Opini | DETaK
Mendengar kata perang, terbayang di benak kita mungkin adalah tentara, senjata, bom, atau jatuhnya korban jiwa. Namun, bagi mahasiswa, perang bahkan dianggap sebagai sesuatu yang terjadi jauh dari kehidupan sehari-hari. Apalagi ketika sedang membicarakan konflik antarnegara, perang seolah menjadi urusan pemerintah dan militer yang tidak berhubungan dengan kehidupan mahasiswa.
Namun, perkembangan teknologi perlahan mengubah cara manusia dalam memahami perang dan keamanan negara. Peperangan tidak lagi hanya berlangsung untuk memperebutkan suatu wilayah, baik itu darat, laut, atau udara. Dewasa ini, ruang digital telah menjadi bagian penting dalam persaingan dan keamanan dalam suatu negara. Serangan terhadap sistem komputer, pencurian data, gangguan terhadap layanan digital, hingga serangan terhadap infrastruktur penting dapat menjadi ancaman yang berdampak luas bagi suatu negara. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak dapat dipisahkan dari geopolitik. Negara-negara di dunia semakin bergantung pada teknologi digital dalam menjalankan pemerintahan, perekonomian, komunikasi, hingga pelayanan publik. Ketika ketergantungan terhadap teknologi semakin besar, ruang siber pun menjadi salah satu arena persaingan kekuasaan dan keamanan antarnegara.

Laporan dari European Union Agency for Cybersecurity (ENISA) pada tahun 2026 menunjukkan bahwa perkembangan geopolitik turut memengaruhi aktivitas di ruang siber. Aktivitas seperti spionase siber, hacktivism, kejahatan siber, serta serangan terhadap sektor-sektor penting menjadi bagian dari ancaman yang perlu diperhatikan. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi tidak lagi hanya digunakan untuk mempermudah kehidupan manusia, tetapi juga telah menjadi bagian dari dinamika politik dan keamanan internasional.
Lalu, di mana posisi mahasiswa dalam perubahan tersebut?
Hampir seluruh aktivitas mahasiswa saat ini tidak dapat dipisahkan dari teknologi. Mahasiswa sekarang menggunakan telepon genggam untuk berkomunikasi, laptop untuk mengerjakan tugas, internet untuk mencari bahan kuliah, dan media sosial untuk memperoleh informasi, dan berbagai aplikasi untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Bahkan, penggunaan AI juga mulai menjadi bagian dari kehidupan akademik mahasiswa. Ketergantungan pada dunia digital semakin luas tanpa disadari. Ketika terjadi gangguan atau serangan terhadap sistem digital, dampaknya dapat langsung dirasakan. Layanan pendidikan dapat terganggu, pelayanan publik tidak dapat digunakan, atau data pribadi masyarakat dapat tersebar.
Dengan demikian, persoalan keamanan siber bukan lagi sekadar persoalan yang terjadi “di internet”. Ketika kehidupan masyarakat semakin bergantung pada teknologi, keamanan ruang digital juga menjadi bagian dari keamanan kehidupan sehari-hari. Di sinilah mahasiswa perlu mulai melihat teknologi dengan cara yang berbeda.
Selama ini masyarakat umum dan mahasiswa selalu diedukasi bagaimana menggunakan teknologi dengan bijak, tetapi belum diajarkan bagaimana memahami teknologi yang berkaitan dengan politik, kekuasaan, dan keamanan negara.
Gen Z sering disebut sebagai generasi yang dekat dengan teknologi. Hampir setiap hari teknologi digunakan, mulai dari sejak bangun tidur hingga kembali tidur. Namun, dekat dengan teknologi belum tentu berarti memahami teknologi. Kita dapat dengan cepat menggunakan aplikasi baru, tetapi belum tentu mengetahui bagaimana menjaga keamanan akun sendiri. Kita dapat menggunakan AI untuk membantu menyelesaikan tugas, tetapi belum tentu memahami bagaimana teknologi tersebut dapat memengaruhi kehidupan sosial dan politik. Kita juga dapat memperoleh informasi hanya dalam hitungan detik, tetapi belum tentu mampu membedakan informasi yang benar dan informasi yang menyesatkan. Karena itu, tantangan sebagai mahasiswa hari ini bukan hanya menjadi pengguna teknologi yang semakin terampil, tetapi juga menjadi pengguna yang lebih sadar. Kita tidak harus menjadi ahli keamanan siber atau memahami seluruh istilah teknis dalam dunia digital. Namun, kita perlu memahami bahwa ruang digital telah menjadi bagian dari kehidupan sosial, politik, dan keamanan negara.
Kesadaran tersebut menjadi semakin penting karena ancaman terhadap suatu negara tidak terlihat secara langsung. Tidak semua ancaman hadir melalui senjata atau kekuatan militer konvensional. Sebagian ancaman dapat bekerja melalui ruang digital dan berdampak pada berbagai sektor yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Cyber Warfare Bukan Hanya Urusan Pemerintah
Pembicaraan mengenai cyber warfare sering kali dianggap sebagai urusan pemerintah, militer, atau lembaga keamanan. Padahal, dampak dari keamanan siber dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat luas, termasuk mahasiswa. Mahasiswa merupakan bagian dari generasi yang nantinya akan mengisi berbagai bidang pekerjaan. Ada yang menjadi birokrat, peneliti, pengusaha, guru, jurnalis, tenaga kesehatan, pengembang teknologi, maupun profesi lainnya. Hampir semua bidang tersebut berhubungan langsung dengan teknologi digital. Karena itu, pemahaman mengenai keamanan siber tidak seharusnya hanya dimiliki oleh mereka yang bekerja di bidang teknologi. Mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu juga perlu memahami bahwa keamanan digital merupakan persoalan bersama. Kampus dapat menjadi salah satu ruang untuk membangun kesadaran tersebut.
Pembahasan mengenai cyber warfare tidak harus diberikan dalam bentuk materi teknis tentang cara kerja serangan siber. Kampus juga dapat mengajarkan bagaimana mahasiswa menjaga keamanan data pribadi, memahami risiko penggunaan teknologi, mengenali informasi yang menyesatkan, serta memahami hubungan antara perkembangan teknologi dengan politik dan keamanan global.
Pada akhirnya, cyber warfare bukan hanya cerita tentang serangan komputer antarnegara. Isu tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah cara kita dapam memahami perang, keamanan, dan kekuasaan dalam hubungan internasional. Bagi mahasiswa, perubahan tersebut menjadi pengingat bahwa dunia yang akan kita masuki setelah lulus dari bangku kuliah adalah dunia yang semakin bergantung pada teknologi. Oleh karena itu, menjadi generasi digital bukan hanya soal mampu menggunakan teknologi. Namun tentang memahami bagaimana teknologi dapat menjadi bagian dari politik, keamanan, dan persaingan dunia. Sebab, jika generasi muda hanya menjadi pengguna, kita akan selalu berada di belakang perkembangan teknologi. Akan tetapi jika kita mulai memahami, belajar, dan ikut terlibat dalam pembicaraan mengenai keamanan digital, setidaknya kita tidak menjadi penonton ketika masa depan keamanan digital Indonesia sedang dibentuk.
Penulis bernama Oviola Syalsa Ramadhina, Mahasiswi Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Zikni Anggela










