Beranda Artikel Menilik Tren Sastra dan Literasi Kritis Anak Muda

Menilik Tren Sastra dan Literasi Kritis Anak Muda

BERBAGI
llustrasi. (Rifqina Ulya/DETaK)

Artikel | DETaK

Di tengah perkembangan zaman, media sosial hadir sebagai wadah bagi anak muda yang ingin berkembang. Tulisan-tulisan yang bernuansa sastra sering kali muncul dalam bentuk  quotes atau sekadar kata-kata penyemangat yang memiliki kesan menarik hingga terkadang jari-jari kita terhenti untuk membaca atau sekadar memposting ulang lalu lanjut scroll lagi. Bacaan dengan kutipan-kutipan atau kata kata yang dikemas secara menarik dapat dengan cepat mempunyai tempat di kalangan generasi muda.

Fenomena maraknya sastra di kalangan generasi muda mendapat respons yang baik dari masyarakat, sehingga smartphone tidak hanya sekedar untuk bermain game atau menonton konten-konten yang tidak bermanfaat tapi juga dapat menjadi sarana membaca yang terasa lebih asik karena tulisan-tulisan menjadi lebih ringkas sehingga mudah untuk diterima oleh generasi muda yang biasanya lebih tertarik untuk membaca kalimat-kalimat yang tidak begitu panjang dan kaku pada konten sekali lewat, kemudahan dalam mengakses juga dapat menjadi suatu pertimbangan, maka dari itu membaca melalui smartphone dapat menjadi pilihan yang paling tepat. Ditambah lagi harga buku-buku termasuk buku sastra melambung tinggi, sehingga kemudahan memakai smartphone terasa semakin berarti.

Iklan Souvenir DETaK

Karya sastra juga dapat menjadi salah satu cara generasi muda untuk mengekspresikan dirinya lewat tulisan. Kata-kata yang tidak dapat diungkapkan di kehidupan nyata, dapat dihidupkan melalui tokoh-tokoh dalam tulisan tersebut. Secara tidak langsung karya sastra yang memiliki peran yang dekat dengan masyarakat dapat dengan mudah diterima oleh pembaca karena dianggap relate atau sejalan dengan pemikiran mereka. Pendekatan emosional seperti ini menjadi cara tercepat untuk karya sastra berbaur dengan generasi muda. Karya sastra yang kini tidak terlalu terikat dan dapat dengan bebas berekspresi bahkan berpendapat, juga menjadi daya tarik tersendiri bagi penulis-penulis muda yang ingin merasakan kebebasan dalam menulis.

Platform-platform seperti BookTok, Bookstagram, dan BookTube mendukung minat generasi muda yang ingin masuk kedalam dunia kesastraan, juga menjadi salah satu tempat berkumpulnya para pecinta sastra secara digital. Komunitas dengan cepat terbentuk dengan membawa misi yang sama, “meningkatkan literasi generasi muda Indonesia.” Hasilnya, sedikit demi sedikit ketertarikan anak muda dalam sastra semakin meningkat. Yang tadinya hanya scroll sosial media karena iseng, kini berubah menjadi scroll untuk membaca. Teman-teman yang memiliki misi atau niat yang sama menjadi salah satu keuntungan bergabung dalam komunitas seperti ini.

Survei JAKPAT mencatat, gen Z menjadi generasi dengan aktivitas membaca tertinggi sebesar 26%. Namun, tingginya aktivitas membaca tidak selalu menunjukkan kemampuan literasi yang kuat. Hal tersebut juga disampaikan oleh Kepala Perpustakaan Nasional RI, E. Aminuddin Aziz, yang menyoroti adanya kesenjangan antara tingkat kegemaran membaca dan kemampuan literasi. Menurutnya, tingginya budaya gemar membaca belum tentu menunjukkan kemampuan memahami bacaan, sebab literasi tidak hanya berkaitan dengan seberapa sering seseorang membaca, tetapi juga bagaimana ia memahami bacaan sebelum, selama, dan setelah membaca. Dengan kata lain, meningkatnya kegemaran membaca gen Z belum diikuti oleh kemampuan memahami dan membaca kritis. 

Membaca ringan merupakan aktivitas membaca yang dilakukan sekadar untuk hiburan, tanpa mendalami isi bacaan, sehingga bacaan ringan ini terasa lebih cocok untuk menyegarkan pikiran setelah beraktivitas, seperti membaca cepren lucu atau membaca berita selebriti. Dalam membaca ringan, pembaca cenderung menerima informasi sebagaimana adanya tanpa perlu menggali lebih jauh. Lalu, bagaimana dengan berpikir kritis? Berpikir kritis ketika pembaca tidak hanya menerima informasi, tetapi juga aktif menerima kebenaran data yang sudah diperoleh.

Lalu bagaimana generasi muda bukan hanya sekedar membaca yang tadi lewat, tapi juga mampu menyingkapinya? Salah satu cara mengatasinya adalah dengan mulai memahami apa yang dibaca dan membiasakan diri berpikir kritis, bukan hanya sekedar lewat, menyukai salah satu postingan lalu lanjut scroll lagi. Pemahaman bacaan yang baik akan menghasilkan kemampuan berpikir kritis, menyerap informasi secara akurat, hingga meningkatkan daya konsentrasi. Daya ingat yang kuat juga menjadi salah satu keuntungannya karena semakin kuat daya ingat yang dimiliki pembaca, maka otak dapat dengan cepat merekam dan menggali informasi-informasi dengan baik.

Sastra dapat menjadi salah satu batu loncatan bagi anak muda untuk berpikir kritis. Dengan berpikir kritis, kita dapat dengan mudah mengenali bias dalam tulisan dan menjadi lebih berhati-hati dalam menerima informasi. Dengan begitu, membaca sastra tidak hanya kegiatan untuk sekadar mengikuti trend, tetapi juga menjadi sarana untuk memahami, mempertanyakan, dan melihat dari berbagai sudut pandang. Jadi tidak hanya berfokus pada susdut pandang penulis tapi dapat lebih memperluas cara berpikir kita terhadap suatu bacaan.

Maka harapannya, generasi muda bukan hanya menjadikan sastra sebagai trend keren yang dapat diikuti. Namun, diharapkan dapat mendalami dan melestarikan sastra dengan baik, seperti meluangkan waktu selama 15-30 menit untuk membaca, dilanjutkan dengan menuliskan pendapat, lalu dapat mendiskusikannya dengan teman untuk mempertajam pemikiran tentang apa yang sudah dibaca, maka generasi muda dapat menjadi lebih berkualitas, baik dari segi emosi juga pemikiran.

Penulis bernama Qatrunnada, Mahasiswi Program Studi Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Kamilina Junita Damanik