Beranda Artikel Singgah di Gubuk Penumbuk Melinjo, Mahasiswa KKN Literasi USK Kelompok 38 Kenali...

Singgah di Gubuk Penumbuk Melinjo, Mahasiswa KKN Literasi USK Kelompok 38 Kenali Denyut Ekonomi Warga Gampong Pulo U

BERBAGI
Foto bersama dengan masyarakat gampong Pulo U (01/08/2026). (Doc. Panitia)

Siaran Pers | DETaK

Indrajaya, Pidie — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Literasi Kelompok 38 Universitas Syiah Kuala (USK) berkeliling menyapa warga Gampong Pulo U, Kecamatan Indrajaya, Kabupaten Pidie, pada Kamis, 9 Juli 2026, guna menjalin keakraban sekaligus meninjau langsung aktivitas warga sehari-hari. Dalam penyusuran tersebut, rombongan mahasiswa singgah di rumah Hanisah, salah satu warga yang tengah sibuk menumbuk biji melinjo untuk diolah menjadi emping, salah satu sumber penghasilan sampingan yang cukup diandalkan masyarakat setempat. Kunjungan yang berlangsung santai namun akrab ini menjadi bagian dari upaya mahasiswa mengenal lebih dekat kehidupan sosial-ekonomi warga desa selama masa pengabdian.

Dengan mengenakan rompi merah maroon dan topi hijau khas KKN Literasi, beberapa mahasiswa ikut berbincang dan sesekali mencoba menumbuk, sambil bertanya soal proses pembuatan emping yang berjalan setiap hari. Di sela kegiatannya, Hanisah menjelaskan bahwa usaha ini berjalan lewat pola kemitraan sederhana antara warga dan pengepul. “Setiap pagi pengepul yang antar melinjo mentah ke rumah, nanti kami olah sendiri, disangrai sampai dipipihkan, sorenya baru diambil lagi sama pengepul yang sama,” ujarnya. Menurutnya, pola kerja seperti ini sudah berlangsung turun-temurun dan menjadi rutinitas harian bagi sebagian besar ibu rumah tangga di gampong tersebut. Momen kebersamaan ini diabadikan lewat swafoto bersama warga sebagai bukti kehangatan interaksi antara mahasiswa dan masyarakat gampong.

Iklan Souvenir DETaK

Prosesnya masih dikerjakan secara tradisional. Biji melinjo disangrai dengan pasir panas hingga cangkangnya matang dan mudah dikupas, lalu ditumbuk dan dipipihkan satu per satu menggunakan alat tumbuk sederhana hingga membentuk lembaran tipis. Emping kemudian dijemur di bawah matahari sampai kering dan siap dijual. Warga menerima upah Rp15.000 untuk setiap kilogram biji melinjo yang berhasil dipipihkan menjadi emping, penghasilan sampingan yang menurut Hanisah cukup membantu di tengah terbatasnya lapangan kerja di desa.

Hanisah menambahkan, pekerjaan menumbuk emping biasa dikerjakan di sela waktu luang, terutama oleh ibu-ibu yang juga mengurus rumah tangga. “Sambil momong anak atau selesai masak, kami sempatkan menumbuk. Kelihatannya gampang, tapi kalau tidak telaten hasilnya bisa hancur, tidak layak jual,” katanya. Meski terlihat sederhana, ia menegaskan setiap tahap penyangraian, penumbukan, hingga penjemuran harus dikerjakan hati-hati agar hasilnya layak jual. Ia juga mengaku senang atas kunjungan mahasiswa tersebut, sebab menurutnya tidak banyak orang luar yang meluangkan waktu melihat langsung proses pembuatan emping di rumahnya.

Kunjungan sederhana ini menjadi pengingat bahwa di balik gubuk bambu dan aroma pasir panas yang menyangrai biji melinjo, tersimpan semangat kerja keras masyarakat Gampong Pulo U dalam menjaga perekonomian keluarga. Bagi mahasiswa KKN Literasi Kelompok 38 Universitas Syiah Kuala, momen ini menjadi awal untuk membangun kedekatan dengan masyarakat sekaligus memahami kebutuhan warga agar program kerja yang dijalankan dapat memberikan manfaat nyata selama masa pengabdian di Kecamatan Indrajaya, Kabupaten Pidie.

Editor: Sara Salsabila