Artikel | DETaK
Di era globalisasi saat ini, teknologi memiliki peran yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Kemajuan teknologi telah mengubah cara bagaimana guru mengajar dan siswa belajar. Akses ke berbagai perangkat digital dan koneksi internet yang stabil juga memungkinkan proses belajar-mengajar menjadi lebih efektif, interaktif, dan menarik. Guru dapat memanfaatkan berbagai platform pembelajaran untuk menyampaikan materi dengan cara yang lebih modern.
Namun, apa yang terjadi di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua daerah yang ada di Indonesia mendapatkan kesempatan untuk merasakan manfaat yang setara dari kemajuan teknologi ini. Di berbagai wilayah terpencil, akses terhadap perangkat digital dan internet masih sangat terbatas. Hal ini tentu menyebabkan ketimpangan digital yang semakin mempengaruhi kualitas pendidikan antara daerah perkotaan dan daerah terpencil. Para siswa yang ada di daerah-daerah tersebut sering kali terlambat dalam mendapatkan informasi dan kurang memiliki kesempatan untuk meningkatkan kemampuan literasi digital. Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah dapat mengambil dua langkah utama, yaitu menyediakan akses internet yang merata dan investasi dalam infrastruktur teknologi pendidikan.

Pertama, pemerintah dapat membangun infrastruktur telekomunikasi yang kuat dan terdistribusi secara merata, seperti jaringan serat optik dan Base Transceiver Stations (BTS) atau yang sering disebut sebagai stasiun pemancar di daerah terpencil. Dengan adanya infrastruktur ini, dapat memudahkan masyarakat dari daerah terpencil untuk mengakses internet dengan mudah dan cepat. Selain itu, pemerintah juga dapat menyediakan program subsidi internet atau bahkan internet gratis bagi masyarakat dari keluarga miskin atau daerah terpencil, sehingga mereka dapat menggunakan internet untuk kebutuhan mereka, seperti pendidikan. Dengan akses internet yang terdistribusi secara merata, kualitas pendidikan di Indonesia dapat ditingkatkan.
Kemudian pemerintah dapat bekerja sama dengan operator telekomunikasi untuk meningkatkan jangkauan jaringan internet di daerah-daerah terpencil. Dengan kerja sama ini, pemerintah dapat memanfaatkan kemampuan dan sumber daya operator telekomunikasi untuk meningkatkan akses internet di daerah-daerah yang belum terjangkau. Selain itu, pemerintah secara terus-menerus melakukan monitoring dan evaluasi terhadap implementasi program-program akses internet untuk memastikan bahwa target-target yang telah ditetapkan dapat tercapai. Sehingga pemerintah dapat mengetahui efektivitas program-program yang telah dilakukan dan melakukan perbaikan jika diperlukan.
Selain itu, pemerintah Indonesia harus berinvestasi secara serius dalam infrastruktur teknologi pendidikan untuk memastikan bahwa seluruh sekolah, baik di perkotaan maupun daerah terpencil, dapat menikmati manfaat pembelajaran digital secara optimal. Investasi ini mencakup penyediaan perangkat keras seperti komputer, tablet, dan proyektor. Selain perangkat keras, penyediaan perangkat lunak pendidikan yang berkualitas juga menjadi fokus penting. Perangkat lunak ini meliputi aplikasi pembelajaran berbasis digital yang menyediakan materi pelajaran interaktif, evaluasi otomatis, serta fitur pendukung pembelajaran yang dapat diakses kapan saja, seperti Google Classroom, Microsoft Teams, atau aplikasi LMS seperti jelajah Ilmu. Yang mana dengan memanfaatkan aplikasi tersebut siswa dapat memperluas pengetahuan secara mandiri dan guru dapat mengelola kelas secara lebih efektif.
Upaya investasi infrastruktur teknologi tidak hanya berhenti pada penyediaan alat dan jaringan. Pemerintah juga perlu memastikan adanya pelatihan dan pendampingan bagi guru agar mampu mengoperasikan perangkat dan memanfaatkan perangkat lunak secara optimal dalam pembelajaran. Data survei APJII 2024 menunjukkan bahwa sekitar 60% sekolah di Indonesia sudah memiliki akses ke perangkat teknologi seperti komputer atau tablet, namun
masih terdapat 30% siswa yang mengalami kesulitan menggunakan aplikasi pembelajaran online, dan banyak guru yang belum memahami adaptasi kurikulum ke format digital. Hal ini menegaskan perlunya investasi berkelanjutan tidak hanya pada perangkat keras dan lunak, tetapi juga pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor pendidikan.
Pemerintah Indonesia sebenarnya telah mengalokasikan dana khusus untuk pengadaan infrastruktur teknologi pendidikan, termasuk pembangunan jaringan internet, penyediaan perangkat digital di sekolah-sekolah yang masih minim fasilitas dan pelatihan untuk guru agar bisa mengoptimalkan penggunaan teknologi di sekolah. Tetapi apa yang bisa kita lihat di lapangan adalah belum adanya perubahan yang signifikan, masih banyak sekolah-sekolah yang belum maju dalam penggunaan teknologi bahkan dari segi fasilitas sekolah yang dasar saja masih cukup tertinggal. Maka daripada itu diharapkan agar pemerintah dapat lebih sadar dan berkomitmen dalam mengatasi permasalahan pendidikan ini dengan serius.
Kesimpulannya, kesenjangan akses terhadap teknologi sekarang masih menjadi hambatan dalam pemerataan pendidikan di Indonesia. Di era digital, teknologi harusnya menjadi alat bantu untuk mempercepat pendidikan, namun tidak semua daerah memiliki akses yang sama. Oleh karena itu, penting untuk menyadari bahwa tanpa pemerataan akses, kemajuan teknologi justru dapat memperdalam ketimpangan pendidikan. Pemerintah memiliki peran kunci dalam membangun infrastruktur yang bisa menjangkau seluruh pelosok negeri. Selain pembangunan fisik, seperti jaringan internet, subsidi dan akses gratis juga bisa disediakan bagi masyarakat yang kurang mampu, dengan begitu semua siswa memiliki peluang yang sama dalam proses pembelajaran berbasis digital. Begitu juga dengan guru dan
perangkat yang harus ditingkatkan agar teknologi bisa dimanfaatkan secara maksimal. Karena pada akhirnya, pendidikan yang merata hanya bisa tercapai jika semua pihak mendapatkan akses, pelatihan dan dukungan yang setara.
Penulis bernama Andhien Artari, Aiska Fazilla, Qatrun Nada Syawalni, Suci Annastasia, mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Nasywa Nayyara Tsany










