Opini | DETaK
Memasuki gerbang perguruan tinggi, para mahasiswa baru biasanya dipenuhi antusiasme tinggi untuk segera menempuh pendidikan di bangku kuliah jurusan impian mereka. Hal ini mendongkrak ekspektasi besar mengenai dinamika akademis yang akan mereka jalani selama kurang lebih empat tahun ke depan. Dunia kampus dibayangkan sebagai lingkungan akademis yang dinamis, penuh diskusi intelektual, dan diampu oleh dosen-dosen atau guru besar berpengalaman yang siap membimbing mereka. Bayangan ini kian menggebu ketika narasi orientasi kampus di awal semester dipenuhi jargon kemandirian, kebebasan berpikir, serta janji-janji manis tentang atmosfer pembelajaran yang terbuka.
Namun, setelah euforia masa orientasi usai dan kelas reguler dimulai, mahasiswa baru justru dihadapkan pada realitas yang tak seindah bayangan. Banyak mahasiswa baru yang awalnya mengira kuliah itu hanya seputar kebebasan tidak memakai seragam, bebas ber-OOTD (Outfit of the Day), atau jam masuk yang tidak sepadat saat sekolah. Sayangnya, ekspektasi menyenangkan itu berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan. Perbedaan paling menohok yang dirasakan mahasiswa baru adalah ketika mereka menjumpai oknum dosen yang suka menghilang tanpa kejelasan alias ghosting. Hal ini sangat bertolak belakang dengan pengalaman sekolah menengah, di mana guru senantiasa mengingatkan tugas, mengejar, dan aktif mencari siswa. Di perguruan tinggi, alurnya berbalik total mahasiswalah yang harus aktif mencari dan mengejar dosen.

Menghilangnya dosen bagi mahasiswa tingkat akhir yang sedang mengerjakan skripsi mungkin sudah menjadi makanan sehari-hari yang ditanggapi dengan kepasrahan. Namun, bagi mahasiswa baru yang sedang tertatih-tatih beradaptasi dengan sistem perkuliahan, menghadapi ketidakjelasan dari dosen pengampu dapat menjadi bentuk culture shock yang cukup memukul mental dan membuat hilang arah.
Bentuk ghosting ini hadir dalam berbagai variasi yang kerap menguji kesabaran. Mulai dari pembatalan kelas secara mendadak lima menit sebelum kelas dimulai hingga pesan WhatsApp yang hanya menunjukkan centang dua abu-abu tanpa balasan berhari-hari. Tak jarang, mahasiswa yang sudah duduk rapi di kelas dengan pakaian terbaiknya terpaksa gigit jari karena dosen mendadak memiliki agenda lain tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Kondisi seperti ini tentu melahirkan kekecewaan mendalam bagi mereka yang sudah meluangkan waktu dan tenaga untuk hadir tepat waktu.
Mengapa hal ini menjadi persoalan besar bagi mahasiswa baru?
Seperti yang disinggung di awal, mahasiswa baru masih berada dalam fase transisi dan adaptasi. Di sekolah menengah, peran guru sangat proaktif dalam menuntun, mengajar, mengingatkan tugas, serta mendampingi seluruh kegiatan siswa. Ketika berpindah ke jenjang perguruan tinggi, mahasiswa baru memang dituntut mandiri. Namun, mandiri bukan berarti dibiarkan berlayar tanpa kompas di tengah samudra akademis. Ketika mahasiswa baru berusaha membangun komunikasi yang baik untuk menanyakan tugas, materi, atau konsultasi perubahan KRS (Kartu Rencana Studi), sikap tidak responsif dosen justru memicu kecemasan, ketakutan mengambil langkah, hingga krisis kepercayaan diri. Mahasiswa baru kerap merasa ketidakbalasan pesan tersebut terjadi akibat kesalahan etika mereka sendiri, padahal sumber masalahnya ada di pihak luar.
Fenomena ini pada akhirnya menciptakan standar ganda yang cukup meresahkan di lingkungan kampus. Mahasiswa dituntut untuk selalu profesional mengumpulkan tugas sebelum deadline, hadir tepat waktu, dan mematuhi segala aturan ketat. Namun, ketika oknum dosen dengan mudahnya bersikap tak acuh, seperti membatalkan kelas mendadak tanpa rasa bersalah atau mengabaikan janji secara sepihak, sehingga terjadilah ketimpangan profesionalisme yang nyata antara mahasiswa dan pendidik. Ketidakseimbangan relasi kuasa ini membuat mahasiswa merasa tidak berdaya dan terpaksa menerima keadaan tanpa bisa menyuarakan keluhan mereka secara terbuka.
Tentu saja, kita tidak bisa melihat masalah ini secara sepihak dan langsung menuding dosen sebagai pihak yang tidak peduli. Dosen di perguruan tinggi memikul beban Tri Dharma Perguruan Tinggi yang tidak ringan mengajar, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat. Belum lagi tumpukan urusan administratif kampus, rapat kelembagaan, serta beban struktural yang sering kali menyita waktu di luar jam mengajar. Beban kerja yang begitu padat ini tak jarang membuat energi dan fokus dosen terbelah di antara sekian banyak prioritas.
Namun, sesibuk apa pun seorang dosen, hal itu tidak seharusnya dijadikan pembenaran untuk bersikap tak acuh kepada mahasiswa. Sebagai pendidik, komunikasi yang transparan dan bertanggung jawab adalah bagian mendasar dari keprofesionalan. Seandainya dosen memang berhalangan hadir atau belum sempat membalas pesan, sepatah kata pemberitahuan singkat atau setidaknya pesan otomatis tentu sudah cukup untuk memberikan kepastian dan menghargai waktu mahasiswa yang sudah menunggu.
Lantas, bagaimana mahasiswa baru harus menyikapi kondisi ini?
Bagi para mahasiswa baru, penting untuk memahami bahwa ghosting akademis bukanlah akhir dari segalanya dan bukan alasan untuk berkecil hati. Mahasiswa baru perlu menguasai etika dan teknik komunikasi profesional sejak dini. Mengetahui waktu yang tepat untuk menghubungi, menggunakan tata krama penulisan yang santun, serta memperkenalkan diri dengan identitas yang jelas adalah langkah awal yang sangat krusial. Jika pesan tak kunjung dibalas dalam jangka waktu lama, lakukan follow-up secara berkala dengan jeda waktu yang wajar dan bahasa yang tetap hormat. Selain itu, mahasiswa baru juga perlu mengoptimalkan peran ketua kelas (komlas) atau mengontak sekretariat departemen jika menyangkut kepentingan kelas secara umum.
Pada akhirnya, ruang perkuliahan adalah sebuah ekosistem akademis yang harus dibangun atas dasar saling menghargai. Mahasiswa baru dituntut untuk bertransformasi menjadi pribadi yang dewasa dan mandiri, tetapi dosen dan institusi kampus juga memiliki kewajiban moral untuk memberikan teladan nyata dalam berkomunikasi dan bertindak profesional. Jangan biarkan semangat belajar mahasiswa baru padam begitu saja hanya karena mereka terus-menerus digantungkan oleh janji dan ketidakpastian. Kampus harus kembali menjadi tempat yang ramah, di mana suara, usaha, dan pertanyaan mahasiswa selalu menemukan ruang untuk didengar dan dihargai.
Penulis bernama Putri Azkia Syakira, Mahasiswi Program Studi Akuntansi , Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Zalifa Naiwa Belleil










