Beranda Artikel Menilik Sejarah Lebaran yang Identik dengan Petasan dan Kembang Api

[DETaR] Menilik Sejarah Lebaran yang Identik dengan Petasan dan Kembang Api

BERBAGI
Ilustrasi. (Shahibah Alyani/DETaK)

Artikel | DETaK

Tidak terasa kita sudah memasuki penghujung bulan suci Ramadhan. Setelah sebulan berpuasa, kini seluruh umat muslim menanti hari kemenangan. Namun, pada malam di penghujung Ramadhan atau biasa disebut malam takbiran seluruh umat muslim melakukan amalan-amalan sunnah, selain itu sebagian umat muslim juga mengadakan perayaan seperti takbir keliling kampung menjelang datangnya kemenangan bagi umat muslim yakni hari Raya Idul Fitri.

Bermain kembang api merupakan salah satu tradisi yang biasa dilakukan pada malam takbiran. Banyak anak-anak, remaja, hingga orang dewasa merayakan malam takbiran dengan bermain kembang api dan petasan. Biasa mereka bermain kembang api dihalaman rumah bahkan ada yang membuat acara pesta kembang api  dilapangan terbuka yang bisa disaksikan oleh semua orang.

Iklan Souvenir DETaK

Pertanyaan sederhananya adalah, sejak kapan kembang api mulai diidentikkan dengan perayaan Lebaran di negeri ini? Memang hingga  kini belum ada literatur maupun catatan sejarah yang pasti mengenai sejak kapan petasan dan kembang api selalu ada dalam perayaan Lebaran. Namun, kita bisa menilik  dari sejarah sejarah kembang api dan petasan. Jika ditarik ke belakang memang petasan itu berakar dari tradisi negeri tirai bambu.

Dilansir dari Suaramerdeka.com, tradisi bermain petasan berawal dari datangnya bangsa China perantauan ke Indonesia sekitar abad ke-15 untuk berdagang. Mereka membawa bubuk mesiu untuk bahan pembuatan petasan dan kembang api. Kemudian tradisi orang China perantauan membunyikan petasan dan menyalakan kembang api adalah untuk mengusir setan. Karena petasan identik dengan perayaan,  

Tradisi inipun kemudian diiadopsi oleh orang-orang Indonesia sebagai simbol suka cita yang bisanya merayakan suka cita saat waktu Lebaran. Lalu, bagaimana Islam memandang bermain petasan dan kembang api untuk menyemarakkan Hari Raya Idul Fitri?

Secara khusus, Menurut Nahdatul Ulama (NU) menyebutkan bahwa tidak ada hukum yang mengatur permainan petasan dan kembang api dalam Islam. Menurutnya, permainan ini boleh dilakukan asal tidak merusak. Permainan ini boleh dilakukan dengan tujuan untuk menyemarakkan malam takbiran dan juga menyebarkan syiar Islam.

Penulis adalah Sahida Purnama dan Putri Delvina, mahasiswa Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik(FISIP) dan mahasiswi Tata Busana Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala. Mereka juga merupakan anggota di UKM Pers DETaK USK.

Editor: Refly Nofril