Beranda Opini Buku Atau Belanja? Ketika Pajak Ikut Menentukan Pilihan

Buku Atau Belanja? Ketika Pajak Ikut Menentukan Pilihan

BERBAGI
Ilustrasi. (Qatrunnada [AM]/DETaK)

Opini | DETaK

“Buku adalah jendela dunia.” Sejak kecil kalimat itu cukup akrab terdengar di telinga kita. Bukan tanpa alasan buku diibaratkan sebagai jendela dunia. Melalui buku, kita dapat melihat apa yang kita inginkan, dan bebas berimajinasi tanpa memiliki batasan. Buku bukan hanya benda mati dengan tulisan atau gambar di dalamnya, melainkan ruang tempat pengetahuan, pemahaman, dan imajinasi berkembang. Buku juga dapat menjadi rumah bagi orang-orang yang hendak melarikan diri dari realitas. Karena melalui buku, kita dapat dengan bebas menjadi apapun yang kita inginkan. Namun, mengapa daya tarik dan literasi di Indonesia masih tergolong rendah?

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, bahwa Tingkat Gemar Membaca (TGM) masyarakat Indonesia meningkat hingga menyentuh angka 72,44 pada tahun 2024. Dari data tersebut dapat terlihat bahwa rakyat Indonesia sebenarnya memiliki daya tarik membaca yang cukup tinggi. Harga buku yang semakin mahal akibat tingginya pajak menjadi salah satu kendala yang dihadapi pembaca. PMK Nomor 5/PMK.010/2020, pajak buku dengan kategori umum dikenai PPN sebesar 12% dan 0% untuk buku pelajaran umum, kitab suci, dan buku pelajaran agama.

Iklan Souvenir DETaK

Faktor ekonomi juga menjadi alasan mengapa harga buku yang tergolong mahal menjadi pertimbangan sebagian pembaca, ‘sepertinya lebih baik aku memenuhi kebutuhan yang lain daripada membeli buku,’ atau ‘membaca kan bisa lewat handphone, kayaknya beli buku bisa nanti dulu, deh.”

Bahasa sekarang tuh disebutnya, “in this economy, ini tuh ngga worth it ah.” Maka, dengan mempertimbangkan ekonomi yang terasa semakin sulit, membeli buku bukan lagi menjadi prioritas utama. Banyak hal yang terasa jauh lebih penting dan menarik untuk dibeli. Bahkan, pembelajaran di sekolah mulai sedikit demi sedikit tidak lagi menggunakan buku, metode pembelajaran yang lebih ringkas dan efektif menjadi pilihan alternatif. Lalu, apa dampak jika minat membaca semakin memudar? 

Memudar atau rendahnya minat membaca berdampak pada penurunan kualitas berpikir. Sehingga kita tidak lagi menyaring informasi, tapi menerimanya secara mentah. Akibatnya, kita dengan mudah menerima berita palsu yang tersebar dengan cepat di media sosial. Sulit berkonsentrasi juga menjadi dampak yang cukup sering terjadi terutama di kalangan generasi muda. Kebiasaan scrolling membuat otak dengan cepat terbiasa menerima informasi yang pendek dan bersifat instan. Dampak yang terjadi yaitu miskinnya kosakata, sehingga seseorang sulit berkomunikasi secara lisan maupun tulisan. 

Lalu, bagaimana cara mengatasinya? meminjam buku ringan dari perpustakaan, lalu menentukan waktu membaca, tidak perlu waktu yang panjang. Cukup 10 atau 15 menit sebelum tidur, sehingga jadwal membaca buku perlahan-lahan mulai terbentuk. Sedikit demi sedikit naikkan lagi waktu membaca. Terasa sulit pada awalnya, namun konsisten dan niat yang tinggi semakin membentuk kebiasaan membaca. Nah, lalu bagaimana agar kita tidak hanya membaca, namun juga dapat berpikir kritis? Yaitu dengan cara menganalisis bacaan lalu mengevaluasinya.

Setelah mengetahui dampak dan fungsi dari membaca buku, pasti tidak sedikit dari kita mulai merasa tertarik untuk membaca buku, walaupun dengan keluhan yang sama, ‘aku mau-mau aja baca buku, tapi harganya kan memang mahal banget cuma untuk sekali baca.’

Untuk itu perpustakaan di wilayah kita masing-masing sudah memiliki buku-buku yang cukup memadai, jadi kita dapat menabung sedikit demi sedikit untuk membeli buku. Lalu, bagaimana dengan protes ‘enggak harus baca buku kok, di smartphone juga masih bisa membaca.‘ Daya konsentrasi saat kita membaca melalui smartphone dan melalui buku itu jelas berbeda. Saat membaca melalui buku otak kita dapat lebih mudah masuk ke mode pemahaman penuh karena minimnya gangguan. Sementara itu, smartphone cenderung memiliki terlalu banyak distraksi sehingga konsentrasi kita terpecah.

Namun, perlu diketahui bahwa membaca melalui smartphone tetap memiliki kelebihannya sendiri. Misalnya, kita dapat dengan mudah mengakses bacaan tersebut, dan membaca terasa jauh lebih menyenangkan dengan menyesuaikan tampilan. Jadi, membaca buku itu bukan berarti kita harus menutup mata pada perkembangan teknologi. Hanya saja membaca buku melatih kembali kemampuan fokus yang mulai berkurang karena kita sudah terlalu sering menerima informasi secara instan. Kemudahan itu membuat kita lupa untuk mencari lebih dalam. Namun kembali lagi, di tengah ekonomi yang sedang sulit ini, membaca buku digital dapat menjadi solusi terbaik.

Pada akhirnya, pergeseran dari buku fisik ke buku digital bukan lagi menjadi sebuah ancaman terhadap kebiasaan membaca. Bagaimana kita tetap mendapatkan akses terhadap bacaan dengan harga yang terjangkau adalah hal yang paling penting agar kebiasaan membaca tetap dapat dipertahankan. Program peminjaman dan pertukaran buku, serta penyediaan buku digital legal dengan harga yang lebih murah dapat menjadi solusi. Dengan demikian, kita tidak harus meninggalkan kebiasaan membaca buku hanya karena harga buku fisik yang semakin sulit dijangkau. Dengan seperti itu, kita mendapatkan dua keuntungan sekaligus. Kebutuhan pokok tetap terpenuhi, membaca juga tetap dijalani. 

Penulis bernama Qatrunnada [AM], Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Zalifa Naiwa Belleil