Beranda Artikel Benarkah Ghosting Dapat Berdampak Terhadap Kesehatan Mental?

Benarkah Ghosting Dapat Berdampak Terhadap Kesehatan Mental?

BERBAGI
Ist.

Artikel | DETaK

Hari gini masih jadi korban ghosting? Menyinggung terkait ghosting, belakangan ini fenomena tersebut sedang hangat diperbincangkan di berbagai media sosial. Kamu sudah tahu belum apa arti dan dampaknya terhadap kesehatan mental? Jika belum, tentu saja kamu harus mencari tahu, dong!

Istilah ghosting sering digunakan dalam banyak hal seperti hubungan pertemanan, pekerjaan, dan percintaan. Namun di kalangan anak muda istilah ini paling sering dikaitkan dengan hubungan asmara atau percintaan yang tidak sesuai harapan, dan bisa dikatakan dekat dengan harapan palsu.

Menurut APA (American Psychology Association), ghosting merupakan peristiwa yang terjadi ketika seorang teman atau orang yang pernah dekat denganmu menghilang dari kontak tanpa penjelasan. Istilah ghosting berasal dari bahasa Inggris yang memiliki makna “berbayang”.

Secara istilah, ghosting ialah suatu keadaan ketika gebetan atau orang yang pernah dekat dengan kita seketika menghilang begitu saja tanpa adanya penjelasan, seperti hantu yang dapat menghilang secara tiba-tiba.

Seorang psikolog, Kasandra Putranto, mengungkapkan bahwa ghosting merupakan istilah awam yang ditujukan kepada perilaku menghilang dan dianggap seperti hantu tidak terlihat yang tiba-tiba hilang kontak tanpa adanya respon dan tidak diketahui arahnya ke mana. Alasan seseorang melakukan ghosting hanyalah pelakunya saja yang dapat mengetahuinya, sedangkan korbannya tidaklah mengetahui apa-apa.

Ada banyak hal yang menjadi penyebab orang melakukan ghosting, di antaranya ialah untuk menghindari konflik dengan orang lain yang disebabkan rasa takut akan menghadapi sesuatu, egois, dan kurangnya rasa tanggung jawab. Pelaku ghosting mungkin memiliki anggapan bahwa menghilang dari kehidupan orang lain tidak akan memiliki dampak yang serius.

Kenyataannya, perilaku ghosting dapat berdampak pada kesehatan mental korbannya. Jennice Vilhauer, seorang psikolog di The Well Mind Institute di Beverly Hills, California, menjelaskan bahwa ghosting dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental seseorang. Hal ini tidak boleh dianggap remeh atau sepele.

Dampak ghosting terhadap kesehatan mental korban di antaranya ialah sebagai berikut.

1. Tidak percaya diri

Ketika seseorang ditinggal tanpa alasan, maka dapat menyebabkan kehilangan rasa percaya diri pada orang tersebut. Sehingga ia akan kesulitan untuk dapat memulai sebuah hubungan yang baru bersama orang lain. Hal tersebut disebabkan adanya rasa trauma yang membekas sebelumnya. Gejala ini dapat dilihat melalui sikap seseorang yang kemudian berubah menjadi dingin, sering terlihat murung dan menarik diri dari lingkungan sosialnya.

2. Cenderung menyalahkan diri sendiri

Korban ghosting akan merasa bersalah ketika ditinggalkan tanpa jejak secara tiba-tiba oleh pasangannya. Hal ini berawal dari paradigma berpikir bahwa, “Yang tersakiti pasti akan pergi di kemudian hari”. Korban akan berpikir bahwa ia telah melakukan suatu kesalahan yang membuat pasangannya marah atau tersakiti olehnya.

3. Mengalami depresi akut

Pada kenyataannya korban yang mengalami ghosting akan mengalami trauma yang berat. Ditinggalkan secara tiba-tiba bisa membuat seseorang overthinking secara berkelanjutan, merasa tidak berguna dan terbuang tanpa ada suatu alasan yang jelas. Sehingga membuat korban mengalami depresi dan kehilangan tujuan hidupnya.

4. Merasa sakit seperti sakit fisik

Korban ghosting akan merasakan sakit yang sama halnya seperti luka parah atau cedera pada tubuh. Otak akan mengaktifkan sinyal sakit sehingga rasanya terasa sama dengan sakit fisik. Sehingga sebagian orang yang menjadi korban ghosting akan merasakan sakit yang mengganggu.

Jadi, jangan pernah bercanda ketika berurusan dengan perasaan. Karena permainanmu akan berpengaruh terhadap kehidupan sosial orang lain. Jangan lupa bahwa kesehatan mental juga perlu dijaga layaknya kesehatan fisik.[]

Penulis bernama Lizatul Amna, mahasiswa Jurusan Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala angkatan 2018.

Editor: Indah Latifa