Askia Nailah [AM], Cut Oriza Satifa [AM] | DETaK
Bagi seorang mahasiswa hidup merantau bukanlah hal yang luar biasa lagi. Berangkat dari satu daerah ke daerah lain demi menuntut ilmu di perguruan tinggi yang dituju merupakan suatu keharusan bagi mahasiswa. Segala kehangatan dan kenyamanan yang diberikan rumah harus kita relakan saat hidup di tanah orang.
Hidup di daerah orang tak hanya mengatasi perbedaan kultural, namun juga cara kita menempatkan diri di daerah orang dengan budaya, adat, kebiasaan hingga aktivitas yang berbeda. Memilih untuk hidup di tanah orang, berarti memilih untuk berubah dan beradaptasi sembari mencari pengalaman berharga, memperoleh ilmu dan pengetahuan yang lebih luas.

Untuk merasakan semua itu, mahasiswa dapat mengikuti program pertukaran mahasiswa. Salah satunya adalah program yang diadakan oleh Kampus Merdeka yaitu Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) kepada mahasiswa di seluruh Indonesia.
Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) merupakan program pertukaran mahasiswa dalam negeri selama satu semester dari satu klaster pulau ke klaster pulau lainnya yang memberikan pengalaman kebhinekaan melalui keikutsertaan dalam Modul Nusantara, mata kuliah, dan berbagai aktivitas terkait yang bisa memperoleh Sistem Kredit Semester (SKS) hingga 20 SKS.
Terdata sebanyak 292 mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) sedang mengikuti program PMM semester ganjil 2022/2023 di beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Dengan diwajibkan belajar dan tinggal selama satu semester di daerah lain, beberapa mahasiswa mengaku mengalami banyak hal. Apa saja yang mereka alami selama berada di tanah orang? Berikut keterangan dari beberapa mahasiswa PMM USK.
Kesempatan Kuliah di Kampus Terbaik Indonesia
Universitas Syiah Kuala memang sudah terakreditasi A. Namun apabila diperingkatkan, masih ada lagi kampus terakreditasi A yang lebih baik yang letaknya di berbagai pulau-pulau Nusantara. Salah satu mahasiswa yang dapat merasakan hal ini adalah Teuku Faturrahman. Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi USK angkatan 2021 ini terdaftar sebagai mahasiswa PMM di Universitas Gadjah Mada yang merupakan kampus terbaik di Indonesia.
Sudah sejak Agustus lalu ia pergi ke kampus tersebut dan masih merasa sangat bersyukur diterima sebagai mahasiswa pertukaran di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan menuntut ilmu di sana. Dari sekian banyak universitas yang ada di Indonesia, Universitas Gadjah Mada adalah pilihannya karena selain merupakan kampus terbaik, ternyata Fathur juga menyukai suasana Kota Jogja.
”Alhamdulillah aku keterima bertukar sementara di UGM. Aku pilih UGM karena UGM itu salah satu kampus terbaik di Indonesia. Nah di PMM ini jadi kesempatan buat aku rasain gimana rasanya bertukar sementara di UGM, dan juga karena aku suka Kota Jogja, “ ungkap Fatur.
Selama berada di UGM, Fatur juga menceritakan pengalaman yang paling berharga yang didapatkannya selama menjadi mahasiswa sementara di sana. Ia sempat merasakan menggunakan almamater berwarna coklat muda UGM dan diberikan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) UGM sebagai simbol diterimanya mereka sebagai mahasiswa di sana.
“Banyak banget pengalaman berharga yang aku dapetin di sini. Kayak kemarin waktu acara penyambutan dan pelepasan Mahasiswa PMM aku dari USK Aceh dan temen dari Universitas Papua ngewakilin mahasiswa PMM UGM. Di situ aku dipakein almet UGM dan dikasih KTM UGM untuk simbolis kalau kami udah diterima untuk berkuliah di sini,” cerita Fathur.

