Beranda Terkini HIMASIO USK Gelar Talk Show Refleksi 20 Tahun Perdamaian Aceh

HIMASIO USK Gelar Talk Show Refleksi 20 Tahun Perdamaian Aceh

BERBAGI
Penyampaian Materi Bupati Aceh Besar, H. Muhammad Idris dalam Talk Show bertema “Merawat Damai, Menguatkan Aceh: Refleksi 20 Tahun Perdamaian dan Pembangunan Berkelanjutan” 7/11/2025. (Zahra Zakya Attamy [AM]/DETaK)

Zahra Zakya Attamy [AM] & Defi Ulantari [AM] | DETaK

Darussalam-Himpunan Mahasiswa Sosiologi (HIMASIO) Universitas Syiah Kuala (USK) menggelar Talk Show bertajuk “Merawat Damai, Menguatkan Aceh: Refleksi 20 Tahun Perdamaian dan Pembangunan Berkelanjutan” pada Jumat, 7 November 2025 di panggung utama Gelanggang USK, Banda Aceh.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian acara Sociology Fair dan menghadirkan Bupati Aceh Besar, H. Muhammad Idris, sebagai narasumber dengan moderator Khairulyadi, S.Ag., MHSc seorang dosen dan akademisi.

Iklan Souvenir DETaK

Ketua panitia Sociology Fair, Haikal Muhammad Zikri menyampaikan bahwa tujuan talkshow ini adalah sebagai bentuk refleksi dua dekade perdamaian Aceh, agar kaum muda khususnya mahasiswa dapat memahami perjalanan panjang proses perdamaian di Aceh.

“Melalui talk show ini kami ingin kaum muda tahu bagaimana jalan perdamaian Aceh dulu. Jangan sampai generasi sekarang melupakan sejarah, karena sejarah adalah identitas kita. Ketika kita tidak tahu sejarah, artinya kita kehilangan jati diri,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa momen 20 tahun perdamaian Aceh menjadi waktu yang tepat untuk kembali mengingat perjuangan masa konflik, proses mediasi, hingga tercapainya kesepakatan damai antara pihak-pihak yang bertikai.

Sementara itu dalam materinya, Bupati Aceh Besar yaitu H. Muhammad Idris menegaskan pentingnya generasi muda memahami sejarah Aceh untuk menjaga perdamaian yang telah diperjuangkan dengan pengorbanan besar.

“Penyebab utama perdamaian Aceh adalah tsunami dan perang. Namun setelah dua puluh tahun, perubahan di Aceh belum signifikan karena kurangnya persatuan masyarakatnya. Banyak orang Aceh yang pintar, tapi tidak mau kembali membangun daerah,” ujarnya.

Ia juga menekankan peran akademisi dalam menjaga nilai-nilai perdamaian. Menurutnya, sejarah Aceh termasuk perang dan tsunami perlu dimasukkan ke dalam kurikulum pembelajaran agar generasi muda tidak melupakan jati dirinya.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengingat sejarahnya. Kalau kita tidak tahu siapa kita sebenarnya, kita adalah orang bodoh. Maka pelajarilah sejarah bangsa kita sendiri,” pesan Bupati Idris.

Ia berharap Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) USK dapat menjadi pelopor dalam menulis sejarah panjang Aceh, sehingga nilai-nilai perdamaian dan perjuangan masyarakat Aceh tetap hidup di hati generasi muda.

“Saya melihat belum ada yang menulis sejarah panjang Aceh hingga saat ini, jadi saya harap fakultas ini dapat menulis sejarah yang ada di bumi serambi mekah ini,” harapnya.[]

Editor: Amirah Nurlija Zabrina