Beranda Artikel Pengaruh Kebiasaan Menonton BL Terhadap Proses Normalisasi LGBT dalam Masyarakat

Pengaruh Kebiasaan Menonton BL Terhadap Proses Normalisasi LGBT dalam Masyarakat

BERBAGI
Salah satu poster film dengan genre Boy's Love (BL). (Dok. Ist)

Artikel | DETaK

Dunia hiburan terutama film menjadi sebuah hal yang tentunya tidak lepas dari kehidupan kita, ada yang menjadikan menonton sebagai sebuah hobi dan keharusan ada juga yang mungkin tidak tertarik dengan hal tersebut. Industri film pun kian lama makin banyak perubahan di dalamnya, termasuk munculnya genre baru yakni Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) khususnya Boys Love ( BL). Awalnya, genre BL muncul sebagai manga di Jepang pada tahun 1970-an yang mengangkat hubungan romantis antara dua pria.

Genre ini kemudian meluas ke berbagai media seperti anime, drama televisi, dan film, serta menyebar ke negara-negara Asia lainnya seperti Thailand, Taiwan, dan Korea Selatan, di mana produksinya semakin banyak dan populer. Padahal, di awal masuknya LGBT di dalam dunia film hanya sebagai sebuah topping atau di jadikan candaan atau untuk menggambarkan keadaan LGBT yang masa itu masih di anggap hal yang tidak wajar.

Iklan Souvenir DETaK

Namun, sekarang LGBT khususnya genre Boys Love ( BL) telah menjadi dibangun menjadi sebuah genre sendiri yang membungkus cerita percintaan dua laki-laki dengan beragam konsep mulai dari horror, thriller dsb. Thailand, dengan kondisi sosial yang sudah terbuka dengan LGBT menjadi salah satu negara penghasil BL terbanyak. Data menunjukkan bahwa sejak tahun 2014, produksi drama BL di Thailand meroket dengan audience share tumbuh dari 5% menjadi 34% antara 2019 dan 2020 pada layanan streaming LINE TV.

Dikatakan juga  bahwa penggemar dan penonton genre ini di dominasi oleh kalangan perempuan, khususnya yang berusia 11-27 tahun dan sebagian besar adalah pelajar serta mahasiswa. Studi dari IDN Times (2020) menyebutkan bahwa penonton perempuan ini menikmati serial BL terutama dari Thailand karena alur cerita romantis dan karakter yang emosional, walaupun mereka sering merasa harus merahasiakan preferensi menonton tersebut karena stigma sosial (Yunita, 2021).

Paparan atau kebiasaan mengonsumsi genre ini dalam media secara tidak sadar akan membuat kita menormalisasikan LGBT. Kebiasaan menonton genre Boys’ Love (BL) yang intensif dapat mendorong proses normalisasi orientasi seksual yang selama ini dianggap menyimpang melalui mekanisme paparan media. Dalam teori komunikasi, khususnya Teori Penanaman (Cultivation Theory) yang dikemukakan oleh George Gerbner, paparan media yang berulang-ulang akan membentuk persepsi dan sikap individu terhadap realitas sosial sejalan dengan konten yang disajikan. Dengan intensitas menonton BL yang tinggi, penonton cenderung mulai menganggap bahwa hubungan sesama jenis adalah sesuatu yang wajar dan normal dalam kehidupan sehari-hari.

Di tambah lagi dengan kondisi zaman teknologi sekarang bahwa setiap bidang dunia hiburan atau publik figur pasti punya penggemar yang membangun komunitas sesama di media sosial. Hal ini sebagai tempat untuk membagikan, mendapatkan informasi terkait hal yang di sukai, tempat mencari teman yang memiliki ketertarikan terhadap hal yang sama serta interaksi sosial lainnya. Dialog dan interaksi di komunitas fandom BL di media sosial juga memperkuat efek ini dengan menciptakan ruang diskusi dan narasi positif tentang hubungan sesama jenis. Media sosial berperan sebagai agen partisipasi aktif yang tidak hanya mengonsumsi konten, tapi juga mereproduksi dan menyebarkan nilai-nilai baru yang mendukung normalisasi. 

Konsumerisme BL di Indonesia perlu dipahami sebagai suatu fenomena di mana norma-norma populer dan budaya digital bertentangan dengan norma-norma agama dan sosial yang umum. BL bukanlah cerminan dari nilai-nilai budaya dan sosial Indonesia, melainkan produk budaya yang berasal dari negara-negara dengan konteks sosial yang lebih terbuka terhadap keragaman seksual, seperti Thailand. Dengan demikian, BL menyajikan narasi dan estetika yang tidak sejalan dengan norma sosial konservatif yang ada di Indonesia.

Dalam masyarakat yang sangat menjunjung tinggi norma-norma agama dan budaya patriarki, keberadaan serta popularitas BL menciptakan dilema moral. Penonton BL sering kali merasa perlu menyembunyikan ketertarikan mereka karena adanya stigma sosial yang kuat serta penolakan terbuka terhadap komunitas LGBT. Mereka tidak serta-merta mendukung atau mengadopsi orientasi seksual tersebut, melainkan menikmati BL sebagai bentuk hiburan dan eksplorasi emosional yang tidak tersedia dalam konteks sosial yang ketat. Namun, tingkat paparan terhadap konten BL berpotensi mengubah pandangan individu mengenai hubungan sesama jenis, yang dalam jangka panjang bertentangan dengan norma-norma yang mereka anut.

Fenomena ini menunjukkan bahwa BL lebih dari sekadar genre hiburan namun juga merupakan simbol dari konflik antara budaya populer global yang inklusif dan nilai-nilai tradisional Indonesia yang konservatif. BL merefleksikan realitas dan hubungan yang secara fundamental berbeda dari norma sosial Indonesia, yang belum siap untuk menerima keragaman orientasi seksual sebagai bagian dari kehidupan sosial. Penggemar BL di Indonesia berada di ruang ambivalen, di mana mereka menemui sebuah bentuk hiburan yang mereka nikmati, namun pada saat yang sama harus menghadapi kenyataan sosial yang menolak keberadaan konten dan nilai-nilai yang diusung oleh BL.

Penulis bernama Wanda Amelia Hutasuhut, Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala

Editor: Amirah Nurlija Zabrina