Beranda Artikel Rafah: Kota di Gaza yang Rata dengan Tanah

Rafah: Kota di Gaza yang Rata dengan Tanah

BERBAGI
Ilustrasi. (Neni Raina Mawaddah/DETaK)

Artikel | DETaK

Rafah merupakan sebuah kota yang pernah menjadi titik perlindungan terakhir bagi ratusan ribu warga Palestina, kini berubah menjadi hamparan puing. Rafah yang terletak di selatan Jalur Gaza dan berbatasan langsung dengan Mesir mengalami kehancuran luas akibat operasi militer berkepanjangan.

Secara administratif, Rafah masih tercatat sebagai kota. Namun, di lapangan, sebagian besar wilayahnya tak lagi menyerupai kawasan permukiman yang hidup. Bangunan runtuh, jalan terputus, dan fasilitas publik lumpuh total.
Pada awal eskalasi konflik terbaru antara Israel Defense Forces dan Hamas, Rafah menjadi tujuan utama pengungsian internal. Warga dari Gaza bagian utara dan tengah bergerak ke selatan setelah menerima peringatan evakuasi.
Populasi kota melonjak drastis dalam waktu singkat. Tenda-tenda pengungsian memenuhi lahan kosong, halaman rumah, hingga tepi jalan. Sekolah dan fasilitas umum berubah fungsi menjadi tempat penampungan darurat. Namun, ketika operasi militer meluas ke wilayah selatan, Rafah yang sebelumnya disebut sebagai “zona aman relatif” justru menjadi pusat pertempuran baru.

Iklan Souvenir DETaK

Sejumlah laporan investigatif dan citra satelit menunjukkan tingkat kehancuran yang sangat tinggi di Rafah. Permukiman warga diratakan, gedung pemerintahan hancur, dan infrastruktur dasar seperti jaringan air, listrik, serta sanitasi mengalami kerusakan berat.

Buldoser dan alat berat dilaporkan digunakan untuk merobohkan bangunan yang tersisa setelah serangan udara. Beberapa kawasan bahkan digambarkan sebagai “tanah kosong” tanpa struktur yang masih berdiri utuh. Rumah sakit yang sebelumnya menjadi tumpuan ribuan pengungsi mengalami kerusakan atau berhenti beroperasi karena kekurangan pasokan dan risiko keamanan. Sistem pelayanan publik praktis lumpuh.

Gelombang pengungsian kedua terjadi ketika warga yang telah berlindung di Rafah kembali diperintahkan untuk meninggalkan kota. Banyak keluarga yang sebelumnya telah kehilangan rumah di utara kini kembali terusir dari tempat perlindungan terakhir mereka. Sebagian warga bergerak ke wilayah pesisir atau kamp-kamp darurat lain di Gaza yang juga memiliki keterbatasan fasilitas. Ada pula yang terjebak di tengah wilayah konflik tanpa akses memadai terhadap bantuan kemanusiaan.

Di beberapa area, Rafah dilaporkan nyaris kosong dari aktivitas sipil. Jalan-jalan utama sepi. Bangunan yang tersisa berdiri tanpa penghuni. Kota yang dahulu padat kini berubah menjadi ruang sunyi yang dipenuhi debu dan reruntuhan. Kehancuran Rafah bukan hanya persoalan fisik. Aktivitas ekonomi lokal berhenti total. Pasar tradisional yang dulu menjadi pusat perdagangan tidak lagi beroperasi. Usaha kecil, toko kelontong, hingga bengkel warga hilang bersama bangunan yang menaunginya.

Anak-anak kehilangan akses pendidikan karena sekolah rusak atau digunakan sebagai lokasi pengungsian sementara. Layanan kesehatan yang terbatas membuat penanganan korban luka maupun penyakit kronis menjadi sangat sulit.
Dalam konteks sosial, hilangnya Rafah berarti hilangnya ruang interaksi komunitas seperti masjid, pusat kegiatan masyarakat, dan lingkungan tempat warga membangun hubungan sosial selama bertahun-tahun.

Sebagai kota yang berbatasan dengan Mesir, Rafah memiliki akses strategis karena terdapat perlintasan yang selama ini menjadi jalur distribusi bantuan kemanusiaan. Ketika akses ini terganggu akibat situasi keamanan dan penguasaan militer, distribusi logistik ke wilayah Gaza ikut terdampak. Pengiriman makanan, obat-obatan, serta bahan bakar menjadi tidak stabil. Organisasi kemanusiaan menghadapi tantangan besar dalam menjangkau warga yang masih berada di sekitar wilayah tersebut.

Istilah “kota yang menghilang” tidak merujuk pada lenyapnya nama Rafah dari peta dunia, melainkan pada runtuhnya struktur fisik dan sosial yang membentuk kehidupan di dalamnya. Kota ini masih tercantum sebagai bagian dari Jalur Gaza, namun fungsinya sebagai ruang hidup hampir sepenuhnya hilang.

Para pakar konflik menyebut kehancuran Rafah sebagai salah satu contoh paling nyata dari dampak perang modern terhadap kawasan perkotaan padat penduduk. Ketika pertempuran terjadi di lingkungan sipil, konsekuensinya bukan hanya kerusakan infrastruktur, tetapi juga pemindahan populasi dalam skala besar dan kehancuran sistem sosial.
Pemulihan Rafah diperkirakan akan membutuhkan waktu bertahun-tahun, bahkan dalam skenario gencatan senjata penuh. Rekonstruksi tidak hanya mencakup pembangunan kembali rumah dan fasilitas publik, tetapi juga pemulihan jaringan air, listrik, dan layanan dasar. Lebih dari itu, membangun kembali kota berarti mengembalikan rasa aman bagi warga untuk kembali menetap. Tanpa jaminan stabilitas keamanan, upaya pembangunan berisiko terhenti atau kembali rusak.

Rafah kini menjadi simbol kehancuran kota akibat konflik bersenjata. Dari pusat pengungsian yang penuh sesak hingga wilayah yang sebagian besar rata dengan tanah, transformasi Rafah berlangsung dalam waktu singkat namun meninggalkan dampak jangka panjang.

Kota itu belum sepenuhnya hilang dari peta. Namun, bagi warga-warganya, Rafah yang mereka kenal dengan rumah, pasar, sekolah, dan kehidupan sehari-hari telah lenyap dan hanya tersisa kenangan semata.

Penulis bernama Husniyyati, Mahasiswi Prodi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Naisya Alina