Mendapat Pengetahuan Baru
Dalam melaksanakan pembelajaran di UGM, Fathur mengaku mendapat banyak pengetahuan baru, salah satunya adalah belajar membatik. Ia menyebutkan bahwa mereka – mahasiswa PMM di UG – sempat mengujungi lokasi wisata edukasi dan belanja batik tradisional, Kampung Batik Giliroyo.
“Terus juga kami pergi ke Kampung Batik Giliroyo. Di situ kami belajar gimana cara membatik,” aku Fathur.
Selain Fatur, mahasiswi USK yang mengaku mendapat banyak pengetahuan baru adalah Tria Nur Fadillah. Mahasiswi USK ini mengikuti PMM di Universitas Negeri Jakarta. Ia mengatakan ia dapat belajar tentang penerapan pembelajaran yang dilakukan mahasiswa di sana dan berharap dapat ia terapkan setelah kembali ke USK nanti.
“Aku bersyukur sekali bisa mengikuti program pertukaran mahasiswa (PMM) ini, karena dapat menambah pengetahuan diri aku sendiri tentang penerapan pembelajaran yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Negeri Jakarta. Aku berharap, semoga aku bisa menetapkan pengetahuan baru ku ini di USK dan mengajak teman-teman juga nantinya,” jelas Tria.
Pemahaman Baru
Tria Nur Fadillah, mahasiswi yang mengikuti PMM di Universitas Negeri Jakarta mengaku selama menjadi mahasiswa di sana, ia mendapat pemahaman baru. Ia berpendapat, selama ini mahasiswa terlalu menganggap remeh pendidikan, sehingga pembelajaran yang dilakukan kurang maksimal. Hal ini, katanya, berdampak terhadap maju tidaknya suatu daerah.
“Kita mahasiswa terlalu santai dalam belajar. Ketika kita keluar dari zona nyaman, kita baru merasa bahwa kita banyak sekali ketinggalan. Makanya kota orang maju dengan dikualitasi SDM yang bermutu. Jangan heran dengan kota orang yang maju, karena anak muda mudi dikota orang yang tidak gengsi dengan apapun itu,” kata Tria.
Bertemu Tokoh Idola
Ternyata selain berkesempatan mendapatkan ilmu baru, Program PMM juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk bertemu tokoh idolanya. Beberapa mahasiswa yang berkesempatan bertemu tokoh-tokoh yang mereka idolakan adalah Putri dan Fathur.
Putri Rahma Maula, mahasiswa Program Studi Sosiologi USK ini berkesempatan untuk mengikuti pertukaran mahasiswa ke Universitas Negeri Semarang, Jawa Tengah. Dalam masa pertukaran pelajar yang belum satu semester ia ikuti ini, Putri pernah bertemu dengan Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah yang kabarnya akan maju dalam Pilpres 2024.
“Untuk pengalamannya di PMM sendiri itu yang paling berharga yaa, keinginan aku buat ketemu sama Pak Ganjar jadi terealisasikan di kegiatan Modul Nusantaranya PMM,” ungkap Putri.
Selain Putri, Fathur yang sedang di UGM juga bertemu salah satu aktris industri perfilman Indonesia, Prilly Latuconsina. Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, ia banyak mempelajari tentang industri ini. Ia bertemu Prilly dalam salah satu mata kuliah yang diambilnya di UGM, yaitu mata kuliah Kajian Selebritas.
“Terus juga di kelas mata kuliah Kajian Selebritas kedatangan dosen tamu Prilly Latuconsina,” kata Fathur.
Beda Selera
Setiap orang punya seleranya masing-masing, termasuk dalam hal makanan. Ketika tinggal di daerah orang, perbedaan seleran makan sering kali jadi permasoalan utama karena bisa membuat jadi tak nafsu makan,
Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) USK yang mengikuti Program PMM di Universitas Ahmad Dahlan, Ahmad Taisir mengatakan bahwa dia sulit beradaptasi dengan makanan yang ditawarkan oleh teman PMM-nya dari luar Pulau Jawa. Selaku Putera Aceh, Ahmad mengaku bahwa ia tak suka makanan pedas, tetapi dia menghargai makanan yang ditawarkan oleh temannya dengan cara mencicipi sedikit .
“Kami datang dari luar Pulau Jawa semua, kebanyakan teman-teman dari luar Pulau Jawa suka dengan makanan pedas. Mereka sering menawarkan saya makanan, tapi saya tidak suka dengan makanan pedas. Untuk menghargai pemberian mereka, saya hanya sekedar mencicipi makanan mereka sedikit,” cerita Ahmad.
Krisis Air
Rupanya tak hanya asrama mahasiswa USK yang airnya sering krisis dan berhenti mengalir tibatiba, asrama mahasiswa di Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong pun kerap mengalami hal tersebut.
Momen krisis air ini dibagikan oleh Irmayana Sari, mahasiswa Program Studi Bahasa Indonesia USK yang mengikuti program pertukaran mahasiswa di kampus tersebut. Katanya, saat krisis air terjadi, sulit baginya untuk melakukan aktivitas yang berhubungan dengan air.
“Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong ini menampung 158 mahasiswa PMM di asrama, kami sempat mengalami krisis air selama satu hari. Akibat keramaian pengguna air, jadi sesekali airnya mati. Sehingga sulit bagi saya untuk melakukan aktivitas yang berhubungan dengan air, seperti mandi, menyuci dan lain sebagainya,” terangnya.
Pengejar Ekspektasi
Tampaknya Program PMM memberikan ekspektasi yang terlalu tinggi bagi beberapa mahasiswa. Salah satu mahasiswa USK yang mengikuti PMM di Universitas Sebelas Maret, Solo memberikan sebuah pesan bagi teman-teman mahasiswa yang belum mengikuti kegiatan PMM tentang ekspektasi tinggi sebelum berangkat ke kota pertukaran.
Ialah Nadiatul Nikmal, mahasiswa USK ini mengaku ia memiliki ekspektasi tinggi terhadap kampus yang dipilihnya untuk Program PMM. Dimana Nadia berekspektasi dengan keseruan dan ketenangan dalam lingkup universitas. Faktanya Nadia harus belajar lebih keras lagi untuk mengejar materi ketinggalan yang dipelajari di Universitas tersebut.
“Jangan terlalu berekspektasi tinggi tantang PMM yang happy dan enjoy, takutnya tidak sesuai dengan ekspektasi sendiri,” pungkas Nadia.[]
Editor: Indah Latifa


![[DETaR] Tips Olahraga di Bulan Puasa Agar Tubuh Tetap Sehat dan Bugar](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/03/WhatsApp-Image-2026-03-15-at-15.23.21-238x178.jpeg)
![[DETaR] Ramadan dan Tantangan Menjaga Hidrasi Tubuh](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/03/Ilustrasi_Ramadhan-dan-Tantangan-Menjaga-Hidrasi-Tubuh-238x178.png)


![[DETaR] Tips Olahraga di Bulan Puasa Agar Tubuh Tetap Sehat dan Bugar](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/03/WhatsApp-Image-2026-03-15-at-15.23.21-100x75.jpeg)
![[DETaR] Ramadan dan Tantangan Menjaga Hidrasi Tubuh](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/03/Ilustrasi_Ramadhan-dan-Tantangan-Menjaga-Hidrasi-Tubuh-100x75.png)


