Beranda Biografi Biografi Pahlawan Perempuan dalam Semangat Emansipasi

Biografi Pahlawan Perempuan dalam Semangat Emansipasi

BERBAGI
Ilustrasi. (Khairunnisa Hamzah/DETaK)

Biografi | DETaK

Dalam sejarah bangsa Indonesia, perempuan memiliki peran penting yang sering kali jarang disorot. Di tengah berbagai keterbatasan, mereka tetap mampu berjuang dan memberikan kontribusi nyata bagi bangsa. Semangat emansipasi menjadi dorongan bagi perempuan untuk menunjukkan bahwa mereka memiliki hak dan kesempatan yang sama dalam berbagai bidang kehidupan. Melalui biografi para tokoh pahlawan perempuan, kita dapat memahami bagaimana perjuangan, keberanian, dan keteguhan mereka yang dapat menjadi inspirasi bagi generasi saat ini. Berikut biografi tokoh pahlawan perempuan :

Cut Nyak Dhien

Iklan Souvenir DETaK

Mungkin para pembaca sudah tidak asing dengan salah satu nama tokoh ini, yaitu Cut Nyak Dhien. Beliau merupakan salah satu tokoh yang berasal dari Aceh, terkenal akan kegigihannya dalam melawan penjajahan Belanda. Cut Nyak Dhien lahir di Lam Padang, wilayah VI Mukim Aceh Besar, pada tahun 1848. Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia, seorang uleebalang, yang juga merupakan keturunan Datuk Makhudum Sati, perantau dari Minangkabau. Datuk Makhudum Sati merupakan keturunan dari Laksamana Muda Nanta yang merupakan perwakilan Kesultanan Aceh pada zaman pemerintahan Sultan Iskandar Muda di Pariaman. Sedangkan ibunya merupakan putri uleebalang Lampageu. Keluarga Cut Nyak Dhien termasuk keluarga bangsawan yang taat agama.

Sejak kecil, ia dikenal cerdas, berani, dan tekun dalam belajar, terutama dalam pendidikan agama. Ia memperoleh semua pendidikan melalui orang tuanya maupun guru agama. Lingkungan keluarga yang mendukung membuatnya tumbuh menjadi perempuan tangguh.

Pada usia yang terbilang masih sangat muda, 12 tahun, Cut Nyak Dhien dinikahkan oleh orangtuanya pada tahun 1862 dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga, putra dari uleebalang Lamnga XIII dan mereka dikaruniai satu anak laki-laki. Mulai dari sini kisah hidup seorang Cut Nyak Dhien dimulai.

Perjuangan Cut Nyak Dien dimulai saat Perang Aceh pecah pada 26 Maret 1873. Kala itu, suami Cut Nyak Dien, Teuku Ibrahim Lam Nga, ikut bertempur melawan Belanda. Dukungan penuh dari Cut Nyak Dien menjadikan perlawanan semakin kuat.

Namun, sayangnya cobaan berat datang ketika suaminya gugur melawan penjajah Belanda di Gle Tarum pada 29 Juni 1878. Kematian Teuku Ibrahim tidak mematahkan semangat Cut Nyak Dien. Justru sebaliknya, ia bersumpah untuk terus melawan Belanda.

Selang 2 tahun kemudian, pada tahun 1880 Cut Nyak Dhien dilamar oleh Teuku Umar. Teuku Umar salah satu tokoh yang turut ikut melawan penjajahan Belanda. Pada awalnya Cut Nyak Dhien menolak, tetapi karena Teuku Umar memperbolehkannya ikut serta dalam medan perang, Cut Nyak Dhien setuju untuk menikah dengannya. Akhirnya ia dengan Teuku Umar bertarung bersama melawan Belanda. Pada pernikahan keduanya ini, Cut Nyak Dien memiliki anak yang diberi nama Cut Gambang.

Perang masih berlanjut, Teuku Umar suami Cut Nyak Dhien memiliki strategi cerdas dalam perang gerilya. Bahkan, ia sempat berpura-pura bekerja sama dengan Belanda demi mendapatkan senjata. Belanda sangat senang karena musuh yang berbahaya mau membantu mereka, sehingga mereka memberikan Teuku Umar gelar Teuku Umar Johan Pahlawan dan menjadikannya komandan unit pasukan Belanda dengan kekuasaan penuh. Teuku Umar merahasiakan rencana untuk menipu Belanda, meskipun ia dituduh sebagai penghianat oleh orang Aceh. Cut Nyak Dien berperan aktif mendukung langkah ini dan turut serta dalam setiap rencana.

