Beranda Buku Melihat Perempuan melalui Kacamata Budaya dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk

Melihat Perempuan melalui Kacamata Budaya dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk

BERBAGI
Novel Ronggeng Dukuh Paruk. (Doc.Ist)

Resensi | DETaK

Judul: Ronggeng Dukuh Paruh

Penulis: Ahmad Tohari

Iklan Souvenir DETaK

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: 1982

Panjang/Lebar buku: 20.0 x 13,5 cm

Tebal buku: 520 halaman

Harga: 111.000 – Rp139.000

Tentang Penulis

Ahmad Tohari merupakan penulis dan sastrawan Indonesia. Lahir pada tanggal 13 Juni 1948 dan terkenal melalui triloginya Ronggeng Dukuh Paruk, yang telah berhasil diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, di antaranya, Inggris, Jepang, Jerman, dan Belanda, yang kemudian tiga trilogi ini disatukan ke dalam satu buku yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk. Beliau juga menerbitkan beberapa novel selain Ronggeng Dukuh seperti Orang-Orang Proyek, Di Kaki Bukit Cibalak, dan beberapa cerita pendek lainnya. Beliau meraih beberapa penghargaan melalui karya sastranya, seperti hadiah Yayasan Buku Utama tahun 1986, dan pemenang salah satu hadiah Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakartta pada tahun 1979. Pada tahun 1995, Ahmad Tohari menerima Hadiah Sastra Asean, SEA Write Award. Sekitar tahun 2007, Ahmad Tohari menerima Hadiah Sastra Rancage.

Sinopsis Buku

Buku ini menceritakan tentang perjalanan Srintil dan bagaimana proses ia menjadi ronggeng (penari). Buku ini menceritakan bagaimana ronggeng di satu sisi adalah sosok yang dipuja-puja dan dikagumi, tetapi di sisi lain tubuh, jiwa, dan pikirannya diatur oleh masyarakat. Srintil dikisahkan tinggal di sebuah pedukuhan yang sarat akan kemiskinan, kemelaratan, serta kebodohan yang menjerat mereka dengan konflik berdarah antara PKI dan Republik Indonesia pada tahun 1960-an yang menyeret Srintil serta menjadikannya tahanan politik. Pengalaman pahit yang dialaminya sebagai tahanan politik membuat Srintil sadar akan harkatnya sebagai manusia. Setelah bebas, ia berniat memperbaiki citra dirinya dengan tak lagi melayani lelaki mana pun dan menjadi wanita somahan (rumahan).

Selain membahas tentang kebudayaan dan konflik, novel ini juga menyelipkan cerita romansa anatar Srintil dan Rasus anak pedukuhan yang muak dengan budaya dan adat istiadat dalam memperlakukan ronggeng seperti barang dan memutuskan kabur lalu menjadi tentara. Ketika teman masa kecilnya, Rasus, muncul kembali dalam kehidupannya, sepercik harapan pun muncul. Akan tetapi, ternyata Srintil kembali terhempas, kali ini bahkan membuat jiwanya hancur.

Tentang Buku

Buku yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk ini dulunya adalah sebuah trilogi yaitu, Catatan Buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala. Setahun setelah terbit, novel ini diadaptasi ke dalam film Darah dan Mahkota Ronggeng dengan sutradara Yazman Yazid dan dibintangi Ray Sahetapy dan Enny Beatrice, yang kemudian diadaptasi kembali pada tahun 2011 dengan judul Sang Penari yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah dengan pemeran utama Prisia Nasution  dan Oka Antara. Film kedua ini berhasil meraih sepuluh nominasi Festival Film Indonesia 2011 dan memenangkan empat Piala Citra. Pada tahun 2003, Gramedia Pustaka Utama menggabungkan trilogi ini menjadi satu dengan judul Ronggeng Dukuh Paruk dan hingga tahun 2020, novel ini sudah 20 kali dicetak.

Melalui novel ini, Ahmad Tohari ingin menyampaikan pesan untuk memiliki kasih sayang terhadap sesama manusia, juga kritik sosial terhadap Pendidikan serta kesejahteraan masyarakat serta dampak yang dirasakan oleh masyarakat kecil akibat gejolak politik yang terjadi. Penulis juga mengkritik bagaimana sebuah budaya seringkali mengekang, mengeksploitasi, dan memandang posisi perempuan sebagai tingkatan paling rendah jika dibandingkan dengan laki-laki.

Kekurangan dan Kelebihan

Kekurangan buku ini terletak pada kosakata-kosakata asing yang jarang terdengar, apalagi oleh generasi sekarang. Sering kali juga penulis mendeskripsikan suasana yang terjadi atau latar dengan detail yang sangat mendalam sehingga pembaca terbawa ke dalam suasana yang diciptakan dan melupakan cerita utama yang sedang terjadi. Tetapi jujur saja, sebagai pembaca, saya menyukai sensasi ini tetapi saya harus membaca ulang lagi kalimat sebelumnya untuk mengetahui cerita yang sedang terjadi. Kemudian, kelebihan buku ini adalah lewat cerita si tokoh utama novel ini membantu merawat ingatan kita tentang Indonesia yang penuh dengan pergolakan dan pertumpahan darah, dan tak jarang yang menjadi korbannya adalah masyarakat marjinal yang terkungkung oleh kebodohan dan kemiskinan. Cerita Srintil juga sangat berkaitan dengan Hak Asasi Manusia (HAM), di mana seorang perempuan haruslah dipandang sebagai manusia yang memiliki hak yang setara dengan laki-laki dan tidak dilihat berdasarkan fungsinya saja, yaitu mengandung, melahirkan, dan merawat anak. Perempuan sebagai manusia tidak patut dikekang dalam menentukan pilihan hidupnya  dan diperbudak oleh hawa nafsu laki-laki semata. Selain itu, pembawaan cerita di novel ini sangat mengalir, seakan-akan sebagai pembaca kita menyaksikan secara langsung kisah hidup Srintil dan perjalanannya mencari jati diri sebagai manusia yang mempunyai hak yang setara.

Penulis bernama Sara Salsabila, Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Husniyyati