Beranda Siaran Pers Digitalisasi Pemerintahan sebagai Upaya Percepatan Menuju Smart City

Digitalisasi Pemerintahan sebagai Upaya Percepatan Menuju Smart City

BERBAGI
(Dok. Panitia)

Siaran Pers | DETaK

Banda Aceh-Prodi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Syiah Kuala (USK) kembali menyelenggarakan webinar dengan tema “Digitalisasi Pemerintahan sebagai Upaya Percepatan Menuju Smart City”. Kegiaatan ini diselenggarakan melalui Zoom Meeting pada Rabu, 5 Mei 2021.

Webinar yang dibuka oleh Zahratul Idami selaku Ketua Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP USK ini menghadirkan dua pemateri yaitu Emila Sofayana, Kadisdukcapil Kota Banda Aceh, sebagai pemateri pertama dengan judul “Digitalisasi Layanan Adminduk sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik Menuju Smart City”. Sedangkan Pemateri kedua Dewi Kurniasih, Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP UNIKOM membawakan judul “Percepatan Transformasi Digital Pemerintahan Menuju Smart City: Tantangan Penerapannya”. Kegiatan ini diikuti oleh 482 peserta dari seluruh Indonesia.

Emila Sofayana sebagai pemateri pertama menjelaskan dalam salah satu pembahasannya mengenai penerapan dari digitalisasi ini memiliki langkah-langkah yang harus ditempuh.

“Dalam penerapan implementasi digitalisasi ini ada step by step yang harus kita tempuh tidak serta merta dan mempunyai proses yang panjang. Seluruh daerah melakukan pembersihan data, banyak data yang sudah nonaktif. Dalam menyiapkan sarana prasarana seperti infrastruktur lebih kompleks yang pertama yang harus dikembangkan ialah SDM. Harus mempunyai spirit, semangat dan fashion, harus memiliki kekuatan dan cinta pada IT tanpa takut tekanan,” jelasnya.

Emilia juga menjelaskan bagaimana kondisi jaringan internet yang baik sangat menentukan proses digitalisasi.

“Dan bagaimana kondisi internet dan jaringan sangat menentukan, dan kita juga merancang sesuatu seperti akte kelahiran agar bisa masuk ke rumah sakit dengan bekerja sama dan sosialisasi kepada masyarakat dan itu membuat masyarakat senang dan Disdukcapil sudah didukung oleh pusat sehingga sudah terbangun. Dan ada pengelolaan pengasuhan yang kami buat sosial media untuk memberikan harapan kepada masyarakat,” sambungnya.

Sedangkan pemateri kedua Dewi Kurniasih juga menjelaskan dari pertanyaan peserta terkait penerapan smart city.

“Terkait bagaimana smart city bisa dilaksanakan dan case study yang diambil, jika 6 indikator dijalankan secara bersamaan dikategorikan kurang baik, tetapi dalam prosesnya dilakukan evolusi. Kira-kira kebutuhan yang dibutuhkan itu seperti apa, jadi lebih baik Pemerintah Daerah memberikan prioritas yang dibutuhkan oleh pemerintah dan yang dibutuhkan dalam membangun smart city ialah budaya dan security dari setiap macam informasi yang dibangun,” jelasnya.

Webinar ditutup oleh Afrijal selaku moderator, dengan menyimpulkan hasil diskusi dan memberikan harapannya ke depan terkait terwujudnya smart city di Kota Banda Aceh.

“Harapannya ke depan, digitalisasi pemerintahan bisa diterapkan dengan baik oleh Pemerintah Daerah. Kita berharap para aparatur pemerintahan ke depan memiliki kompetensi di bidang IT sehingga percepatan transformasi pemerintahan berbasis digital bisa segera terwujud dengan baik. Terakhir, Kota Banda Aceh sebagai salah kota yang terpilih dan menjadi role model dari 100 kota smart city yang dipilih pemerintah dapat terlaksana dengan optimal,” pungkasnya.[]

Editor: Indah Latifa