Beranda Artikel Menyalakan Kembali Api Sumpah Pemuda di Era Digital

Menyalakan Kembali Api Sumpah Pemuda di Era Digital

BERBAGI
Ilustrasi. (M. Iqmal Pasha/DETaK)

Artikel | DETaK

Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda, sebuah momentum bersejarah yang menandai lahirnya semangat persatuan dan nasionalisme. Hampir satu abad telah berlalu sejak ikrar itu pertama kali diucapkan pada Kongres Pemuda II tahun 1928, ketika sekelompok pemuda dari berbagai daerah di Nusantara berkumpul di Jakarta. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda suku, agama, dan budaya namun memiliki tekad yang sama: mengakui satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, yaitu Indonesia. Dari pertemuan sederhana di sebuah rumah di Jalan Kramat Raya 106 itulah, lahir api perjuangan yang kemudian menyalakan bara kemerdekaan.

Sumpah Pemuda bukan sekadar tiga kalimat yang dihafalkan di sekolah-sekolah. Ia adalah simbol persatuan yang menghapus sekat kedaerahan dan membuka jalan menuju identitas baru sebagai bangsa Indonesia. Di tengah penjajahan dan penindasan, para pemuda masa itu tidak lagi memandang diri sebagai orang Jawa, Sumatera, Sulawesi, atau Ambon, melainkan sebagai satu kesatuan: anak bangsa yang memiliki cita-cita untuk merdeka. Mereka sadar bahwa perjuangan tidak akan pernah berhasil tanpa persatuan. Dari kesadaran itu lahirlah sebuah gerakan besar yang kemudian menjadi fondasi perjuangan menuju proklamasi 17 Agustus 1945.

Iklan Souvenir DETaK

Kini, setelah 97 tahun berlalu, semangat Sumpah Pemuda seolah diuji kembali dalam bentuk yang berbeda. Kita memang tidak lagi berjuang melawan penjajahan fisik, tetapi dihadapkan pada bentuk penjajahan baru: arus globalisasi, disinformasi, dan krisis identitas di dunia digital. Pemuda masa kini hidup di tengah kemudahan teknologi dan akses informasi yang begitu luas, namun di saat yang sama, mereka juga menghadapi tantangan besar berupa degradasi moral, individualisme, dan polarisasi sosial. Persatuan yang dahulu diperjuangkan dengan darah dan air mata kini diuji oleh perbedaan pandangan di dunia maya yang sering kali menimbulkan perpecahan.

Dalam konteks modern, makna Sumpah Pemuda harus ditafsirkan ulang tanpa kehilangan nilai dasarnya. Mengakui satu tanah air berarti menjaga dan mencintai negeri ini dengan cara baru: peduli pada lingkungan, melestarikan alam, serta menjaga warisan budaya yang menjadi jati diri bangsa. Mengakui satu bangsa berarti menumbuhkan rasa empati dan solidaritas di tengah keberagaman, menolak segala bentuk intoleransi dan kebencian. Sedangkan menjunjung bahasa persatuan berarti menggunakan bahasa Indonesia dengan bangga, tanpa mengabaikan pentingnya belajar bahasa asing untuk membuka cakrawala dunia. Bahasa adalah jembatan identitas, dan menjaga bahasa Indonesia berarti menjaga nyawa kebangsaan itu sendiri.

Pemuda hari ini memiliki tanggung jawab besar untuk meneruskan api perjuangan itu. Di tengah derasnya arus informasi, mereka harus menjadi generasi yang kritis, kreatif, dan berkarakter. Nasionalisme di era digital bukan lagi ditunjukkan dengan mengangkat senjata, tetapi dengan berkarya, berinovasi, dan berkontribusi positif bagi masyarakat. Pemuda yang menciptakan solusi bagi masalah sosial, yang menyebarkan kebaikan di media sosial, yang menulis, meneliti, dan membangun mereka adalah penerus semangat Sumpah Pemuda sejati.

Kita sering lupa bahwa persatuan tidak hanya berarti hidup tanpa konflik, tetapi juga kemampuan untuk menghargai perbedaan. Sumpah Pemuda 1928 adalah bukti bahwa kemajuan hanya lahir dari kerja sama lintas batas dan lintas pikiran. Di masa kini, kolaborasi antar generasi, antar daerah, dan antar bidang menjadi kunci untuk membangun bangsa. Media sosial, ruang komunitas, dan kampus dapat menjadi wadah baru untuk melahirkan “Kongres Pemuda” versi modern tempat anak muda saling berbagi ide, berdiskusi, dan menciptakan gerakan sosial yang membawa dampak nyata.

Bung Karno pernah berkata, “Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Ucapan itu bukan sekadar simbol retorika, tetapi keyakinan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari semangat kecil yang menyala di dada para pemuda. Kini, setiap anak muda Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk mengguncang dunia dengan caranya masing-masing. Melalui teknologi, literasi, seni, pendidikan, hingga advokasi sosial semua bisa menjadi bentuk perjuangan baru yang membawa nama Indonesia di mata dunia.

Peringatan Hari Sumpah Pemuda bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana kita menyalakan kembali semangat itu di masa kini. Di tengah berbagai krisis dan tantangan, Indonesia membutuhkan pemuda yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga berani bertindak. Pemuda yang tidak mudah menyerah, yang mampu berdiri di tengah perbedaan dan menjembatani berbagai kepentingan dengan sikap bijak dan inklusif. Karena sejatinya, persatuan bukan tentang keseragaman, melainkan tentang kesediaan untuk berjalan bersama dalam perbedaan.

Pada akhirnya, Sumpah Pemuda adalah warisan yang hidup. Ia tidak berhenti sebagai teks sejarah, tetapi terus berdenyut dalam setiap tindakan generasi penerus bangsa. Setiap langkah kecil menuju kebaikan, setiap kerja keras untuk kemajuan, dan setiap upaya menjaga keutuhan bangsa adalah bentuk nyata dari sumpah yang diucapkan 28 Oktober 1928.

Maka marilah kita, pemuda Indonesia masa kini, menyalakan kembali api itu bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan karya dan aksi nyata. Sebab selama semangat persatuan masih menyala di dada pemuda Indonesia, bangsa ini akan selalu memiliki harapan untuk terus maju dan berjaya.

Penulis bernama Amanda Tasya, Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Nasywa Nayyara Tsany