Beranda Feature Di Atas Sepeda Tua, Firdaus Mengayuh Kasih Untuk Ayahnya

Di Atas Sepeda Tua, Firdaus Mengayuh Kasih Untuk Ayahnya

BERBAGI
Firdaus (9), bersama ayahnya saat mendapatkan penanganan di rumah sakit Kabupaten Pidie, Aceh. (Dok. Ist)

Feature | DETaK

Tidak semua anak seusianya menghabiskan waktu dengan bermain. Ada anak yang dipaksa keadaan untuk memahami kerasnya hidup sebelum waktunya dan menunjukkan kasih sayang bukan lewat kata-kata, melainkan melalui kayuhan yang menguras tenaga. Firdaus (9), bocah asal Padang Tiji, Kabupaten Pidie, Aceh, adalah salah satunya. Baktinya kepada sang ayah terlihat melalui tindakan sederhana yang menyentuh hati banyak orang sekaligus menyingkap persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar kisah haru. Namanya dikenal setelah kisah ia mengantar ayahnya yang sedang sakit ke rumah sakit dengan sepeda menjadi sorotan publik. Dalam pemberitaan pada Oktober 2026, Firdaus disebut menempuh jarak sekitar 14,5 kilometer dari Padang Tiji menuju RSUD Tgk. Chik Ditiro di Sigli. Bagi orang dewasa dengan kendaraan bermotor, jarak itu hanyalah urusan beberapa menit. Bagi anak sembilan tahun yang mengayuh sambil membawa ayahnya yang sakit, jarak itu adalah ujian fisik yang tidak semestinya dipikul seorang anak.

Bayangkan sebuah sepeda tua menyusuri jalan, membawa seorang anak dan ayahnya yang membutuhkan pertolongan. Tidak ada kendaraan yang nyaman ataupun orang lain yang menemani, hanya kayuhan demi kayuhan menuju tempat pengobatan. Firdaus mungkin tidak pernah membayangkan bahwa perjalanannya akan disaksikan ribuan orang melalui media sosial. la hanya bagian dari keluarga yang sedang berusaha melewati masa sulit. Justru di situlah letak ironinya, sesuatu yang lahir dari keterdesakan kemudian dibaca sebagai keteladanan.

Iklan Souvenir DETaK

Video perjalanannya menyebar di media sosial, dan kisah keluarga kecil di Padang Tiji itu menjangkau khalayak yang jauh lebih luas. Simpati mengalir deras. Namun, sorotan semacam ini selalu bermata dua. Di satu sisi, perhatian publik membuka mata banyak orang terhadap penderitaan yang selama ini luput dari perhatian. Di sisi lain, sorotan tersebut berisiko menjadikan penderitaan sebagai tontonan. Di balik setiap peristiwa viral, ada manusia dengan keterbatasan dan perjuangannya sendiri, bukan sekadar bahan unggahan yang ramai selama sehari atau dua hari sebelum akhirnya tenggelam dari perhatian publik.

Pada 8 Oktober 2026, Firdaus diberitakan menerima sepeda listrik dari Mona Rizki Arisanti, istri Wakil Bupati Pidie. Bantuan serupa juga dilaporkan datang dari Ghufran Zainal Abidin, anggota DPR RI dari daerah pemilihan Aceh. Kisah Firdaus kemudian menjangkau khalayak di luar daerah dan membawanya ke acara Pagi Pagi Ambyar di Trans TV pada 16 Oktober 2026. Di sana, sang ayah mengungkapkan kalimat yang menyayat, “Saya nggak ada tempat mengeluh selain anak saya.” Kalimat itu bukan sekadar ungkapan kasih sayang. Ia juga mencerminkan kenyataan pahit ketika seorang ayah menjadikan anaknya sebagai tempat bergantung, padahal anak seusia Firdaus seharusnya masih mendapat perlindungan dari orang dewasa. Kita patut menghargai setiap uluran tangan tersebut, tetapi tidak boleh berhenti pada tepuk tangan. Sepeda listrik memang dapat meringankan perjalanan Firdaus, tetapi bantuan itu belum menjawab persoalan mendasar: mengapa seorang anak harus mengantar ayahnya yang sakit sejauh itu untuk mendapatkan pertolongan? Persoalan akses layanan kesehatan bagi warga yang hidup dalam keterbatasan tidak akan selesai hanya dengan satu hadiah. Bantuan yang datang setelah sebuah video viral juga patut dibaca dengan jernih. Apakah ia tumbuh dari kepedulian yang berkelanjutan, atau semata respons atas desakan sorotan publik? Pertanyaan itu penting, sebab kemiskinan yang ditangani hanya ketika menjadi trending hampir selalu kembali tak terlihat begitu perhatian beralih.

