Selma Alifah | DETaK
Darussalam – Memasuki awal tahun 2022, program Pertukaran Mahasiswa Merdeka Dalam Negeri (PMM-DN) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), akan berakhir pada Januari 2022.
Farrah Saufika, salah satu mahasiswi Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala yang berasal dari Banda Aceh ini juga mengikuti program PMM tersebut. Selama lebih dari satu bulan mengikuti pembelajaran di Universitas Negeri Gorontalo, ia diperkenalkan dengan kebudayaan daerah seperti tempat-tempat bersejarah, makanan khas, dan juga acara adatnya.

“Sebenarnya sama kayak kuliah biasa di sini kan, tapi ada satu MK tambahan namanya Modul Nusantara. Nah, di Modul Nusantara ni membahas tentang kebudayaan yang ada di daerah yang kita datangi gitu. Pas tahu pulang, awalnya aku senang, karena awal-awal kayak ya nggak betah, paham kan? Tapi akhir-akhir ni kayak nggak mau pisah juga sama mereka,” jelas Farrah.
Sementara itu, Nadya Faradisi yang juga berasal dari Banda Aceh, Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Syiah Kuala, mendapat tempat di Universitas Slamet Riyadi Surakarta. Ia mengaku senang dapat pergi ke luar kota sendirian tanpa mengeluarkan biaya pribadi dan berkesempatan belajar juga merasakan lingkungan di kampus lain.
“Perasaannya sedih banget, soalnya kami di sini udah akrab dan saling deket, terus main bareng, jalan-jalan bareng. Sedih banget sih pinginnya lebih lama lagi. Dan di sini temennya seru-seru banget walaupun kami beda daerah, beda suku, dan agama. Tapi satu sisi juga kangen orang tua di rumah, kangen masakan Aceh, kangen suasana di Aceh juga,” ungkapnya.
Sebelumnya, dikutip dari laman Universitas Syiah Kuala, sebanyak 370 mahasiswa Universitas Syiah Kuala mengikuti Program PMM-DN secara luring dan daring. 123 mahasiswa yang diharuskan berkuliah secara luring pada 19 Oktober 2021, diberangkatkan dengan tujuan lima perguruan tinggi yang tersebar dalam negeri dengan harapan mahasiswa dapat belajar dan membawa pulang ilmu serta pengalaman yang berharga.
“Hal yang bikin tertekan itu terkait pencairan dana, Tapi uang itu nggak langsung cair per bulannya, jadi kami di sini kadang-kadang sekarat nggak ada lagi uang. Mau minta sama orang tua pun segan, soalnya dari awal, kan, kami sudah bilang bahwa program ini nggak ngeluarin dana pribadi sedikit pun,” kata Nadya.
Selain kegembiraan yang didapat, Nadya berharap program tersebut dapat memperbaiki sistem mengenai pencairan dana dan pemilihan mata kuliah yang jelas, agar tidak terjadi miskomunikasi antara universitas asal dengan universitas penerima terkait mata kuliah tersebut.[]
Editor: Teuku Muhammad Ridha










