Artikel | DETaK
Dua tahun sudah berlalu sejak Israel melakukan genosida pertama yang mengguncang Gaza pada 7 Oktober 2023. Saat itu, dunia menyaksikan sebuah serangan berskala besar dari Hamas ke Israel yang memicu balasan militer ekstrem dari Israel. Ribuan warga sipil, anak-anak, perempuan, dan lansia menjadi korban dari serangan brutal yang tak kunjung berhenti. Ratusan perumahan, perkantoran, fasilitas kesehatan, pemerintahan, dan lain-lain juga menjadi korban dari genosida israel. Kini, di tahun 2025, Gaza masih berdiri, tetapi yang tersisa bukanlah kedamaian melainkan reruntuhan, luka, dan tekad untuk tetap hidup.
Korban yang Terus Bertambah

Sejak awal serangan pada Oktober 2023 hingga pertengahan 2025, lebih dari 67.000 warga Palestina dilaporkan tewas, termasuk lebih dari 17.000 anak-anak. Para relawan dan jurnalis juga dilaporkan tewas pada serangan Israel tersebut. Israel membatasi bantuan kemanusiaan yang berupa makanan dan obat-obatan masuk ke wilayah Gaza sehingga berdampak pada peningkatan jumlah kelaparan dan kematian anak-anak di Gaza.
Data dari lembaga kemanusiaan PBB menunjukkan lebih dari 70% infrastruktur di Jalur Gaza hancur total, sementara jutaan orang hidup tanpa akses air bersih, listrik, dan layanan kesehatan. Sebagian rumah sakit telah dihancurkan dan sebagian lainnya berubah menjadi tenda darurat. Sekolah kini berfungsi sebagai tempat pengungsian. Gaza saat ini sudah berubah dari wilayah konflik menjadi kuburan terbuka bagi kemanusiaan.
Kondisi ini memicu kemarahan global dan meningkatkan kesadaran dunia akan kejahatan perang yang kini disebut oleh Amnesty International sebagai genocide (pembantaian sistematis). Sanksi dan kecaman internasional terhadap Israel meningkat, bahkan beberapa negara mulai mengakui kedaulatan Palestina.
Dunia yang Mulai Bangun dari Diam
Selama dua tahun terakhir, sikap dunia terhadap Palestina perlahan bergeser. Pada 2023 banyak negara besar memilih diam atau menunggu situasi kondusif. Kini pada tahun 2025, semakin banyak negara-negara besar yang secara terang-terangan mendukung Palestina. Negara-negara PBB yang dulunya mendukung Israel sekarang sudah berpindah dukungannya ke Palestina dengan mengakui kedaulatan Palestina seperti Inggris, Perancis, dan lain-lain. ?Gerakan solidaritas muncul di berbagai kota besar dari London, Paris, hingga Jakarta. Di media sosial, gelombang dukungan terhadap Palestina menjadi salah satu yang paling konsisten dalam sejarah digital modern seperti penggunaan hashtag #alleyesonrafah, #freepalestine, #stopgenoside, penggunaan simbol buah semangka yang merepresentasikan warna bendera Palestina, hingga postingan yang mendukung perjuangan rakyat Palestina dalam melawan tindakan genosida Israel. Penyebaran video dan foto yang menunjukkan kekejaman israel menjadi tontonan bagi masyarakat dunia untuk membuktikan bahwa Israel melakukan perbuatan yang dinilai melanggar aturan internasional.
Namun, di balik suara publik yang semakin lantang, tindakan politik nyata masih minim. Gencatan senjata dan tekanan diplomatik yang diharapkan banyak pihak belum mampu menghentikan penderitaan rakyat Gaza.
Global Sumud Flotilla Sebagai Harapan di Tengah Blokade
Salah satu simbol perlawanan dan solidaritas yang mencuri perhatian tahun ini adalah Global Sumud Flotilla, sebuah gerakan solidaritas global yang diikuti puluhan negara dengan membawa pesan keteguhan (‘sumud’) untuk menembus blokade Gaza lewat laut.
Global Sumud Frotilla Lahir sebagai reaksi terhadap blokade maritim yang menyerbu Gaza sejak 2007. “Sumud” dalam bahasa Arab berarti keteguhan dan “Flotilla” berasal dari bahasa Spanyol flota yang berarti armada kapal. Armada ini adalah gabungan aktivis HAM, aktivis lingkungan, relawan medis, jurnalis, hingga tokoh-tokoh dunia yang datang membawa satu tujuan yaitu menembus blokade Israel dan membungkam kebisuan komunitas internasional. Armada tersebut membawa bantuan medis, makanan, dan pasokan penting bagi warga Gaza yang sudah dua tahun hidup dalam krisis kemanusiaan.
Global Sumud Frotilla diprakarsai oleh koalisi lembaga kemanusiaan dan masyarakat sipil dari beberapa kontinen:
• Freedom Flotilla Coalition (Eropa),
• Global Movement to Gaza (Amerika Latin),
• Maghreb Sumud Flotilla (Afrika Utara),
• Sumud Nusantara (Asia Tenggara).
Keempat koalisi tersebut bergabung ke dalam Global Sumud Frotilla yang berjumlah lebih dari 50 kapal berisi 500 relawan internasional. Keberangkatan armada Global Sumud Frotilla dimulai dari Spanyol, Italia, Tunisia, dan lain-lain.
Pada 1 Oktober 2025, Global Sumud Flotilla berhasil mendekati radius 70 – 110 mil dari Gaza sebelum lebih dari 40 kapal berhasil dicegat oleh Angkatan Laut Israel. Kapal-kapal yang dicegat oleh angkatan laut Israel di perairan internasional, dengan lebih dari 470 aktivis ditahan dan dideportasi ke beberapa negara. Saat ini dilaporkan terdapat 1 kapal, Mikeno, berhasil menembus blokade dan mencapai perairan Gaza.
Meskipun upaya mereka sering dihadang, konvoi ini menjadi simbol bahwa masih ada hati yang berani bergerak, bahkan ketika pemerintah dunia enggan melangkah. Banyak aktivis internasional, termasuk dari Asia Tenggara, bergabung dalam gerakan ini sebagai bentuk nyata dari solidaritas lintas batas.
Dua Tahun Luka, Dua Tahun Keteguhan
Bagi rakyat Palestina, dua tahun terakhir merupakan perjalanan panjang dalam mempertahankan martabat di tengah kehancuran. Mereka kehilangan rumah, keluarga, bahkan masa depan, tapi tidak kehilangan semangat untuk hidup. Banyak anak-anak Gaza yang kini tumbuh dengan mimpi sederhana yaitu sekolah lagi, bermain tanpa suara drone, dan tidur tanpa ketakutan.
Kini, dua tahun setelah genosida pertama, dunia dihadapkan pada pilihan berdiam atau bertindak. Global Sumud Flotilla, suara mahasiswa, dan solidaritas masyarakat dunia adalah pengingat bahwa perjuangan Palestina bukan hanya tentang tanah, tapi tentang kemanusiaan.
Penulis bernama M. Azkal Azkiya, Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Sara Salsabila







![[Lensa] Suasana Hari Pertama Pelaksanaan UTBK di USK](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/04/foto-2-100x75.jpeg)