Umar lalu mencoba untuk mempelajari taktik Belanda, sementara pelan-pelan mengganti sebanyak mungkin orang Belanda di unit yang ia kuasai. Ketika jumlah orang Aceh pada pasukan tersebut cukup, Teuku Umar melakukan rencana palsu pada orang Belanda dan mengklaim bahwa ia ingin menyerang basis Aceh.

Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien pergi dengan semua pasukan dan perlengkapan berat, senjata, dan amunisi Belanda, lalu tidak pernah kembali. Penghianatan ini disebut Het verraad van Teukoe Oemar (pengkhianatan Teuku Umar). Hal ini menyebabkan Belanda marah dan melancarkan operasi besar-besaran untuk menangkap Teuku Umar dan Chut Nyak Dhien.

Namun, pada 11 Februari 1899, Teuku Umar gugur di medan perang akibat tertembak peluru. Cut Nyak Dhien kembali merasakan kehilangan suaminya untuk yang kedua kali. Walaupun mengalami kesedihan akibat ditinggal suaminya, ia tetap melanjutkan perlawanan dengan memimpin pasukan kecilnya melawan Belanda di daerah pedalaman Meulaboh dan mencoba melupakan suaminya. Keteguhan hatinya membuatnya dikenal sebagai simbol kekuatan perempuan dalam sejarah Cut Nyak Dien.

Karena usia yang sudah tidak lagi muda, kekuatan fisik Cut Nyak Dhien mulai menurun dan semakin lemah. Sehingga dirinya tidak lagi gesit berlarian dari hutan ke hutan. Karena pantang menyerah, Cut Nyak Dien tetap maju dalam medan pertempuran untuk memimpin rakyat Aceh meskipun sambil ditandu. Semangatnya naik dan semakin bergejolak meskipun tubuhnya melemah. Hal ini memperlihatkan semangat pantang menyerah dari seorang perempuan.

Sayangnya, pada tahun 1907, perjuangan Cut Nyak Dien berakhir ketika pengkhianatan datang dari pengawalnya sendiri, Pang Laot Ali. Belanda berhasil menemukan lokasi persembunyiannya yang berada di Beutong Le Sageu dan menangkapnya.

Setelah ditangkap, Cut Nyak Dhien dibawa ke Banda Aceh untuk dirawat. Kemudian ia sempat ditahan di penjara bawah tanah Balai Kota Batavia (sekarang Museum Fatahillah / Museum Sejarah Jakarta), sebelum akhirnya diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat, karena ketakutan Belanda bahwa kehadirannya akan menciptakan semangat perlawanan dan juga karena ia terus berhubungan dengan pejuang yang belum tunduk.

Di tanah pengasingan, Cut Nyak Dien dikenal dengan nama Ibu Perbu karena ahli dalam agama islam. Warga Sumedang sangat menghormatinya karena ilmu agamanya yang luas dan kepribadiannya yang mulia. Meski dalam kondisi sakit dan tua, semangat perjuangannya tak pernah padam. Ia tetap menjadi panutan bagi orang-orang di sekitarnya.

Cut Nyak Dien wafat pada 6 November 1908 di Sumedang. Ia meninggal karena sakit dan usia tua. Makamnya sempat tidak diketahui, hingga akhirnya ditemukan kembali pada tahun 1959 atas inisiatif Gubernur Aceh saat itu, Ali Hasan. Makam tersebut kini menjadi tempat ziarah untuk mengenang jasa-jasanya.

Sebagai bentuk penghargaan atas jasa jasanya dalam melawan Belanda Cut Nyak Dhien diakui oleh Presiden Soekarno sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui SK Presiden RI No.106 Tahun 1964 pada tanggal 2 Mei 1964.

Nama Cut Nyak Dien kini diabadikan dalam berbagai bentuk. Sekolah, jalan, hingga instansi pemerintahan banyak yang menggunakan namanya. Ini bukti nyata bahwa perjuangannya masih dikenang dan terus hidup di tengah masyarakat Indonesia. Pahlawan Cut Nyak Dien telah menginspirasi banyak orang, khususnya perempuan Indonesia.

Penulis bernama Zalifa Naiwa Belleil, Mahasiswi Program Studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Sara Salsabila