Beranda Opini Pemira, Semoga Pemilihan Raya Bukan Pemilihan Raib

Pemira, Semoga Pemilihan Raya Bukan Pemilihan Raib

BERBAGI
Ilustrasi. (Shahibah Alyani/DETaK

Opini | DETaK

Saat ini, kampus kita tercinta tengah mendekati salah satu acara akbarnya. Acara yang di mana para fakultas saling unjuk gigi, mengeluarkan kandidat terbaik untuk diadu dengan pasangan dari fakultas lainnya. Apa lagi kalau bukan demi memenangkan gelar Presiden Mahasiswa dalam Pemilihan Raya.

Pemilihan Raya yang dilakukan setahun sekali beriringan dengan pergantian kepengurusan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Syiah Kuala (BEM USK) ini kerap menjadi sorotan. Bagaimana tidak, yang terpilih menjadi Presiden Mahasiswa (Presma) nantinya akan menjadi pemimpin kita selama satu tahun ke depan. Yang akan memperjuangkan aspirasi kita, berdiri paling depan, menyuarakan hak dan keluhan rakyatnya.

Iklan Souvenir DETaK

Hampir mirip dengan pergantian presiden. Bedanya, ketika pergantian presiden kita tidak perlu begitu riweuh. Mungkin hanya heboh ketika hendak menyoblos. Ya jelas, karena yang menjadi presiden pastinya adalah orang ternama di negeri kita ini, dan bukan kita. Lebih tepatnya, belum. Mungkin beberapa tahun lagi akan lahir presiden dari kita yang saat ini berstatus mahasiswa.

Tapi tak apa, menjadi mahasiswa itu menyenangkan. Sungguh menyenangkan sekali, mengerjakan tugas di sela tugas yang lain dengan deadline-nya pada hari yang sama. Selesai satu tugas, muncul tugas berikutnya. Padahal tak diundang. Hadirnya juga bukan satu, tapi beranak. Bak pepatah mati satu tumbuh seribu. Tapi memang menantang bukan? Mengasyikkan sekali, sungguh.

Termasuk pula dalam hal politik kampus, kita punya kebebasan dalam menyelaminya. Ini juga merupakan letak keseruan sebagai penyandang jabatan mahasiswa. Membahas politik kampus tidak ada habisnya. Akan selalu ada pihak yang pro, kontra, bahkan netral dengan pasangan-pasangan yang diadukan.

Adalah KPR, Komisi Pemilihan Raya yang berwenang untuk membantu kita dalam menentukan wakil rakyat. Bukan hanya Presma, KPR juga bertugas menyeleksi anggota DPM. Tentu kita sebagai rakyat kecil mengimpikan para manusia pilihan KPR merupakan manusia yang benar berdedikasi juga bertanggung jawab dalam mengemban amanahnya.

Pernyataan tersebut menjadi patokan bahwa dalam menghadapi Pemira, KPR-lah yang kita percayai. Berpedoman pada KPR, serta yakin bahwa KPR akan bersikap adil dan makmur dalam memproses kandidat wakil rakyat kita. Segalanya kami serahkan padamu, KPR.

Bersama dengan ini pula, angan-angan kepada KPR yang terhormat semakin melambung tinggi. Harapan agar KPR melangsungkan segalanya dengan terbuka, bersih, dan menjunjung tinggi hukum transparansi. Karena apa? Kejujuran masih menjadi hal yang sangat minim di era ini. Banyak pihak yang justru melakukan kecurangan, demi suatu kepentingan yang sebenarnya jika dipikir tidak begitu penting juga. Ya, namanya juga dipenting-pentingkan. Sebenarnya untuk masalah kepentingan, semua orang pasti memiliki kepentingan. Sebab itu kepentingan disebut-sebut terbagi menjadi dua, yaitu kepentingan pribadi dan kepentingan bersama. Dalam hidup, kadang kala kita harus mengesampingkan kepentingan pribadi demi kepentingan bersama. Hanya manusia tamak yang jika dalam kondisi terdesak namun tetap keukeuh mempertahankan kepentingan pribadi. Jangan egois, dunia bukan cuma milik kamu.

Kembali pada kejujuran. Kunci kejujuran adalah komunikasi. Komunikasi yang baik akan menjelma prasangka yang baik pula. Kita tidak perlu memikirkan dugaan-dugaan yang aneh. Karena itu, sering sekali orang berkata “kalau ada apa-apa, bilang ya,” ternyata memang ‘The power of keterbukaan’ itu penting sekali dalam menjaga kepercayaan.
Mungkin kami tidak perlu tahu apa yang ada di balik layar, masalah-masalah dapur. Selain karena hal tersebut bisa jadi suatu privasi, kami juga tidak begitu tertarik meniliknya. Masih banyak yang tugas dengan deadline berturut yang menunggu untuk dituntaskan.

Tapi, setidaknya menerangkan apa yang tengah terjadi bisa memberi kejelasan. Tidak perlu alasannya, cukup apa yang terjadi. Bukan diam suara tutup mulut rapat-rapat meski rapat internal tetap dilaksanakan. Kalau begini, bisa-bisa muncul banyak spekulasi yang tidak enak baunya. Tidak mengapa jika siap menerima tuduhan-tuduhan busuk yang sebenarnya semua orang juga tidak tahu kebenarannya makanya terlontarkan. Mohon maaf. Siapa yang susah? Kita semua juga.

Namun tenang saja, kami tetap fokus dengan tugas kami yang segunung. Hanya jangan salahkan kami jika tugas sudah selesai dan kami gabut lalu tiba-tiba menggugat perihal kebungkaman ini. Jadi, Pemira alias Pemilihan Raya, jangan sampai menjadi Pemilihan Raib. Juga Komisi Pemilihan Raya, diharap bukan Komisi Pemilihan Raib.
Jangan rakus, kampus bukan cuma milik kalian, eh.[]

Penulis bernama Shahibah Alyani, mahasiswi Jurusan Teknik Geofisika, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala. Ia juga merupakan anggota aktif di UKM Pers DETaK.

Editor: Sahida Purnama