Artikel | DETaK
Dalam beberapa pekan terakhir istilah “Lavender Marriage“ menjadi isu yang kerap di perbincangkan di sosial media. Salah satu penyebabnya adalah isu yang menyeret public figure Indonesia dan suaminya yang di curigai sebagai lavender marriage. Lavender Marriage merupakan sebuah fenomena yang menjelaskan pernikahan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan dilakukan untuk menutup orientasi seksual menyimpang dari salah satu maupun keduanya, hal ini di lakukan karena tekanan serta stigma sosial pada kaum homoseksual.
Dilansir dari Marriage.com, pernikahan jenis ini biasanya tidak dilandasi oleh cinta, melainkan sebagai upaya untuk menyembunyikan orientasi seksual yang sesungguhnya demi menyesuaikan diri dengan norma sosial dan tekanan masyarakat yang masih kuat mengedepankan heteronormatif. Fenomena ini masih menjadi topik menarik yang di perbincangkan apalagi di negara dengan tekanan kuat masyarakat pada heteronormatif.

Di dalam lingkungan yang masih menganggap homoseksual masih merupakan hal yang tabu, lavender marriage menjadi jalan yang di pilih untuk tetap menjaga citra sosial. Beberapa Alasan yang mendasari ini juga demi menghindari pandangan buruk dari masyarakat serta memenuhi eskpektasi orang orang yang berada di lingkungan sekitar serta perlindungan akan resiko sosial pada lingkungan yang mengkriminalisasi homoseksual. Lavender marriage ini seperti melakukan ‘kamuflase’ dalam lingkungan sosial.
Istilah ‘lavender’ mulai di perkenalkan pada awal abad ke 20 pada tahun 1920-an dimana pada saat itu hal ini di perkenalkan oleh Hollywood melalui pernikahan yang dirancang untuk aktor serta aktris mereka yang homoseksual. Warna Lavender sebagai simbol warna yang berhubungan dengan komunitas LGBTQ+ yang melambangkan perjuangan identitas yang tidak terbuka secara publik. Pada masa itu, homoseksual bukan saja sebagai hal yang tabu di masyarakat, namun pastinya akan berdampak pada karir yang di bangun oleh aktris serta aktor masa itu. Beberapa faktor yang juga mempengaruhi praktik lavender marriage ini antara lain :
- Norma sosial serta budaya lingkungan sekitar yang masih berpegangan terhadap pemikiran bahwa pernikahan atau hubungan homoseksual merupakan hal yang salah dan tidak sesuai dengan norma sosial yang ada.
- Dalam beberapa budaya pernikahan yang di langsungkan mengharapkan adanya keturunan yang penting sebagai penerus keluarga dsb, yang mana hal ini tidak bisa dilakukan pada pernikahan homoseksual.
- Larangan homoseksual di segala agama yang ada juga, seperti yang di ketahui tidak ada satupun agama yang membenarkan hubungan homoseksual.
- Di beberapa tempat juga homoseksual masih mendapatkan diskriminasi dan juga tidak mendapat pengakuan sosial seperti halnya pernikahan laki -laki dan perempuan pada umumnya.
Lavender marriage ini juga pastinya memberikan dampak dan implikasinya sendiri, beberapa di antaranya seperti :
Lavender marriage memberikan dampak psikologi kepada orang yang melakukan atau menjalankan hubungan ini, dampak psikologis yang terjadi berupa stress, kecemasan hingga depresi di akibatkan menjalani kehidupan yang tidak sesuai dengan yang mereka bayangkan atau yang mereka butuhkan. Perasaan terjebak dan tekanan untuk mempertahankan rahasia tersebut dapat menimbulkan konflik emosional dan kebingungan identitas, terutama jika salah satu pihak mulai mengembangkan perasaan yang berbeda dari kesepakatan awal. Kondisi ini berdampak negatif pada kesejahteraan mental dan kebahagiaan pribadi mereka (Liputan6; Detik; Halodoc).
Di sisi lain, seperti yang sudah di bahas sebelumnya bahwa lavender marriage ini sebagai ‘kamuflase’ dari lingkungan sosial konservatif yang memberikan tekanan sosial pada individu homoseksual dan juga untuk menghindari stigma sosial yang negatif. Namun beberapa menganggap praktik ini sebagai suatu hal yang membatasi kebebasan serta hak yang dimiliki setiap individu, hal ini dianggap memenjarakan hak seseorang untuk memperlihatkan identitas sesungguhnya hanya karena takut tidak mendapatkan pengakuan sosial.
Namun sebenarnya pada era modern sekarang praktik ini sudah menurun, di karenakan publik yang sudah membenarkan dan mengakui homoseksual, adanya perayaan pride month yang di lakukan sebagai unjuk rasa pengakuan dan kesetaraan terhadap LGBTQ+ juga jadi penyebab menurunnya praktik ‘lavender marriage’ ini. Namun praktik ini cenderung masih di lakukan pada lingkungan yang belum menyetujui dan menormalisasi hubungan homoseksual.
Fenomena Lavender Marriage mencerminkan dampak kuat tekanan sosial dan stigma terhadap orientasi seksual non-heteroseksual di masyarakat yang masih konservatif. Meskipun menjadi jalan keluar untuk menjaga citra sosial, praktik ini berdampak negatif pada kondisi psikologis pelakunya dan membatasi kebebasan identitas. Dengan meningkatnya penerimaan sosial dan pengakuan hak-hak LGBTQ+ di era modern, diharapkan praktik Lavender Marriage dapat terus berkurang dan digantikan oleh lingkungan sosial yang lebih inklusif dan menghargai keberagaman.
Penulis bernama Wanda Amelia Hutasuhut, Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala
Editor: Khalisha Munabirah










