Beranda Terkini Pemuda Aceh Kritik Kondisi Demokrasi Nasional dalam Konsolidasi GERAK Aceh

Pemuda Aceh Kritik Kondisi Demokrasi Nasional dalam Konsolidasi GERAK Aceh

BERBAGI
Sesi diskusi oleh narasumber GeRAK Aceh di Ruang Museum Teater UIN Ar-Raniry. 8/10/2025. (M. Azkal Azkiya [AM]/DETaK)

M. Azkal Azkiya [AM] | DETaK

Darussalam – Gerakan Anti Korupsi Aceh (GeRAK Aceh) mengadakan konsolidasi orang muda untuk menyikapi kondisi demokrasi nasional, yang digelar di Ruang Museum Teater Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry pada 8 Oktober 2025. Kegiatan ini bertujuan agar kaum muda dapat berpikir kritis dalam menghadapi sejumlah persoalan yang dianggap menghambat kualitas demokrasi di Indonesia, khususnya di Aceh.

Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dan peserta dari berbagai organisasi, termasuk Kausar Muharya Muarsi dari Koalisi Anak Muda Demokrasi Resilience, Istiqamah dari Forum Perempuan Aceh, dan Alqadri Naufal Akbar dari Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (DEMA FISIP) UIN Ar-Raniry.

Kausar Muharya Muarsi selaku dari Koalisi Anak Muda Demokrasi Resilience menekankan pentingnya berperan aktif generasi muda dalam mengawasi jalannya pemerintahan dan mengajak generasi muda untuk selalu berpikir kritis. 

Iklan Souvenir DETaK

“Para pemuda tidak boleh terus diam dan bersikap pasif ketika ada isu yang merugikan rakyat. Ketika ada suatu hal yang merugikan bagi rakyat, maka kaum pemuda harus berpartisipasi aktif dengan cara berpikir kritis dan menolak kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan rakyat,” ujarnya.

Sementara itu, Istiqamah dari Forum Perempuan Aceh menyoroti keterlibatan perempuan muda dalam proses demokrasi, dan perlunya ruang partisipasi yang lebih inklusif. 

“Kaum perempuan di pemerintahan hingga saat ini hanya sekitar kurang dari 5% yang duduk di kursi pemerintahan. ini berarti bahwa suara kaum perempuan hingga saat ini masih dikesampingkan. Perempuan dianggap tidak layak untuk berada di kursi pemerintahan,” ungkapnya. 

Ketua DEMA FISIP UIN Ar-Raniry, Alqadri Naufal Akbar, menyoroti isu pemerintahan di Aceh terkait pemanfaatan dana otonomi khusus (otsus).

“Kemanfaatan dana otsus sampai saat ini masih dalam perbincangan seperti dananya dialirkan kemana dan dialirkan ke sektor apa. Kami berharap pemerintah membuka alokasi dana atau kemana dana itu dialirkan,” ujarnya.

Kegiatan konsolidasi ini dihadiri lebih dari 20 organisasi dari berbagai kalangan mahasiswa, aktivis, dan komunitas pemuda Aceh. Kegiatan konsolidasi ditutup dengan sesi diskusi oleh para peserta mengenai upaya memperkuat peran generasi muda dalam mengawal jalannya demokrasi, mendorong transparansi kebijakan publik, serta membangun budaya antikorupsi di lingkungan masyarakat. []

Editor: Cut Irene Nabilah