Beranda Headline Ketika Bertahan Hidup Menjadi Satu-satunya Rencana di Masa Muda

Ketika Bertahan Hidup Menjadi Satu-satunya Rencana di Masa Muda

BERBAGI
Ilustrasi. (Zarifah Amalia/DETaK)

Opini | DETaK

Masa muda seharusnya menjadi ruang untuk mencoba hal baru, gagal, belajar, berkarya, bermimpi, dan menemukan jati diri. Usia ketika seseorang seharusnya memiliki cukup waktu untuk bertanya ingin menjadi apa dan kehidupan seperti apa yang ingin dibangun, dunia seharusnya terasa seperti ruang yang luas untuk dijelajahi. Namun, bagi banyak anak muda saat ini, ruang itu terasa semakin sempit.

Sebelum bertanya ingin menjadi apa, mereka harus lebih dahulu bertanya pekerjaan apa yang bisa didapat? Berapa gajinya? Apakah cukup untuk membayar tempat tinggal? Apakah cukup untuk makan? Bagaimana dengan transportasi, pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan lainnya? Pertanyaan-pertanyaan yang pada akhirnya mengaburkan keinginan akan cita-cita yang sesungguhnya.

Iklan Souvenir DETaK

Data ketenagakerjaan Indonesia menunjukkan bahwa persoalan tersebut bukan sekadar perasaan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka pada Februari 2025 sebesar 4,76%. Pada periode yang sama, rata-rata upah buruh hanya mencapai Rp3,9 juta per bulan.

Angka pengangguran memang bukan satu-satunya ukuran kesejahteraan. Seseorang yang bekerja pun belum tentu hidup dengan aman. Ketika pendapatan yang diterima sebagian besar habis untuk memenuhi kebutuhan dasar, bekerja tidak otomatis memberikan ruang untuk berkembang. Di situlah letak persoalannya. Kebanyakan penghasilan habis untuk makan, tempat tinggal, transportasi, pendidikan, dan kebutuhan dasar lainnya. Hal-hal yang seharusnya menjadi bagian dari proses bertumbuh perlahan berubah menjadi sebuah kemewahan.

Persoalannya kemudian tidak berhenti pada lapangan kerja. Kita juga sedang berbicara tentang bagaimana negara mengelola masa depan yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya. Per 30 Juni 2026, posisi utang pemerintah Indonesia mencapai Rp10.293,69 triliun atau sekitar 41,26 persen terhadap Produk Domestik Bruto. Pemerintah menjelaskan bahwa utang merupakan instrumen untuk membiayai defisit dan mendukung belanja serta pembangunan negara.

Utang negara tentu tidak dapat secara sederhana dianggap sebagai kesalahan. Yang lebih penting untuk dipertanyakan adalah bagaimana utang tersebut dikelola, ke mana manfaatnya mengalir, dan apakah pembiayaan hari ini benar-benar menghasilkan fondasi yang cukup kuat bagi generasi yang akan datang. Sebab, generasi muda bukan hanya pewaris pembangunan, mereka juga akan hidup paling lama dengan konsekuensi keputusan yang dibuat hari ini.

Jika hari ini negara mengambil keputusan yang menghasilkan beban jangka panjang, generasi muda berhak bertanya, apa yang sedang dipersiapkan untuk kami?

Pertanyaan yang sama berlaku pada lingkungan. Anak muda tidak hanya mewarisi utang dan persoalan ekonomi. Mereka juga mewarisi sungai yang tercemar, udara yang semakin buruk, hutan yang terus terdesak, serta berbagai konsekuensi dari perubahan iklim.

Padahal, kepedulian anak muda terhadap lingkungan bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh. Survei Indikator Politik Indonesia terhadap responden usia 17–35 tahun pada 2021 menunjukkan bahwa isu lingkungan mendapat perhatian besar dari kelompok muda. Sampah menjadi isu lingkungan yang paling banyak dianggap penting, disusul polusi udara, pencemaran sungai dan air tanah, perubahan iklim, serta banjir. Sebanyak 68 persen responden juga meyakini bahwa krisis iklim disebabkan oleh aktivitas manusia.

