Beranda Artikel Mengenal Sejarah dan Latar Belakang Hari Buruh

Mengenal Sejarah dan Latar Belakang Hari Buruh

BERBAGI
Ilustrasi (Adila Desina Fitri/DETaK)

Artikel | DETaK

Hari ini genap 135 tahun sudah di setiap tanggal 1 mei dunia memperingati hari buruh internasional.   Hari yang dikenal juga dengan sebutan MayDay ini menjadi hari libur nasional untuk banyak Negara di dunia. Momentum hari buruh mengarahkan untuk menghargai dan mengakui kontribusi dari para pekerja di berbagai sector pekerjaan. Seiring berjalannya waktu, penting bagi kita untuk merefleksikan bagaimana perjuangan para pekerja telah membentuk masyarakat modern yang kita nikmati saat ini.

Di banyak negara, pekerja masih harus berjuang untuk hak-hak dasar seperti upah yang layak, jam kerja yang wajar, dan kondisi kerja yang aman. Diskriminasi gender, rasial, dan sosial juga masih menjadi masalah serius yang perlu diatasi. Selain itu, perubahan dalam teknologi, seperti otomatisasi dan kecerdasan buatan, telah mengubah sifat pekerjaan, meningkatkan produktivitas tetapi juga meningkatkan ketidakpastian tentang masa depan pekerjaan.

Iklan Souvenir DETaK

Perayaan hari buruh pun beraneka macam disetiap Negara. Di Amerika Serikat, perayaan melibatkan piknik, parade, dan pertemuan publik dengan partisipasi organisasi buruh. Jerman, acara serupa diwarnai dengan unjuk rasa dan acara politik.  Prancis memperingati hari buruh dengan acara unjuk rasa dan liburan panjang. Di Inggris, serikat pekerja melakukan unjuk rasa dan pertemuan publik. Brasil memperingati hari buruh denagn mengadakan acara besar seperti parade di kota-kota besar. India dalam memeperingati hari penting tersebut mengadakan unjuk rasa dan pertemuan publik untuk meningkatkan kesadaran tentang perlindungan sosial pekerja berbeda dengan Afrika Selatan, memperingatinya dengan melibatkan acara komunitas seperti pertunjukan seni dan program kesehatan, dan masih banyak Negara lainnya yang memperingati hari buruh dengan caranya sendiri namuntetap memiliki tujuan yang sama yaitu untuk menghormati kontribusi para pekerja dan merefleksikan tantangan yang dihadapi dan bagaimana cara Indonesia memperingati hari buruh?

Peringatan Hari Buruh di Indonesia

Peringatan Hari Buruh di Indonesia sering diadakan dengan berbagai cara, mulai dari demonstrasi hingga pertemuan publik dan acara komunitas. Serikat pekerja dan organisasi buruh berperan penting dalam menyelenggarakan acara-acara tersebut, dengan tujuan untuk mengingatkan masyarakat tentang dan memperjuangkan hak-hak pekerja.

Demonstrasi besar-besaran sering terjadi di beberapa kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung, dan melibatkan ribuan buruh dari berbagai sektor. Mereka menyatakan tuntutan akan upah yang layak, kondisi kerja yang aman, dan perlindungan sosial yang memadai.Selain itu, banyak organisasi buruh juga menyelenggarakan acara sosial dan pendidikan seperti seminar, workshop, dan kegiatan sosial lainnya. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran  akan hak-hak pekerja dan memberikan informasi serta panduan mengenai topik-topik yang berkaitan dengan dunia kerja.

Dilansir dari CNBC Indonesia, dalam rangka memperingati hari buruh internasional pada hari ini, sekitar 48.000 hingga 50.000 buruh  melakukan demo, jumlah tersebut merujuk pada Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) dan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI). Ada pun dua tuntunan utama yang diserukan adalah pencabutan Omnivus Law UU Cipta Kerja dan OutSourcing dengan upah murah (HOSTUM).

Tingkat kesejahteraan buruh bisa dilihat dari pendapatan atau upahnya. Secara nominal, upah pekerja pertanian dan konstruksi sebenarnya terus meningkat selama tiga tahun terakhir. Permasalahannya adalah upah riil terus turun seiring dengan kenaikan harga barang konsumsi.

Dilansir dari Datanesia.id Upah riil buruh tani pada Desember 2022 sebesar Rp51.453 per hari, tidak lebih baik dari pada kondisi Januari 2020 yang Rp52.360 per hari. Daya beli petani yang diukur dari upah riil justru makin sedikit. Padahal, upah nominalnya meningkat dari Rp55.046 pada Januari 2020 menjadi Rp59.226 di Desember 2022.

Dalam Datanesia.id juga disebutkan upah buruh bangunan. Pada Desember 2022, upah riilnya sebesar Rp82.762 per hari, tidak lebih besar dibandingkan Januari 2020 yang mencapai Rp85.764 per hari. Padahal, upah nominal buruh bangunan meningkat dari Rp89.478 pada Januari 2020 menjadi Rp94.072 pada Desember 2022.

Dari data tersebut terdapat kesenjangan antara upah nominal dan upah riil dapat mendorong lebih banyak buruh tani dan buruh bangunan ke dalam kemiskinan. Kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan dasar semakin melemah.

Peran pemerintah dalam mensejahterakan buruh di Indonesia sangatlah penting. Pemerintah bertanggung jawab untuk menetapkan kebijakan yang optimal seperti peraturan mengenai hak-hak pekerja, seperti upah minimum, jam kerja, dan kondisi kerja yang aman.

Pemerintah juga harus menyediakan dan memastikan layanan publik untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja, seperti layanan kesehatan, pendidikan, dan perumahan yang terjangkau. Tanggung jawab utama pemerintah juga adalah mengadili pelanggaran hak-hak buruh dan melindungi pekerja yang melaporkan pelanggaran tersebut.

Fokus lainnya adalah pembangunan ekonomi inklusif, yang mengharuskan pemerintah  menciptakan lapangan kerja yang layak dan meningkatkan akses pekerja terhadap peluang ekonomi. Selain itu, negara juga bertanggung jawab untuk meningkatkan kesejahteraan sosial melalui program-program seperti jaminan sosial dan kesejahteraan bagi  yang membutuhkan untuk menjamin kesejahteraan pekerja.

Meski sebagian kebijakan itu telah dilakukan dan terealisasikan namun penting bagi pemerintah untuk terus mengawasi dan menoptimalkan kebijakandan layanan yang telah diberikan supaya kesejahteraan pada buruh bisa berjalan dengan semestinya dan masyarakat sekitar juga harus andil dan tetap mengawasi jalannya kebijakan tersebut.

Hari Buruh adalah kesempatan bagi kita semua untuk menghargai kontribusi tak ternilai yang diberikan oleh para pekerja di berbagai sektor dan profesi. Dari petani yang bertani di ladang hingga pekerja pabrik yang merakit barang, dari tenaga medis yang merawat orang sakit hingga guru yang mendidik generasi mendatang, semua mereka berperan dalam membangun masyarakat dan ekonomi yang berfungsi.

Penulis bernama Putri Izziah, mahasiswi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Editor: Aisya Syahira