Siti Khumairoh [AM] | DETaK
Darussalam-Sekitar 20 mahasiswa peserta program Aksara Berdampak dilepas di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Syiah Kuala (USK) pada Rabu 28 Oktober 2026. Mereka akan menjalankan program pengembangan produk herbal berbahan kunyit di Lamteuba, Aceh Besar, mulai Sabtu 31 Oktober 2026.
Pelepasan tersebut diwakili oleh Sulastri, anggota tim pengusul program, karena penanggung jawab kegiatan, Zumaidar, berhalangan hadir. Program ini dijadwalkan berlangsung hingga 31 Desember 2026.

Ketua kegiatan, Syarifudin Brutu, menjelaskan bahwa program tersebut akan menghasilkan dua produk olahan kunyit, yakni bubuk kunyit dan teh herbal. Pelaksanaan kegiatan menggunakan skema satu minggu penuh di lokasi, sementara kegiatan lainnya dikerjakan secara bertahap.
“Semoga program ini benar-benar berdampak dan bermanfaat bagi masyarakat Lamteuba,” ujar Syarifudin.
Ia juga berharap kondisi cuaca mendukung proses produksi yang membutuhkan penjemuran. Selain itu, ia berharap seluruh anggota tim dapat menjalankan kegiatan dengan aman di tengah potensi banjir dan longsor.
Sementara itu, Sulastri menjelaskan bahwa program tersebut diusulkan oleh tim yang terdiri dari dirinya dan dua anggota lainnya, termasuk Zumaidar. Pembagian tugas dilakukan berdasarkan bidang keahlian masing-masing. Zumaidar yang memiliki latar belakang biofarmasi bertanggung jawab pada produksi herbal, sedangkan Sulastri berfokus pada edukasi masyarakat.
“Fokus saya dalam program ini adalah mengedukasi masyarakat agar menanam menggunakan pupuk organik,” ujar Sulastri.
Selain edukasi penanaman, tim juga mendampingi masyarakat dalam memperhatikan keamanan dan kesehatan selama proses pengolahan produk. Pendampingan turut diberikan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), meliputi pengurusan legalitas produk, manajemen usaha, serta penguatan motivasi dan kapasitas produksi.
Dalam proses pengolahan, bahan kunyit yang telah dikeringkan ditargetkan memiliki kadar air maksimal 10 persen untuk mencegah pertumbuhan jamur dan menjaga keamanan produk.
Syarifudin menyebutkan bahwa program serupa biasanya dilaksanakan satu kali dalam setahun. Program Aksara Berdampak ini didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), dengan dukungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) USK.[]
Editor: Naisya Alina