Artinya, anak muda memahami bahwa mereka akan hidup bersama konsekuensi kerusakan lingkungan yang terjadi hari ini. Tetapi, suara generasi yang akan hidup paling lama di masa depan sering kali berhadapan dengan kepentingan ekonomi yang bekerja dalam jangka pendek. Sumber daya alam terus menjadi bagian dari mesin pertumbuhan, sementara pertanyaan tentang siapa yang akan menanggung biaya ekologisnya di masa depan tidak selalu mendapatkan perhatian yang sama.

Di satu sisi, anak muda diminta memikirkan masa depan. Di sisi lain, masa depan itu sendiri perlahan dipersempit oleh keputusan yang dibuat hari ini. Bahkan ketika seorang anak muda masih berusaha melawan keadaan dengan belajar, membaca, dan memperluas pikirannya, akses terhadap pengetahuan pun tidak selalu berada dalam kondisi yang ideal.

Efisiensi anggaran mungkin terdengar seperti istilah administratif yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun, dampaknya dapat terasa pada hal-hal yang sangat sederhana, kesempatan mendapatkan buku, koleksi perpustakaan, program literasi, dan berbagai fasilitas pengetahuan.

Pada 2025, Perpustakaan Nasional mengalami efisiensi anggaran sebesar Rp279,86 miliar atau 38,78 persen dari pagu awal. Perpusnas menyatakan layanan publik tetap berjalan, tetapi juga mengakui bahwa efisiensi tersebut berdampak signifikan terhadap jumlah pengadaan bahan pustaka. Ironisnya, ketika anak muda dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi agar mampu bersaing di dunia kerja, ruang untuk memperoleh pengetahuan justru harus berhadapan dengan keterbatasan anggaran.

Inilah yang membuat persoalan masa muda hari ini tidak cukup dijelaskan dengan kalimat “anak muda harus bekerja lebih keras”. Masalahnya adalah, seberapa lama seseorang dapat terus bekerja keras jika seluruh energinya digunakan untuk sekadar bertahan hidup?

Bukan berarti pemerintah adalah satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas setiap kesulitan yang dialami anak muda. Ekonomi adalah persoalan yang kompleks, dan banyak faktor berada di luar kendali satu pemerintahan. Namun, negara memiliki tanggung jawab besar dalam menciptakan kondisi yang memungkinkan warganya hidup, bekerja, belajar, dan berkembang secara layak.

Karena itu, yang patut dipertanyakan bukan sekadar apakah pemerintah memiliki banyak program atau seberapa sering masa depan anak muda disebut dalam pidato dan kebijakan. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kebijakan yang dibuat benar-benar memperluas kesempatan anak muda untuk memiliki masa depan?

Karena janji tentang masa depan tidak akan berarti jika kesempatan untuk mencapainya semakin sempit. Anak muda tidak meminta hidup yang mudah. Mereka hanya ingin memiliki cukup ruang untuk menjadi muda. Ruang untuk mencoba sesuatu tanpa takut bahwa satu kegagalan akan membuat mereka kehilangan biaya hidup, ruang untuk membaca tanpa harus terlalu lama menghitung harga sebuah buku, ruang untuk belajar tanpa terus-menerus khawatir apakah keterampilan tersebut akan segera menghasilkan uang, ruang untuk bepergian, berkarya, bertemu orang baru, dan menemukan siapa diri mereka sebenarnya.

Sebab, masa muda tidak bisa ditunda sampai keadaan menjadi lebih baik. Waktu yang habis untuk bertahan hidup tidak dapat dikembalikan oleh pembangunan apa pun. Dan mungkin, inilah bagian yang paling menyakitkan, anak muda Indonesia bukan tidak memiliki mimpi. Mereka hanya semakin sulit memiliki ruang untuk mengejarnya.

Jika negara benar-benar ingin berbicara tentang generasi emas, bonus demografi, inovasi, dan masa depan Indonesia, maka anak muda tidak cukup hanya diberi janji tentang masa depan. Mereka membutuhkan kondisi yang memungkinkan mereka untuk benar-benar menciptakannya. Karena pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya kesejahteraan anak muda hari ini, yang dipertaruhkan adalah kesempatan mereka untuk memiliki masa depan yang benar-benar dapat mereka pilih.

Penulis adalah Zarifah Amalia, mahasiswa Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Kamilina Junita Damanik