Di sinilah empati publik diuji. Rasa haru gampang dibagikan, mudah pula dilupakan. Kisah seperti ini seharusnya mendorong kita menanyakan hal yang lebih tajam kepada pemerintah daerah dan pembuat kebijakan. Bagaimana pemerintah memastikan warga yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan dan tidak memiliki kendaraan memadai tetap dapat memperoleh pertolongan? Siapa yang membantu keluarga yang tidak memiliki orang lain untuk mengantar anggota keluarganya yang sakit? Kebaikan individu dan dermawan memang berharga, tetapi mereka tidak boleh menjadi pengganti kewajiban negara menjamin hak kesehatan warganya. Jika setiap kali ada masalah kita hanya mengandalkan kebaikan yang kebetulan lewat, itu pertanda sistem sedang tidak bekerja.

Media dan warganet pun memikul tanggung jawab. Menyebarluaskan kisah anak di bawah umur tanpa mempertimbangkan privasi dan martabatnya berisiko membuat rekaman tersebut terus beredar bahkan ketika ia telah dewasa. Pemberitaan yang baik tidak berhenti pada kisah mengharukan, tetapi mengawal persoalan di baliknya. Apakah keluarga ini benar-benar mendapat pendampingan dan apakah layanan yang mereka butuhkan kini terjangkau? Tanpa pengawalan itu, simpati hanyalah gelombang yang datang dan pergi.

Firdaus bukan sekadar anak yang kisahnya viral. Ia tetaplah seorang anak yang berhak bermain, belajar, dan tumbuh dengan aman. Memuji ketangguhannya tanpa mempersoalkan alasan ia harus setangguh itu sama saja dengan menormalkan beban yang tidak adil bagi anak seusianya.

Ketika masyarakat memuji “anak hebat” yang mengurus orang tuanya, kita perlu berhati-hati agar tidak menganggap wajar beban yang seharusnya tidak dipikul anak. Tanggung jawab merawat anggota keluarga yang sakit memang dapat melibatkan anak dalam batas tertentu, tetapi memastikan mereka memperoleh pertolongan dan perlindungan tetap menjadi tanggung jawab orang dewasa dan sistem yang menaunginya.

Pada akhirnya, yang paling berharga dari perjalanan Firdaus bukanlah seberapa jauh sepeda itu melaju atau seberapa banyak orang yang menontonnya. Yang paling berarti adalah kasih sayang yang mendorong seorang anak berusaha mengantar ayahnya untuk mendapatkan pertolongan. Namun, kasih sayang saja tidak cukup. Firdaus dan keluarga seperti dirinya membutuhkan akses jalan yang aman, layanan kesehatan yang terjangkau, serta pendampingan yang berkelanjutan, bahkan setelah perhatian publik mereda. Jika kisah Firdaus hanya berakhir sebagai kenangan haru, maka kita sedang menyia-nyiakan pelajaran paling penting darinya: bahwa tidak ada anak yang seharusnya mengayuh sejauh itu sendirian.

Penulis bernama Alvi Mumtazah, Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Musfirah