Artikel | DETaK
Pada tanggal 17 April 1975, jalanan Phnom Penh dipenuhi dengan gemuruh tentara berseragam hitam, Khmer Merah. Ribuan penduduk menyambut mereka dengan lega karena mereka mengira perang saudara telah berakhir. Namun yang terjadi bukanlah perdamaian, melainkan awal dari kengerian yang tidak pernah mereka bayangkan. Dalam hitungan hari, seluruh kota dikosongkan. Rumah, toko, sekolah, bahkan rumah sakit harus ditinggalkan. Bayi-bayi yang baru lahir dibawa bersama ibu mereka ke luar kota. Pasien yang sakit dipaksa meninggalkan tempat tidur rumah sakit mereka, hanya untuk menghadapi kematian di jalanan atau di ladang kerja paksa. Inilah yang disebut Pol Pot sebagai “Tahun Nol” , titik nol dalam sejarah Kamboja yang ia impikan untuk menjadi masyarakat tanpa kelas, tanpa uang, tanpa agama, dan tanpa pendidikan modern.
Menurut Kiernan (2008), Pol Pot dan Khmer Merah terobsesi untuk menciptakan masyarakat agraris murni, dengan cara melenyapkan semua elemen masyarakat lama, termasuk kaum intelektual, pejabat pemerintah, dan orang-orang beragama. Mereka memandang siapa saja yang berpendidikan tinggi, fasih berbahasa asing, atau bahkan berkacamata sebagai ancaman bagi revolusi. Orang-orang ini ditangkap dan dibunuh tanpa diadili.

Salah satu tempat yang menjadi simbol kekejaman ini adalah Penjara S-21 atau Tuol Sleng. Dulunya merupakan sekolah menengah di pusat kota Phnom Penh, bangunan itu diubah menjadi pusat penyiksaan dan interogasi sistematis. Chandler (1999) mencatat bahwa dari sekitar 14.000 tahanan yang ditahan di S-21, hanya 12 orang yang selamat. Para tahanan dipaksa mengakui kejahatan yang tidak mereka lakukan melalui penyiksaan kejam: dipukul dengan batang baja, disetrum, dicelupkan ke dalam air mendidih, atau dicabik-cabik dengan alat logam. Banyak di antara mereka yang akhirnya “mengaku” sebagai mata-mata CIA atau KGB, meskipun mereka tidak tahu apa itu CIA atau KGB.
Setelah diinterogasi, para tahanan biasanya dikirim ke Choeung Ek, salah satu dari ratusan “ladang pembantaian” yang tersebar di seluruh Kamboja. Di sana mereka dieksekusi dan dikubur di kuburan massal. Bukan dengan peluru (yang menurut rezim itu terlalu mahal) tetapi dengan kapak, linggis, atau galah bambu. Salah satu tempat yang paling memilukan adalah “Pohon Pembantaian”, pohon besar di dekat lubang pembantaian anak-anak. Para penjaga Khmer Merah menggendong bayi atau anak kecil, lalu membenturkan kepala mereka ke batang pohon hingga mereka mati. Menurut Chandler (1999), tindakan ini tidak hanya dimaksudkan untuk membunuh, tetapi juga untuk mencabut “akar” generasi yang dianggap berbahaya.
Di luar pembantaian langsung, puluhan ribu lainnya meninggal karena kerja paksa, kelaparan, dan penyakit. Makanan sangat terbatas, dan kebanyakan orang hanya diberi bubur encer sekali sehari. Kiernan (2008) menyatakan bahwa antara 500.000 hingga 1 juta orang meninggal bukan karena dibunuh, melainkan karena kelaparan dan kekurangan gizi yang sengaja dilakukan oleh sistem. Kondisi kerja sangat keras, mulai dari pukul 4 pagi hingga malam tanpa istirahat, dan mereka yang tampak lemah sering kali langsung dibunuh karena dianggap tidak berguna.
Kelompok minoritas seperti Vietnam, Muslim Cham, dan etnis Tionghoa juga menjadi sasaran pembantaian sistematis. Heuveline (2001) menegaskan bahwa ini adalah bentuk genosida: pembantaian berdasarkan etnis, budaya, dan kepercayaan. Suku Cham, misalnya, dilarang berdoa, membaca Al-Qur’an, atau berbicara dalam bahasa mereka sendiri. Mereka yang melanggar dipaksa makan daging babi atau dibunuh di tempat.
Kekejaman Khmer Merah juga menyasar kader-kadernya sendiri. Dalam paranoianya yang semakin meningkat, Pol Pot mencurigai siapa pun sebagai pengkhianat. Menurut Kiernan (2008), ribuan kader senior Khmer Merah dibunuh dalam pembersihan internal. Bahkan mereka yang sebelumnya menjadi tangan kanan Pol Pot pun tak luput dari kecurigaan dan eksekusi.
Baru setelah Khmer Merah tumbang pada tahun 1979 akibat intervensi militer Vietnam, dunia benar-benar menyadari skala tragedi yang terjadi. Saat itu, lebih dari dua juta orang, sekitar 21–24% dari populasi Kamboja saat itu telah meninggal. Banyak negara yang sebelumnya mendukung atau bungkam terhadap Khmer Merah mulai mengubah pendirian mereka. Pengadilan Internasional dibentuk untuk mengadili para pelaku kejahatan terhadap kemanusiaan. Salah satu tokoh kunci yang diadili adalah Kaing Guek Eav atau “Duch,” kepala penjara S-21, yang akhirnya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.
Hingga kini, masyarakat Kamboja masih hidup dalam bayang-bayang sejarah kelam tersebut. Trauma yang ditinggalkan tidak hanya tertanam dalam tubuh para penyintas, tetapi juga dalam budaya kolektif generasi muda. Banyak anak muda yang tidak tahu pasti siapa yang membunuh kakek-nenek mereka, karena banyak pelaku kini hidup bebas, bersembunyi sebagai warga negara biasa.
Museum Tuol Sleng dan Killing Fields merupakan tempat pendidikan dan refleksi bagi dunia agar tragedi seperti ini tidak terjadi lagi. Di banyak tempat, Caranya, rezim Khmer Merah bukan hanya menciptakan neraka di bumi, tetapi menjadikannya sistematis dan legal dalam kerangka kekuasaan. Sebuah kejahatan yang tidak hanya merugikan tubuh manusia, tetapi juga menghancurkan kemanusiaan itu sendiri. Kamboja menjadi Saksi bisu bahwa dalam nama ideologi, manusia bisa berubah menjadi monster. Dan sejarah ini, sesakit apa pun, harus terus diceritakan.
Penulis bernama Raisa Amanda, Mahasiswi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala.
Editor : Rimaya Romaito Br Siagian

![[DETaR] Perdebatan 20 VS 8 Rakaat](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/04/Afdila-Maisarah--238x178.png)




![[DETaR] Perdebatan 20 VS 8 Rakaat](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/04/Afdila-Maisarah--100x75.png)



