Rinatul Mauzirah | DETaK
Bulan Ramadan merupakan bulan yang suci dengan berbagai macam keutamaannya. Salah satu keutamaan bulan Ramadan adalah pahala dilipat gandakan sampai 700 kali lipat. Hal ini sesuai dengan Hadist Qudsi yang diriwayatkan oleh Muslim ra. “Setiap amal manusia akan diganjar kebaikan semisalnya sampai 700 kali lipat. Allah berfirman: ‘kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya,’” (HR. Muslim no.1151). Oleh karena itu, semua orang berlomba-lomba untuk malakukan kebaikan di bulan Ramadan dan i’tikaf menjadi pilihan ibadah kebanyakan orang.
I’tikaf berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata ‘akafa yang artinya menetap. I’tikaf merupakan salah satu ibadah sunnah yang dilakukan dengan cara menetap (berdiam diri) di dalam masjid disertai syarat-syarat dan rukun-rukun tertentu. Rukun pertama dalam melakukan I’tikaf adalah niat. Sebagaimana dengan amalan kebaikan lainnya, bahwa segala sesuatu itu tergantung (diawali) dengan niat. Niat ketika hendak beri’tikaf yaitu “sahaja aku i’tikaf di dalam masjid karena Allah Ta’ala”.

Tidak hanya di bulan Ramadan, i’tikaf juga bisa dilakukan di bulan lainnya. Akan tetapi, bulan Ramadan merupakan kesempatan bagi kebanyakan orang untuk beri’tikaf. Dimana, sekali kita beri’tikaf di bulan Ramadan, maka Allah akan menggandakan pahala i’tikaf sampai 700 kali. Dalam bulan lainnya, kecuali bulan Rajab dan Syaiban, setiap amalan kebaikan hanya dilipat gandakan sampai 10 kali lipat. Hal inilah, yang menjadi penyebab kebanyakan umat islam melaksanakan i’tikaf di bulan suci ini.
Sementara itu, melakukan I’tikaf berarti mengikuti sunnah yang ditelandankan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah selalu beri’tikaf di bulan Ramadan, yaitu pada 10 hari terakhir di bulan Ramadan. Hal ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Dari Ibnu Umar ra, “Rasulullah melaksanakan i’tikaf 10 hari terakhir di bulan Ramadan,” (HR. Bukhari dan Muslim). Bahkan, ketika menjelang wafatnya, Rasulullah melaksanakan i’tikaf sampai 20 hari terakhir di bulan Ramadan.
Selain mengikuti sunnah Rasulullah, beri’tikaf di dalam masjid juga memiliki keutaman lainnya. Keutamaan pertama yaitu menjauhkan diri dari api neraka. Hadist Rasulullah SAW dari Ibnu Abbas ra, “barangsiapa beri’tikaf satu hari karena mengharap ridha Allah, Allah akan menjadikan jarak dirinya dengan api neraka sejauh tiga parit, setiap parit sejauh jarak timur dan barat,” (HR. Thabrani, Baihaqi dan disahihkan oleh Imam Hakim). Keutamaan kedua yaitu dijanjikan surga bagi orang yang beri’tikaf. Tidak hanya sekedar i’tikaf, tetapi tidak berbicara kecuali melaksanakan amalan kebaikan seperti shalat, zikir, dan membaca Al-qur’an, maka Allah akan mendirikan istana di dalam surga bagi yang ber’tikaf karena Allah. Terakhir, melalui i’tikaf, seseorang akan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Dengan demikian, kesempatan untuk mendapatkan kemuliaan lailatul qadar akan lebih besar peluangnya.
Sebagian pendapat juga menyampaikan tentang i’tikaf sambil tarawih. Yang mana, ketika melaksanakan shalat tarawih kita juga bisa berniat melakukan i‘tikaf di dalam masjid. Sehingga, selain memperoleh pahala shalat tarawih, kita juga bisa memperoleh pahala dari i’tikaf dengan syarat tidak diselingi oleh pembicaraan tidak berfaedah. Karena, pada dasarnya, makruh berbicara hal yang berkenaan dengan dunia di dalam masjid.[]
#30HariBercerita










