Artikel | DETaK
Baldwin IV adalah seorang penguasa Yerussalem yang diangkat menjadi pemimpin saat umurnya masih sangat muda. Baldwin lahir pada tahun 1161 dan merupakan anak kedua dari pangeran Amalric dengan istri pertamanya Agnes De Courtney. Kisah Baldwin IV menjadi pemimpin bermula dari pamannya Baldwin III saat itu merupakan seorang raja Yerussalem. Saat Baldwin IV berumur dua tahun, pamannya meninggal dan digantikan oleh ayahnya yaitu Amalric. Amalric yang saat itu seorang pangeran harus menceraikan istrinya Agnes sebagai syarat dari pengadilan tinggi Yerussalem agar bisa naik tahta nya. Kemudian, Amalric dinikahkan dengan putri kerajaan Bizantium yakni Maria Comnena. Meskipun demikian, anak-anak dari Agnes tetap diakui dan dapat menjadi penerus kerajaan.
Baldwin IV sebagai anak raja memperoleh fasilitas yang terbaik. Pendidikannya langsung diajarkan oleh William of Tyre, seorang sejarawan sekaligus wakil uskup gereja Anglikan. Dalam proses belajarnya, sang guru sering melihat kejanggalan pada diri Baldwin. Ia melihat Baldwin yang tidak pernah merasakan sakit di tangan kananya. Meskipun tangannya sering dicubit oleh teman-temannya. Saat ditanyakan pada Baldwin, ia memang tidak merasakan apapun pada tangan kanannya. William of Tyre diam saja meskipun merasa ada yang aneh dengan kondisi Baldwin sampai benar-benar memastikan ternyata Baldwin menderita penyakit “kusta”.

Baldwin yang menderita penyakit kusta harus dirahasiakan pada publik. Hal ini dikarenakan ada beberapa alasan. Pertama, Baldwin merupakan satu-satunya anak laki-laki dari Amalric. Berdasarkan informasi Britannica, Yerussalem memiliki konflik antar-bangsawan. Para bangsawan memperebutkan kekuasaan. Apabila Baldwin tidak dapat naik tahta, maka dikhawatirkan kerajaan diambil alih oleh kelompok yang tidak kompeten. Maka dari itu Baldwin dipersiapkan sebagai penerus tahta yang layak. Kedua, pada waktu tersebut keluarga bangsawan yang menderita penyakit kusta akan digabungkan dengan kelompok Ordo St. Lazarus. Menurut journal of the Monastic Military Orders, Ordo St. Lazarus adalah militer yang dibentuk oleh kesatria Templar yang berisi di dalamnya orang-orang penderita kusta.
Meskipun sedang mengidap penyakit kusta, kondisi Baldwin tergolong dalam kategori sehat. Saat pertemuan publik, Baldwin tidak pernah mengeluh rasa sakit yang dialaminya. Hal ini mempermudah keluarga kerajaan menyembunyikan penyakit Baldwin. Pada tahun 1174, raja Amalric meninggal dunia karena disentri sepulang dari ekspedisi militer di Damaskus karena Baldwin di masa itu masih berumur 13 tahun, ia memerlukan wali untuk memegang tahta Yerussalem. Pada waktu itu Raymond of Tripoli ditunjuk menjadi wali Baldwin, salah satu bangsawan berpengaruh di
masa itu sekaligus saudara ipar dari nenek Baldwin.
Pada tahun 1176, Baldwin sah memegang tahta kerajaan yang saat itu berumur 16 tahun. Menurut Britannica, masa kepimpinan Baldwin IV bersamaan dengan masa Salahuddin Al-Ayyubi sebagai pemimpin kelompok muslim. Baldwin yang mengetahui kelompok muslim yang mempersiapkan pasukan untuk melawan kelompok Kristiani di Yerussalem. Ia pun berambisi untuk menghambat pergerakkan pasukan Salahuddin. Meskipun Baldwin sadar kekuatan dari kelompok muslim saat itu, tetapi ia juga ingin melakukan perlawanan maksimal demi mempertahankan Yerussalem. Di tahun 1176, Baldwin meluncurkan serangan ke pasukan Salahuddin yang waktu bergerak ke Aleppo.
Tahun 1177, Salahuddin melakukan serangan ke kota Ashkelon untuk merebut kota tersebut dari kerajaan Yerussalem. Baldwin bersama 367 Ksatria Templar mencoba untuk mempertahankan kota Ashkelon dari serangan Salahuddin dan pasukannya yang lebih banyak. Dipertengahan peperangan, pasukan Templar melemah dan terus mundur dari Ashkelon hingga ke arah Yerussalem. Berdasarkan jurnal The Crusaders in the East, karena merasa sudah unggul
Salahuddin langsung memerintahkan pasukannya untuk menyebar, mengambil alih wilayah-wilayah di sana. Tanpa disadari Salahuddin, Baldwin bersama pasukkannya yang tersisa muncul dari belakang. Mereka menerobos formasi pasukan Salahuddin yang sudah tersebar. Terjadilah serangan mendadak sehingga Salahuddin memutuskan untuk mundur sampai ke kota Ashkelon. Hasil serangan mendadak dari Baldwin memberikan dampak yang besar bagi pasukan Salahuddin.
Berdasarkan buku Saladin and the Fall of The Kingdom of Jerusalem disebutkan kurang lebih 90% pasukan Salahuddin tewas akibat serangan mendadak, termasuk pengawal pribadi Salahuddin. Akibat hal tersebut, Salahuddin terpaksa mundur ke Mesir dengan kekalahan. Baldwin IV berhasil menghambat pergerakan Salahuddin. Meskipun Baldwin berhasil mengalahkan pasukan Salahuddin, kondisi Baldwin IV semakin memburuk karena pertempuran tersebut. Hal ini terjadi selama peperangan, Baldwin IV tidak memperoleh perawatan yang intensif. Kemudian ditambah lagi ia mengalami luka dan terpapar langsung dengan benda-benda yang tidak steril.
Piers D. Mitchell seorang sejarawan medis di Cambridge University, menyebutkan bahwa penyakit kusta Baldwin IV semakin parah saat ia memasuki masa puber. Parahnya penyakit kustanya sampai berubah menjadi lepromatosa. Lepromatosa adalah salah satu jenis kusta yang parah. Pengidapnya akan mengalami munculnya ruam-ruam merah yang mati rasa bahkan dapat merusak organ. Lepromatosa yang dialami Baldwin IV mengakibatkan kelumpuhan dan kebutaan. Meskipun dalam kondisi tersebut, Baldwin IV tetap ikut turun ke medan perang dalam keadaan ditandu.
Pada tahun 1185, Baldwin IV meninggal di umur 23 tahun. Dikarenakan ia tidak menikah dan tidak memiliki keturunan, tahta kerajaan kemudian diturunkan pada keponakannya, Baldwin V. Anak dari adik perempuannya yang saat itu berumur lima tahun. Dua tahun setelah kematian Baldwin IV, kota suci Yerussalem berhasil diambil alih oleh Salahuddin dan pasukan. Sosok Baldwin IV, paling terkenal digambarkan di film Kingdom of Heaven dengan sosok pemimpin bertopeng. Hal ini menyebabkan pandangan orang-orang bahwa Baldwin IV memakai topeng. Berdasarkan ATI (All That’s Interesting) bahwa tidak ada sumber sejarah yang mampu mengkonfirmasi bahwa Baldwin IV bertopeng perak karena penyakit kustanya tidak memberikan gejala apapun kecuali tangannya yang tidak dapat merasakan apapun.
Penulis bernama Naily Jannati mahasiswa Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Amirah Nurlija Zabrina










