak afdol rasanya apabila kita berkunjung ke suatu daerah tanpa mencoba makanan khas daerah tersebut. 

Iklan Souvenir DETaK

NTB sendiri memiliki ciri khas kuliner perpaduan budaya, tradisi, serta pemanfaatan rempah-rempah lokal yang menghasilkan cita rasa khas, terutama rasa pedas, gurih, dan kaya akan bumbu. Setiap daerah di NTB memiliki makanan tradisional yang unik dan diwariskan secara turun-temurun. Berbagai hidangan tersebut tidak hanya menjadi konsumsi sehari-hari masyarakat, tetapi juga menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat budaya lokal melalui makanan.

Di antara berbagai kuliner khas yang dimiliki Nusa Tenggara Barat, Ayam Taliwang menjadi salah satu hidangan yang paling terkenal dan telah menjadi ikon kuliner daerah ini. Cita rasanya yang khas, proses pengolahannya yang unik, serta nilai budaya yang melekat menjadikan ayam taliwang sebagai salah satu warisan kuliner yang patut diperkenalkan dan dilestarikan. 

Ayam taliwang merupakan salah satu kuliner tradisional yang berasal dari Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Hidangan ini telah dikenal luas sebagai ikon kuliner daerah karena memiliki cita rasa yang khas, yaitu perpaduan pedas, gurih, dan sedikit manis. 

Nama ayam taliwang berasal dari Kerajaan Taliwang yang berada di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, kemunculan kuliner ini berkaitan dengan peristiwa peperangan yang terjadi sekitar abad ke-17 atau sekitar tahun 1630 Masehi antara Kerajaan Selaparang di Pulau Lombok dan Kerajaan Karangasem di Pulau Bali.

Pada masa itu, Kerajaan Selaparang meminta bantuan kepada Kerajaan Taliwang untuk menjadi penengah dalam menyelesaikan konflik dengan Kerajaan Karangasem. Sebagai bentuk dukungan terhadap misi perdamaian tersebut, Kerajaan Taliwang mengutus sejumlah kesatria yang terdiri atas pemuka agama Islam, juru kuda, serta juru masak kerajaan. Masing-masing memiliki tugas yang berbeda. Para pemuka agama berperan membangun hubungan baik dan melakukan pendekatan diplomatik, juru kuda bertugas merawat kendaraan perang, sedangkan juru masak bertanggung jawab menyiapkan logistik dan makanan bagi rombongan.

Dalam perjalanan misi tersebut, para juru masak Kerajaan Taliwang menyajikan hidangan ayam berbumbu pedas yang dikenal sebagai ayam pelalah. Masakan ini kemudian diperkenalkan kepada masyarakat Sasak di Lombok. Melalui interaksi yang berlangsung selama misi perdamaian, masyarakat Sasak dan rombongan dari Taliwang saling berbagi pengetahuan mengenai cara mengolah makanan serta penggunaan rempah-rempah. Dari proses akulturasi budaya inilah lahir hidangan yang kemudian dikenal sebagai ayam taliwang.

Konon, hidangan tersebut juga disukai oleh Raja Karangasem. Keberhasilan misi diplomasi yang diiringi dengan sajian kuliner ini menjadi simbol terciptanya perdamaian antara Kerajaan Selaparang dan Kerajaan Karangasem. Ayam taliwang pun tidak hanya dikenal sebagai makanan lezat, tetapi juga sebagai simbol persatuan, perdamaian, dan perpaduan budaya antara masyarakat Taliwang dan Sasak.

Sebagai bentuk penghargaan atas keberhasilan para kesatria Taliwang dalam menyelesaikan konflik, Raja Karangasem memberikan sebidang tanah kepada masyarakat Taliwang di wilayah yang kini menjadi Kota Mataram. Kawasan tersebut kemudian dikenal sebagai Karang Taliwang. Di daerah inilah tradisi memasak ayam taliwang terus berkembang dan sering disajikan dalam berbagai upacara kerajaan maupun acara penting lainnya.

Sejak tahun 1960-an hingga sekarang, popularitas ayam taliwang terus meningkat. Hidangan ini tidak lagi hanya dikenal oleh masyarakat Lombok, tetapi telah menjadi salah satu ikon kuliner Nusa Tenggara Barat yang dapat ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Dengan cita rasa pedas yang khas serta sejarah panjang yang melatarbelakanginya, ayam taliwang menjadi salah satu warisan kuliner Nusantara yang mencerminkan kekayaan budaya, tradisi, dan nilai persatuan masyarakat Nusa Tenggara Barat.

Dalam proses pembuatan ayam taliwang menggunakan ayam kampung yang masih muda, biasanya ayam kampung memiliki tekstur daging lebih kenyal dan rasa yang lebih gurih. Ayam tersebut kemudian dibakar di atas bara api, memberikan sentuhan asap yang menambah kekayaan cita rasa pada hidangan. 

Untuk bumbu ayam taliwang sendiri terbuat dari campuran cabai rawit, bawang merah, bawang putih, terasi, tomat, dan rempah-rempah lainnya seperti kemiri dan kunyit. Semua bahan ini dihaluskan hingga menjadi bumbu yang kaya akan rasa pedas, gurih, dan sedikit manis. Kadang-kadang, ada tambahan air jeruk nipis atau asam jawa untuk memberikan rasa segar dan sedikit asam yang menyeimbangkan kepedasan bumbu. Setelah dibumbui, ayam lalu dibakar hingga kulitnya berwarna kecokelatan dan renyah, sementara dagingnya tetap juicy di dalam. 

Biasanya dalam penyajian ayam taliwang hampir selalu digabung dengan plecing kangkung, yaitu sayuran kangkung segar yang disiram sambal tomat pedas dan diberi taburan kacang tanah serta kelapa parut. Hidangan ini biasanya juga dilengkapi dengan nasi putih hangat, beberuk terong, dan sambal khas Lombok. Kombinasi tersebut menciptakan perpaduan rasa pedas, gurih, dan segar yang menjadi ciri khas kuliner Nusa Tenggara Barat.

Selain menjadi makanan favorit masyarakat setempat, ayam taliwang juga memiliki nilai budaya dan ekonomi yang tinggi. Hidangan ini banyak dijumpai di rumah makan tradisional maupun restoran khas Lombok di berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, ayam taliwang sering dijadikan salah satu menu utama dalam berbagai acara adat, jamuan keluarga, hingga penyambutan tamu. Kepopulerannya turut mendukung perkembangan sektor pariwisata karena banyak wisatawan yang menjadikan ayam taliwang sebagai kuliner wajib saat berkunjung ke Nusa Tenggara Barat.

Keberadaan ayam taliwang menunjukkan bahwa kuliner tidak hanya berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya suatu daerah. Melalui cita rasa yang khas dan proses pembuatannya yang masih mempertahankan resep tradisional, ayam taliwang menjadi salah satu warisan kuliner Indonesia yang patut dijaga dan dilestarikan agar tetap dikenal oleh generasi mendatang.

Penulis bernama Zalifa Naiwa Belleil, Mahasiswi Program Studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Kamilina Junita Damanik