Artikel | DETaK
Sebuah potongan foto Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri peringatan Hari Nasional Tiongkok menjadi perbincangan hangat publik. Bukan karena penampilannya, melainkan karena salah satu media terbesar di Jepang, Yomiuri Shimbun, memangkas foto yang menampilkan Prabowo berdiri bersama para pemimpin dunia lain.
Dalam versi asli, Prabowo sejajar dengan Presiden Xi Jinping (Tiongkok), Presiden Vladimir Putin (Rusia), dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Namun, saat dimuat di halaman depan Yomiuri Shimbun, bagian foto yang menampilkan Presiden Prabowo hilang, menyisakan hanya tiga pemimpin tersebut.

Mengapa Foto Prabowo di Potong?
Banyak yang bertanya-tanya, apakah pemangkasan itu bentuk pelecehan atau isyarat politik tertentu? Analisis sederhana menyebutkan alasannya justru terletak pada framing editorial.
Pemangkasan foto Prabowo pada media jepang tersebut bukan tanpa sebab, dikarenakan fokus pemberitaan artikel Yomiuri menyoroti poros Tiongkok-Rusia-Korea Utara sebagai simbol blok otoriter yang menantang dominasi Amerika Serikat. Kehadiran prabowo akan tidak relevan dengan narasi utama pemberitaan ini. Ditambah dengan posisi Indonesia melalui kehadiran Prabowo hadir sebagai tamu dan sahabat Tiongkok tetapi tidak termasuk dalam bagian aliansi strategis yang diberitakan karena negara kita yang bersifat Non-Blok atau netral. Maka dari itu media menitipkan visual untuk memperkuat pesan yang memilih untuk memotong foto orang paling penting di Indonesia tersebut agar pembaca dapat menangkap inti narasi pemberitaan.
Framing Geopolitik apa yang Dibangun oleh China-Rusia-Korea Utara?
1. Blok Anti-Barat / Anti-AS
China, Rusia, dan Korea Utara dipersepsikan sebagai poros anti-Barat yang semakin solid. China dengan kekuatan ekonominya terus menantang dominasi Amerika Serikat di ranah perdagangan, teknologi, dan militer. Rusia berada di garis depan konflik melawan Barat melalui perang di Ukraina, yang mempertegas posisinya berhadapan langsung dengan NATO. Sementara itu, Korea Utara menjadi simbol ancaman militer di Asia Timur dengan uji coba rudal balistiknya. Kehadiran tiga negara ini secara bersama-sama dibingkai sebagai bukti nyata bahwa poros otoriter kian memperkuat perlawanan terhadap dominasi AS.
2. Solidaritas Otoritarian
Selain aspek geopolitik, ketiga negara tersebut juga dipandang memiliki kesamaan dalam bentuk pemerintahan otoriter. Mereka sama-sama mengedepankan kontrol ketat terhadap media, membatasi oposisi politik, dan mengedepankan kepemimpinan yang sangat terpusat. Dengan tampil bersama dalam forum internasional, mereka tidak hanya menunjukkan kekuatan masing-masing, tetapi juga memperlihatkan solidaritas antarrezim otoriter. Framing ini membangun citra bahwa sistem politik non-demokratis tengah berusaha menguatkan diri dalam kancah global.
3. Tantangan Tatanan Global
Kemunculan China, Rusia, dan Korea Utara berdampingan juga dipandang sebagai simbol tantangan terhadap tatanan global yang selama ini didominasi Barat. Melalui kebersamaan mereka, muncul pesan bahwa ada alternatif tata dunia lain di luar sistem yang dipimpin AS dan sekutu Eropanya. Dari sudut pandang Jepang, hal ini dapat mengguncang stabilitas kawasan Asia Pasifik, terlebih karena ketiganya memiliki rekam jejak yang mengganggu kepentingan Jepang. Framing ini memberi sinyal kepada publik Jepang bahwa ancaman keamanan dari luar semakin nyata dan perlu diwaspadai.
4. Polarisasi dunia
Akhirnya, framing geopolitik ini juga menekankan adanya polarisasi global yang makin jelas di satu sisi kutub demokrasi yang dipimpin Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa; di sisi lain kutub otoriter yang diwakili China, Rusia, dan Korea Utara. Dunia seakan bergerak menuju pembelahan baru, di mana nilai-nilai demokrasi berhadapan langsung dengan otoritarianisme. Dengan demikian, kehadiran ketiga negara itu dalam satu frame foto menjadi simbol kuat bahwa dunia tengah memasuki fase ketegangan baru antara dua kutub kekuatan.
Yomiuri Shimbun ingin menekankan kepada pembacanya bahwa ada tiga tokoh penting yang sedang memperkuat kerja sama, yakni Xi Jinping dari China, Vladimir Putin dari Rusia, dan Kim Jong Un dari Korea Utara. Dalam kacamata Jepang yang merupakan sekutu dekat Amerika Serikat, ketiga pemimpin ini dipandang sebagai blok otoriter atau kelompok yang berseberangan dengan Barat.
Pada foto asli sebenarnya terlihat juga sosok Prabowo Subianto. Namun, jika ia ditampilkan, maka pesan utama yang ingin dibangun redaksi akan menjadi kurang fokus. Hal ini karena Indonesia tidak termasuk bagian dari blok otoriter tersebut, melainkan menganut prinsip non-blok dan menjaga sikap netral dalam politik luar negeri. Kehadiran Prabowo dalam frame justru berpotensi memunculkan pertanyaan di kalangan publik Jepang, seperti: “Mengapa ada Indonesia di sana?” atau “Apakah Indonesia ikut bergabung dalam aliansi itu?” Padahal jawabannya jelas tidak.
Oleh sebab itu, secara editorial redaksi memilih melakukan cropping pada foto tersebut. Tujuannya agar pembaca Jepang langsung menangkap pesan inti “Lihat, tiga pemimpin otoriter ini berdiri bersama, makin erat.” Dengan begitu, framing berita menjadi lebih jelas dan tegas. Sederhananya, pemotongan foto tersebut bukanlah bentuk merendahkan Prabowo, melainkan strategi editorial untuk menjaga fokus narasi yang ingin mereka bangun.
Penulis bernama Amanda Tasya, Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Fathimah Az Zahra


![[DETaR] Tips Olahraga di Bulan Puasa Agar Tubuh Tetap Sehat dan Bugar](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/03/WhatsApp-Image-2026-03-15-at-15.23.21-238x178.jpeg)
![[DETaR] Ramadan dan Tantangan Menjaga Hidrasi Tubuh](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/03/Ilustrasi_Ramadhan-dan-Tantangan-Menjaga-Hidrasi-Tubuh-238x178.png)


![[DETaR] Tips Olahraga di Bulan Puasa Agar Tubuh Tetap Sehat dan Bugar](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/03/WhatsApp-Image-2026-03-15-at-15.23.21-100x75.jpeg)
![[DETaR] Ramadan dan Tantangan Menjaga Hidrasi Tubuh](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/03/Ilustrasi_Ramadhan-dan-Tantangan-Menjaga-Hidrasi-Tubuh-100x75.png)


