Beranda Headline Isu SARA Nodai Pemira Unsyiah 2018

Isu SARA Nodai Pemira Unsyiah 2018

BERBAGI
Ilustrasi Pemira. (Fazrina Nabillah | DETaK)

Dhenok Megawulandari | DETaK

Darussalam – Pemilihan Raya (Pemira) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) 2018 telah berlansung pada Rabu, 12 Desember 2018. Pesta demokrasi bagi mahasiswa Unsyiah tahun ini tak luput dari oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang menyebarkan isu suku, agama dan ras (SARA) di media sosial.

SARA ialah berbagai pandangan dan tindakan yang didasarkan pada sentimen identitas yang menyangkut keturunan, agama, kebangsaan atau kesukuan, dan golongan dengan melibatkan kekerasan, diskriminasi, dan pelecehan yang didasarkan pada identitas diri dan golongan. Tindakan ini melecehkan kemerdekaan dan segala hak-hak dasar yang melekat pada manusia. Isu SARA sangat rentan dimainkan untuk merebut suara pemilih yang berdampak pada timbulnya perpecahan dan keresahan mahasiswa.

Iklan Souvenir DETaK

 

Beberapa unggahan media sosial yang mengandung SARA. (Dok. DETaK)

 

Beberapa akun yang muncul menyinggung perihal kedudukan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di Unsyiah harus dipegang oleh orang “lokal” karena Unsyiah merupakan Jantong Hatee Rakyat Aceh.

Hal ini memicu tanggapan dari mahasiswa, bahwa mencalonkan diri sebagai Ketua BEM Unsyiah adalah hak dari seluruh mahasiswa Unsyiah, seperti yang diutarakan oleh Syafri, salah satu mahasiswa Fakultas Pertanian (FP).

“Saya pribadi tidak setuju, karena semua mahasiswa Unsyiah berhak mencalonkan diri sebagai Ketua BEM Unsyiah selama memenuhi kriteria,” bantahnya.

Senada dengan Syafri, Rahmadi mengutarakan bahwa calon boleh berasal dari mana saja selama ia dapat memajukan Unsyiah.

“Mungkin sebagian orang berpandangan bahwa Unsyiah ini Jantong Hatee Rakyat Aceh, maka sebagian orang mungkin berpikir baiknya begitu (pemimpin lokal). Tetapi kalau saya pribadi, selama dia bisa memajukan Unsyiah, kenapa tidak?” tutur Rahmadi yang merupakan mahasiswa Fakultas Teknik (FT).

Dalam kasus ini, Alfan selaku anggota Komisi Pemilihan Raya (KPR) turut angkat suara. Kasus ini dianggapnya merupakan tugas bersama untuk mencari siapa oknum dibalik akun penyebar isu SARA tersebut.

“Kita sama-sama cari siapa pelakunya, kalau memang tahu, pasti kami (KPR) proses. Makanya sama-sama kita cari tau siapa sebenarnya yang membuat Unsyiah menjadi hancur (rasis), ini mungkin salah satu penyebab kenapa Unsyiah majunya lamban. Makanya, kita (mahasiswa) menjadi satu untuk sama-sama mencari pelakunya,” tutupnya.[]

Editor: Fazrina Nabillah